Senin, 30 Januari 2023
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Warga Pingsan saat Berdesakan Berebut Gas Elpiji 3 Kg

Oleh Aslan , dalam Kabar Nusantara , pada Kamis, 7 September 2017 | 11:13 Tag:
  warga berebut membeli gas elpiji 3 kg di halaman Masjid Al Hijrah Bontang. Tampak seorang warga dievakuasi karena pingsan. Foto: EDWIN AGUSTYAN/KALTIM POST

Hargo.co.id BONTANG – Warga Bontang, Kaltim, harus berdesak-desakan hingga ada yang pingsan, untuk bisa mendapatkang gas elpiji 3 kilogram.

Ya, empat hari belakangan ini warga kesulitan mendapatkan elpiji ukuran melon itu. Padahal, agen mengaku jumlah pasokan tidak dikurangi.

banner 728x485

Syamsiah, warga Tanjung Laut, mengutarakan sudah tiga hari tak bisa memasak. Walhasil, dia harus mengeluarkan kocek lebih dalam karena mesti membeli makanan siap santap.

“Padahal, elpiji kan buat rakyat miskin. Tapi sekarang susah dicari,” terangnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, kemarin (6/9), Pemkot Bontang mengadakan operasi pasar di pelataran Kantor Lurah Loktuan dan halaman Masjid AL Hijrah, Tanjung Laut. Sebanyak 1.120 tabung disalurkan, sekitar pukul 09.00.

Namun, tidak semua warga kedapatan. Tak sedikit yang pulang membawa tabung kosong.

Mayoritas adalah ibu rumah tangga (IRT). Mereka kalah bersaing dengan para pria. Hal itu karena sistem pembagian yang tidak teratur.

Sambil mengangkat tabung, warga berkerumun di samping dan belakang truk pengangkut elpiji. Tidak ada antrean.

“Biar (tabung) kosong, capek juga kalau lama-lama diangkat. Saya tidak kuat,” kata Surtini, warga Tanjung Laut.

“Kalau seperti ini lebih baik saya beli saja di tempat lain biar mahal. Datang pagi-pagi juga percuma,” umpat warga lain sambil berlalu.

Diketahui, rata-rata gas 3 kilogram dijual Rp 23 ribu. Padahal, harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp 18 ribu. Dengan langkanya gas, pengecer bisa menjual sampai Rp 30 ribu.

Minimnya petugas semakin membuat suasana crowded. Petugas Sat Intelkam Polres Bontang yang awalnya hanya memantau bahkan sampai ikut naik ke truk untuk membagikan tabung.

Berbanding terbalik dengan Satpol PP yang justru terlihat hanya menonton. Hanya satu yang berada di truk.

Fatmasari, warga Bontang Baru, yang mengantre sejak pukul 07.00 pingsan. Dia mengaku sudah dua hari kehabisan gas. “Belum sarapan, langsung ke sini,” tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menuturkan, pemerintah akan meninjau ulang penyaluran gas melon tersebut. Pasalnya, ditengarai distribusinya tidak tepat sasaran.

Bontang sejatinya mendapat 16 ribu tabung, sedangkan jumlah penduduk miskin hanya 8 ribu orang.

“Warga yang mampu sebaiknya menggunakan gas 5,5 kilogram atau 12 kilogram. Gas ini (3 kilogram) kan bersubsidi,” terangnya.

Politikus Golkar itu menyebut, kemungkinan nanti penyaluran gas melalui kelurahan. Namun, hal itu akan dikaji lebih dulu. (edw/kri/k8/hg)

(Visited 5 times, 1 visits today)

Komentar