Kamis, 30 Juli 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Wabah Korona: Warga Iran, Italia, Korsel Dilarang Masuk Indonesia

Oleh Mufakris Goma , dalam Kabar Nusantara , pada Jumat, 6 Maret 2020 | 15:05 WITA Tag:
  SEMENTARA TANPA TAWAF: Pelataran Kakbah terlihat sepi karena dibersihkan kemarin. (AMR NABIL/AP PHOTO)


Hargo.co.id – Pemerintah menutup pintu rapat-rapat untuk warga yang berasal dari negara pandemik Covid-19. Selain Tiongkok, pembatasan kini diberlakukan kepada travelers dari Iran, Italia, dan Korea Selatan (Korsel).

Sebab, di tiga negara tersebut, persebaran wabah virus korona terbilang tinggi.

Dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), kebijakan tersebut berlaku mulai Minggu (8/3) pukul 00.00 WIB. Menlu Retno Marsudi kemarin menyampaikan secara terperinci pembatasan tersebut. Menurut dia, travelers atau pendatang yang dalam 14 hari terakhir melakukan perjalanan ke Teheran, Qom, dan Gilan (Iran); wilayah Lombardi, Veneto, Emilia Romagna, Marche, dan Piedmont (Italia); serta Kota Daegu dan Provinsi Gyeongsangbuk-do (Korsel) dilarang masuk dan transit di Indonesia.

Sementara itu, yang datang dari Iran, Italia, dan Korsel di luar wilayah tersebut tetap diizinkan masuk atau transit di Indonesia dengan catatan khusus. Mereka wajib membawa surat keterangan sehat atau health certificate yang dikeluarkan otoritas kesehatan negara masing-masing. Surat keterangan tersebut harus valid atau masih berlaku dan wajib ditunjukkan kepada pihak maskapai saat check in.

”Tanpa surat keterangan sehat dari otoritas kesehatan yang berwenang, para pendatang atau travelers tersebut akan ditolak masuk atau transit di Indonesia,” tegas Menlu di kantor Kemenlu, Jakarta, kemarin (5/3).

Mereka juga wajib mengisi health alert card (kartu kewaspadaan kesehatan) sebelum mendarat. Kartu tersebut, antara lain, memuat riwayat perjalanan. Apabila pernah melakukan perjalanan dalam 14 hari terakhir ke salah satu wilayah yang di-blacklist, yang bersangkutan akan langsung ditolak.

Keputusan itu tak berlaku bagi WNI yang baru melakukan perjalanan dari tiga negara tersebut. Namun, mereka wajib mengikuti pemeriksaan kesehatan tambahan di bandara Indonesia. ”Kebijakan ini bersifat sementara, akan dievaluasi sesuai dengan perkembangan,” tutur Menlu.

BACA  Viral Foto ASN Berseragam Korpri Mirip Gamis, Budiman Sudjatmiko Bilang Begini

Menurut dia, kebijakan itu harus diambil demi kebaikan semua. Apalagi, sesuai laporan terkini WHO, terdapat kenaikan signifikan kasus Covid-19 di luar Tiongkok, terutama di tiga negara tersebut.

Penerbangan Umrah Masih Ditutup

Sekitar pukul 20.00 WIB tadi malam atau 16.00 waktu Makkah kemarin, beredar foto-foto yang menunjukkan pelataran Kakbah (mataaf) kosong. Tak ada seorang pun yang melakukan ibadah tawaf. Spekulasi pun bermunculan. Ada yang mengaitkannya dengan virus korona.

Pengosongan mataaf memang merupakan sesuatu yang langka. Kali terakhir dilakukan pada 1979. Penyebabnya saat itu adalah pemberontakan berdarah. Pada 1941, pelataran Kakbah juga pernah dikosongkan karena banjir. Banjir yang tinggi membuat tawaf tidak bisa dilakukan.

Namun, pengosongan pelataran Kakbah kemarin dilakukan hanya untuk pembersihan. Dua jam sekali pelataran dibersihkan. Karena itu, tidak ada jamaah yang melakukan tawaf. Konsul Haji KJRI Jeddah Endang Jumali membenarkan bahwa ada sterilisasi mataaf. ’’Itu lagi ta’qim atau sterilisasi di lantai bawah,’’ katanya tadi malam. Untuk sementara, lantai bawah tidak bisa digunakan jamaah untuk tawaf atau salat. Dia menjelaskan, sterilisasi itu merupakan salah satu langkah Saudi untuk mengantisipasi persebaran virus korona. Sterilisasi memakan waktu dua sampai empat jam.

Sementara itu, merujuk kalender Hijriah pemerintah Arab Saudi, musim umrah 1441 H tersisa tiga bulan lagi. Setelah itu, umrah ditutup karena masuk musim haji. Endang Jumali menuturkan, hingga kemarin belum ada kepastian apakah penerbangan umrah dibuka kembali atau tidak. Seharian kemarin beredar dua kabar yang sempat viral. Pertama, pelaksanaan haji 2020 ditutup. Kedua, kabar jamaah umrah diminta meninggalkan Arab Saudi dalam tempo tiga hari terhitung sejak 5 Maret.

