Senin, 17 Februari 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Warga Kurang Mampu di Provinsi Gorontalo Sisa 184.71 Ribu Jiwa

Oleh Mufakris Goma , dalam Advertorial Gorontalo , pada Kamis, 16 Januari 2020 Tag:
  

Hargo.co.id GORONTALO – Angka kemiskinan Provinsi Gorontalo kembali mengalami penurunan. Kali ini, penurunanya 0.21 persen. Hal ini disampaikan kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Ir. Herum Fajarwati, MM, Rabu (15/1/2020) di kantor BPS Provinsi Gorontalo.

Menurut Herum, angka 0.21 persen tersebut berdasarkan hasil pengurangan dari survey Maret 2019 yakni 15.52 persen dan 15.31 persen, hasil survey September 2019.

“Dari hasil survey September 2019 itu juga, angka kemiskinan diperkotaan dan pedesaan mengalami penurunan yang sama yakni 0.22 persen. Dimana, pada Maret 2019 angka kemiskinan perkotaan berada pada angka 4.21 persen, sedangkan pada September 2019 turun menjadi 3.99 persen. Sedangkan dipedesaan, Maret 2019 berada pada angka 23.79 persen dan pada September 2019 turun ke angka 23.57 persen,” ungkap Herum.

Jika angka kemiskinan turun, otomatis jumlah penduduk miskin di Gorontalo berkurang. Berdasarkan survey BPS, jumlah penduduk miskin di Gorontalo berkurang 1.32 ribu jiwa.

“Pada Maret 2019, jumlah penduduk miskin mencapai 186.03 ribu jiwa. Sedangkan di September 2019, 184.71 ribu jiwa. Jadi ada penurunan 1.32 ribu jiwa,” tandas Herum.

Lebih lanjut, Herum mengatakan, berkurangnya penduduk miskin ini ditentukan oleh garis kemiskinan (GK). Pasalnya, kata Herum, penduduk miskin adalah mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita perbulan dibawah garis kemiskinan.

“Garis kemiskinan itu sendiri terdiri dari garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan nonton makanan (GKNM),” ucap Herum.

“Garis kemiskinan Provinsi Gorontalo pada Maret 2019 sebesar Rp. 333.070 per kapita, perbulan. Sementara, pada September 2019 menjadi Rp. 353.109 per kapita perbulan, yang berarti naik sebesar Rp. 20.039 per kapita perbulan atau naik 6.02 persen,” sambung Herum.

Lebih lanjut, Herum mengatakan, penurunan angka kemiskinan ini juga diikuti dengan berkurangnya jarak antara rata-rata pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan.

“Indeks kedalaman kemiskinan kemiskinan (P1) pada September 2019 sebesar 2.612. Sebelumnya, pada Maret 2019 sebesar 2.645. Kondisi ini menggambarkan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin dekat selisihnya dengan garis kemiskinan,” jelas Herum

Sementara itu, ditempat terpisah, Kepala Biro P2E Setdaprov Gorontalo, Sagita Wartabone menyambut baik penurunan angka kemiskinan tersebut. Dirinya menilai, hal ini tidak terlepas dari intervensi berbagai program yang dilakukan baik oleh pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota.

Pihaknya menyebut survei BPS September 2019 menjadi salah satu periode terberat bagi pemerintah dan masyarakat Gorontalo. Salah satu sebabnya musim kemarau yang melanda beberapa bulan lalu.

“Hal positifnya adalah, Pemprov Gorontalo terus melakukan intervensi dengan pelaksanaan pasar murah yang dikemas dalam bentuk Bakti Sosial NKRI Peduli di tiap kecamatan. Program yang membantu mengurangi beban belanja bahan pokok warga miskin,” pungkasnya.(adv/rwf/hg)