Senin, 26 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Waspada! Gangguan Jantung Mulai Merenggut Nyawa Kaum Muda

Oleh Fajriansyach , dalam LifeStyle , pada Selasa, 7 Februari 2017 | 10:08 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id – Gangguan jantung sering dikaitkan dengan usia tua. Padahal, dengan gaya hidup tidak sehat dan tingkat stres tinggi, penyakit itu juga bisa dialami pada usia muda.

BANYAK kasus gangguan jantung yang merenggut nyawa kaum muda. Bahkan, tidak sedikit yang meninggal tiba-tiba karena penyakit tersebut. Salah satu pemicu utamanya adalah stres. Gangguan itu rawan menghampiri pria usia 15–34 tahun.

Temuan tersebut dibuktikan hasil studi tim Pathobiological Determinants of Atherosclerosis in Youth (PDAY) pada 2015. Dari 2.876 responden laki-laki, 75 persen mengalami gangguan jantung. ’’Sebagian besar merupakan korban kekerasan, kecelakaan, atau pernah melakukan percobaan bunuh diri,’’ papar tim tersebut dalam jurnal yang dipublikasikan di Harvard Health Publications.

BACA  Tips Bahagia dan Sehat di Masa Pandemi dari Psikolog Yasinta

Selain itu, studi mereka menunjukkan bahwa para pengidap jantung dengan latar psikologis kurang baik cenderung memelihara pola hidup kurang baik. ’’Mereka umumnya mengalami penyumbatan pembuluh darah karena lemak, bahkan sejak usia 15 tahun,’’ tulisnya.

Perempuan juga memiliki kans menderita gangguan jantung yang tinggi. Berdasar statistik Heart Foundation, Amerika Serikat, sekitar 435 ribu perempuan mengalami serangan jantung per tahun. Sebanyak 25 persen berusia produktif atau kurang dari 50 tahun. Penyebabnya hampir sama: pola hidup kurang sehat dan stres tinggi.

BACA  Cara Baru Membakar Lemak Tubuh dengan Slimming Gel

Arthur Agatston MD menjelaskan, kebanyakan kasus gangguan jantung pada kaum muda terbilang lambat ditangani. Bukan karena pasien enggan melapor. ’’Pasien sering menganggap sepele gejala yang muncul. Padahal, frekuensinya sudah lebih dari sekali dan membentuk pattern,’’ ujarnya sebagaimana dikutip Huffington Post.

Meski gejalanya terdengar sepele, menurut ahli jantung sekaligus profesor di Herbert Wertheim College of Medicine, Florida International University, tersebut, keterangan pasien sangat membantu dalam diagnosis. ’’Sebab, keterangan seperti demam, nyeri yang dirasakan, maupun gejala lain yang dirasakan menentukan terapi yang bakal diberikan,’’ jelas Agatston.

Makin cepat ditangani, makin besar pula kans pasien terhindari dari operasi coronary artery bypass grafting atau CABG. Menurut dr Dyana Sarvasti SpKJ, tindakan itu baru diberikan sebagai opsi terakhir. ’’Pertimbangannya, sumbatan aliran darah pasien sudah sangat parah. Dengan catatan, sudah tidak bisa ditangani dengan terapi atau pemasangan ring atau stent,’’ tuturnya.

BACA  Pernah Alami Jantung Berdebar Saat Bangun Tidur? Ini Dia Penyebabnya

Dokter yang berpraktik di Surabaya itu menyatakan, pasien gangguan jantung wajib menerapkan pola hidup sehat. Selain pola makan yang bergizi imbang, latihan fisik ringan perlu dilakukan. ’’Olahraga berfungsi menjaga kebugaran sehingga tubuh lebih fit. Gangguan jantung bukan alasan untuk tidak olahraga,’’ tegas Dyana. Namun, porsi dan jenisnya perlu dikonsultasikan dengan dokter. (fam/c14/ayi/tia/hg)


Komentar