Untuk memastikan kabar tersebut, Endang menghubungi Direktur Urusan Travel Umrah Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi Abdurrahman Al Segaf. ’’(Abdurrahman Al Segaf, Red) menyebutkan bahwa berita tentang diharuskannya jamaah umrah meninggalkan Arab Saudi dalam waktu tiga hari itu tidak benar,’’ tutur Endang. Dia mengatakan, jamaah umrah asal Indonesia maupun negara lain tetap diperbolehkan menjalankan ibadah umrah sampai habis masa paket perjalanan mereka. Jamaah asal Indonesia paling lama tinggal di Saudi hingga 15 Maret. Endang mengatakan, pemulangan jamaah umrah berjalan normal.

BACA  Komnas HAM Desak Polisi Penyiksa Tahanan Ditindak Pidana

Selanjutnya, kabar bahwa perjalanan umrah ditutup selama satu tahun sepanjang 2020 juga tidak benar. Sampai kemarin penerbangan kedatangan jamaah umrah memang dihentikan sementara.

Sementara itu, Kasubdit Pengawasan Umrah dan Haji Khusus Noer Aliya Fitra mengatakan, setiap hari ada penerbangan kepulangan jamaah umrah Indonesia dari Saudi. Terhitung sejak 4 Maret, jumlah jamaah umrah di Indonesia mencapai 18.589 orang. Penerbangan pemulangan paling akhir 15 Maret. Itu dengan catatan pemerintah Saudi tidak membuka kembali penerbangan kedatangan umrah.

Kedatangan paling banyak terjadi pada 4 Maret lalu sejumlah 4.763 orang. Kemudian, hari ini (6/3) dijadwalkan ada 1.931 jamaah umrah Indonesia yang pulang ke tanah air. Selanjutnya, besok (7/3) ada 2.479 jamaah umrah dipulangkan ke tanah air. Lantas, di hari terakhir pemulangan jamaah umrah ada 88 orang.

Pejabat yang akrab disapa Nafit itu mengingatkan travel atau penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) supaya tetap konsisten dengan kontrak pelayanannya. PPIU juga diminta tetap menjaga jamaah dari potensi gangguan. Kepada keluarga jamaah umrah di tanah air, Nafit meminta tetap tenang dan tidak terpengaruh kabar-kabar yang tidak benar.

RS Pulau Galang Siap Bulan Depan

Pembangunan rumah sakit (RS) di Pulau Galang segera dimulai. Bangunan yang dulu bekas lokasi penampungan pengungsi Vietnam itu bakal direnovasi menjadi RS khusus untuk menangani wabah menular. Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko menjelaskan, panglima TNI dan menteri PUPR sudah ditugaskan berangkat ke Pulau Galang untuk mematangkan rencana pembangunan RS tersebut. Targetnya, RS tersebut siap dalam waktu kurang dari sebulan.

BACA  Ini Target Presiden Jokowi untuk Komite Covid-19 & PEN

Apakah kehadiran panglima TNI menandakan renovasi dikerjakan pasukan TNI? Moeldoko mengiyakan. ’’Pastinya. Kita punya kekuatan itu,’’ terang Moeldoko di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta kemarin (5/3). Namun, dia belum menanyakan lebih lanjut perkembangannya kepada panglima TNI.

RS tersebut akan menjadi alternatif terbaik bila ada evakuasi. Meski lokasinya di Pulau Galang, akses transportasi sangat mudah. Pesawat tinggal mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam, lalu dilanjutkan perjalanan darat selama satu jam melintasi Jembatan Barelang hingga mencapai Pulau Galang.

Pemerintah juga terus mempersiapkan fasilitas perawatan pasien positif Covid-19. Saat ini 132 RS pemerintah di seluruh Indonesia telah disiapkan sebagai lokasi perawatan. ’’Tadi arahan Pak Presiden, Pak Menkes supaya menambah jumlah (RS),’’ ujar Menko PMK Muhadjir Effendy di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta kemarin. Penambahan RS itu terutama melibatkan RS-RS swasta yang memenuhi syarat. Khususnya RS tipe A. Dia mencontohkan, Muhammadiyah sudah menyiapkan 15 RS untuk lokasi perawatan pasien Covid-19. Dengan demikian, pasien bisa ditangani dengan baik sebelum dikirim ke RS rujukan.

Muhadjir sudah mengecek beberapa di antara 132 RS itu. Termasuk yang tipe B dan C. ’’Rata-rata sudah menyiapkan semuanya, termasuk simulasinya,’’ lanjut mantan Mendikbud itu. RS-RS itu juga sudah menyiapkan ruang isolasi yang baik. Termasuk standar kerja bagi para petugas medis agar tetap terlindungi saat menangani pasien positif Covid-19.

*Berita ini juga terit di jawapos.com edisi jumat 6 maret 2020


Komentar