Sabtu, 30 Mei 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Wajib Waspada, Dua ‘Monster Ganas’ Intai Gorontalo

Oleh Aslan , dalam Gorontalo Headline , pada Sabtu, 14 Maret 2020 | 12:00 WITA Tag: , , , ,
  


Hargo.co.id, GORONTALO – Kesehatan sepertinya harus jadi sektor yang benar-benar mendapatkan perhatian lebih ekstra oleh pemerintah daerah (Pemda) di Gorontalo. Mulai saat ini hingga beberapa bulan ke depan. Perhatian harus banyak ditujukan untuk langkah-langkah yang bersifat preventif dan promotif.

Pasalnya saat ini Indonesia saat ini sedang menghadapi dua monster ganas di bidang kesehatan. Yaitu penyebaran virus corona (covid 19) dan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).

Penularan virus corona memang sedang menjadi kegelisahan masyarakat tidak hanya di Indonesia. Tapi juga masyarakat di banyak belahan dunia. Sejak kasus itu terdeteksi di Wuhan China pada akhir 2019, virus Corona sudah menyebar di hampir semua Benua. Yaitu Asia, Amerika dan Australia.

Di Indonesia, pasien pertama terdeteksi positif Corona pada awal Maret. Hingga saat ini sudah ada 34 pasien yang dinyatakan positif. Dan salah satu pasien meninggal dunia. 34 pasien itu belum termasuk empat warga Banten yang diumumkan oleh Gubernur Banten Wahidin Hali, kemarin (13/3), positif terjangkit virus corona. Tiga pasien memiliki riwayat perjalanan ke Malaysia, satu pasien ke Bali.

BACA  Arab Saudi Buka Masjid Akhir Bulan Ini, Bagaimana Nasib Ibadah Haji?

“Mereka ini baru saja melakukan perjalanan, tiga (perjalanan) dari Malaysia dan satu Bali,” kata Wahidin Halim dalam keterangan resmi yang disampaikan ke wartawan di Banten, Kamis (12/03/2020) dilansir detik.com.

Menurutnya laporan 4 orang warga Banten positif corona ini berdasarkan dari laporan Dinas Kesehatan. Pasien dirawat di RSPI Sulianti Saroso dan RS Persahabatan yang jadi rujukan pasien positif corona.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Aty Pamudji mengatakan tim kesehatan saat ini langsung melakukan langkah penanganan kasus positif virus corona. Tim langsung melakukan koordinasi gabungan dan meminta dukungan ke Balai Besar Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLP) Jakarta untuk pengelolaan spesimen kontak.

Selain itu, pihaknya juga melakukan pembagian tugas di lokasi penyelidikan epidemiologi dengan dinkes kabupaten dan kota yang warganya terindikasi.

BACA  Kasus Covid-19 Masih Tinggi, DPR Kritik Rencana New Normal

Ancaman terhadap masyarakat Indonesia sesungguhnya tidak hanya datang dari virus Corona. Penularan DBD juga sangat mengkhawatirkan. Dari jumlah warga yang meninggal, kasus DBD sesungguhnya paling tinggi dari Corona. Sejak Januari-Maret 2020, total ada 78 orang dari berbagai provinsi di Indonesia yang meninggal karena kasus DBD.

Jumlah kasus DBD dengan tingkat kematian paling tinggi berada di
NTT sebanyak 37 orang meninggal. Disusul Jateng sejumlah 17 kasus kematian, dan Jabar 15 kasus kematian.

Makanya Anggota Komisi IX Kurniasih Mufidayati mengingatkan pemerintah dan masyarakat Indonesia agar tidak lupa dengan bahaya Demam Berdarah Dengoe (DBD). Pasalnya saat ini sudah ada puluhan orang yang meninggal dunia karena penyakit itu.

 

”Makanya nanti komisi IX perlu berbagi tugas siapa supervisi Covid-19, siapa supervisi DBD, saya kira pemerintah benar-benar harus sangat serius memperhatikan kesehatan masyarakat di Indonesia dari segi macam jenis virus,” katanya dilansir Jawapos.com.

BACA  New Normal di 4 Provinsi, Memang Perlu Mengerahkan TNI dan Polri

Meski di Gorontalo belum ada kasus Corona dan DBD, Sekretaris Komisi IV Deprov Gorontalo yang membidangi kesehatan La Ode Haimudin mengingatkan Pemerintah Daerah agar tetap harus waspada.

“Terkait dengan pencegahan Corona, pengawasan di setiap pintu masuk dan orang dari luar Gorontalo harus di perketat. Saya meminta peralatan deteksi suhu tubuh di setiap pintu masuk harus ada,” jelasnya. “Disamping tentu harus ada promosi gencar terhadap masyarakat berkait cara pencegahan virus corona,” jelasnya.

Sementara itu pencegahan DBD harus dimaksimalkan. Mengingat dalam iklim pancaroba saat ini sangat mendukung penularan DBD. La Ode mengatakan, kasus DBD sangat mungkin terjadi di Gorontalo. Karena kasus DBD bukan hal baru.

“Jangan sampai nanti ada kasus hingga ada yang meninggal baru bergerak. Cuma ini juga sangat tergantung kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan diri,” pungkasnya. (berbagai sumber/hg)

Loading spinner

Komentar