Selasa, 26 Januari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Vaksin Perlu Didukung Kepatuhan Masyarakat Menerapkan 3M

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Nusantara , pada Kamis, 17 Desember 2020 | 03:05 WITA Tag: , ,
  Vaksinolog dr Dirga Sakti Rambe. Foto: ANTARA/Katriana


Hargo.co.id, JAKARTA – Indonesia saat ini sedang mempersiapkan Vaksinasi COVID-19 dengan mengevaluasi keamanan dan efektivitas vaksin melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM).

Vaksinolog dan Spesialis Penyakit Dalam dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc, Sp.PD menanggapi dinamika di masyarakat yang sudah tidak sabar menunggu tahapan selanjutnya dari program vaksinasi ini.

“Saya sekarang melihat kecenderungan banyak orang berspekulasi padahal ini masih berproses, Badan POM masih melakukan kajian-kajian dan tidak akan ada vaksinasi apapun sebelum izin dari Badan POM keluar. Ini adalah upaya pemerintah untuk memastikan, vaksin yang kita gunakan betul-betul aman dan efektif,” ujar dr Dirga dalam dialog Vaksin: Fakta dan Hoaks, yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Selasa (15/12).

Proses vaksinasi dinilai sebagai upaya pemerintah dalam menangani pandemi.

“Tidak benar, jika virus COVID-19 akan hilang dengan sendirinya, ada jutaan kematian akibat virus ini di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kita tidak bisa berdiam diri, ekonomi kita terpukul, bekerja juga menjadi sulit. Karena itu perlu ada upaya-upaya ekstra, yaitu protokol kesehatan harus dijalankan secara konsisten, dengan adanya vaksinasi nanti diharapkan akan membantu, karena vaksin memberi proteksi yang bersifat spesifik,” tutur dr Dirga.

BACA  Menteri Tjahjo Terbitkan SE Baru soal Penegakan Disiplin PNS, Mohon Dibaca

Terkait dengan program vaksinasi yang sedang difinalisasi Pemerintah, dr. Dirga menuturkan setiap negara punya kebijakan berbeda-beda dalam memprioritaskan warga negara mana yang lebih dulu mendapatkan vaksinasi.

Indonesia memprioritaskan tenaga kesehatan terlebih dahulu yang kesehariannya langsung merawat pasien-pasien COVID-19, dan khusus di Indonesia juga, vaksin diberikan kepada penduduk berusia 18-59 tahun. Vaksin diberikan kepada orang sehat sebagai upaya pencegahan.

“Di luar sana masih ada yang tidak antusias dengan kedatangan vaksin COVID-19 ini, padahal kelompok-kelompok yang anti vaksin ini termasuk golongan yang cukup berpendidikan. Kalau saya belum kena COVID-19, saya pasti mau divaksin langsung,” ungkapnya.

dr. Diga menegaskan vaksin merupakan instrumen penting untuk mengendalikan pandemi.

BACA  Berlangsung Ketat, 29 Pejabat di Bone Bolango Jalani Vaksinasi Covid-19

“Vaksinasi juga harus dilakukan bersamaan dengan 3M secara konsisten. Dalam mencari informasi tentang vaksin juga harus berhati-hati, carilah informasi yang terpercaya karena di luar sana banyak beredar informasi hoax yang kurang bisa dipercaya. Masyarakat harus yakin apabila sudah ada izin dari Badan POM, vaksin itu nantinya sudah dipastikan kemanan dan efektivitasnya sehingga masyarakat, tidak perlu ragu,” kata dia.

Sementara itu, COVID-19 memiliki spektrum gejala yang luas pada penderitanya, mulai dari tidak bergejala sama sekali hingga bergejala berat yang menyebabkan proses identifikasi pasien menjadi semakin sulit.

Meskipun begitu, penting untuk diketahui, baik bergejala atau tidak, semua pasien COVID-19 ini bisa menularkannya ke orang lain.

Cherryl Hatumesen penyintas COVID-19 membenarkan keterangan dr. Dirga. Cherryl merupakan salah satu yang tidak merasakan gejala berat sebelum akhirnya melakukan tes swab dan terbukti positif.

“Virus COVID-19 ini benar-benar ada, jadi sambil menunggu vaksin nanti, protokol 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak), harus dijalankan. Selain itu dalam menghadapi COVID-19 memang perlu kedewasaan diri, untuk tidak takut mengakui apabila tertular agar bisa melindungi orang-orang di sekitar kita,” serunya.

BACA  Pemda Bisa Jatuhkan Sanksi Bagi Masyarakat yang Menolak Vaksinasi Covid-19

Diakui Dirga, sebelum pandemi upaya-upaya pencegahan dari penularan penyakit memang diremehkan oleh sebagian masyarakat.

“Sebelum ini kita selalu meremehkan masalah kesehatan karena menganggap diri kuat. Sekarang setelah dirawat karena COVID-19, saya mengikuti dokter paru saya yang menyarankan mengurangi karbohidrat dan memperbanyak protein untuk meningkatkan imunitas tubuh. Masker selalu saya pakai, hand sanitizer juga tidak pernah lepas. Karena terbukti dengan menjalankan protokol 3M, teman-teman di kantor tidak ada yang tertular dari saya,” tukas Cherryl.(jpnn/hg)

#IngatPesanIbu

Memakai masker

Menjaga jarak & menghindari kerumunan

Mencuci tangan dengan sabun

 

 

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JPNN.com, dengan judul: “Vaksin Perlu Didukung Kepatuhan Masyarakat dalam Menerapkan 3M“. Pada edisi Rabu, 16 Desember 2020.

Komentar