Kamis, 7 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Wow! Bayar Rp 20 Ribu untuk Parkir 10 Menit

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Rabu, 21 Juni 2017 | 12:35 Tag: , , , ,
  

GORONTALO Hargo.co.id – Persoalan parkir di Kota Gorontalo lagi-lagi menuai sorotan warga seakan tak kunjung tuntas. Kali ini terkait tarif parkir yang berlaku di pasar senggol. Selain tak dilengkapi karcis retribusi, pengenaan tarif parkir di pasar senggol dinilai terlampau mahal.

Sejatinya di Pemkot Gorontalo telah menyosialisasikan tarif khusus parkir di kawasan pasar senggol. Sosialisasi melalui baliho itu mencantumkan tarif untuk sepeda motor sebesar Rp 2.000. Becak motor (bentor) Rp 3.000, sedangkan mobil Rp 5.000.

Hanya saja di tingkat lapangan, ketentuan itu tak berlaku. Dalam hal petugas parkir, misalnya. Petugas parkir tak disertai identitas berupa kartu yang dikeluarkan instansi terkait, seragam serta karcis yang diberi porporasi. Yang ada hanyalah potongan nomor layaknya tempat penitipan barang.

Pengelolaan tersebut jauh berbeda dengan pengelolaan parkir yang ada di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Gorontalo maupun di Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS) Kota Gorontalo. Di dua lokasi tersebut, pengenaan tarif parkir mengacu pada Perda nomor 12 tahun 2011. Sepeda motor dikenakan tarif Rp 1.000, sedangkan mobil Rp 2.000. Pemungutan tarif disertai dengan tanda bukti karcis yang diporporasi.

Di sisi lain, pengenaan tarif parkir di lokasi pasar senggol tak memiliki keseragaman. Dalam artian, perbedaan lokasi ikut menentukan besaran tarif parkir yang dikenakan. Misalnya untuk lokasi yang jauh dari pusat pertokoan/pusat perbelanjaan akan mengacu pada besaran tarif yang ditetapkan Pemkot. Namun untuk lokasi yang dekat dengan pusat perbelanjaan maka tarifnya akan naik berlipat.

Selain perbedaan lokasi, ketetapan durasi/lama parkir juga tak memiliki standar baku. Seperti yang dialami Gorontalo Post saat memarkir di salah satu lokasi parkir di pasar Senggol. Tarif parkir sepeda motor untuk durasi di bawah 10 menit dikenakan sebesar Rp 3.000. Sedangkan di atas 10 menit sudah menjadi Rp 5 ribu.

Fenomena itupun membuat banyak pemilik kendaraan. Bahkan di media sosial, kalangan nitizen ramai membicarakan mahalnya tarif parkir di kawasan pasar Senggol. “Gila parkir mobil 20.000 tajir men.. tajir… Semoga berkah buat kamu ya om..,”tulus akun @viramita, kemarin. Ia mengaku shok dengan harga parkir yang selangit, padahal durasi parkirnya hanya sekira 10 menit parkir di kawasan pasar Senggol Kota Gorontalo.

Terkait harga parkir yang melambung tinggi, salah seorang penjaga parkir menampik penilaian tersebut. “Lokasi ini (tempat parkir) kami sewa, jadi rasanya wajar dengan harga yang ada. Sebab, kalau tidak begitu ndak bisa pulang modal kami,” ungkap salah seorang penjaga parkir yang enggan dikorankan.

Sementara itu anggota DPRD Provinsi Gorontalo Ismail Alulu yang juga ketua asosiasi pedagang pasar sentral mengatakan, keluhan parkir harusnya segera disikapi serius pemerintah daerah. “Tarif parkir sudah ditetapkan. Tapi di lapangan sudah melewati batas. Harusnya ada pengawalan tidak sekedar hanya menetapkan tarif saja. Jadi saat ada pelanggaran langsung ditegasi,” ungkapnya.

Ismail Alulu menyatakan, dia memaklumi penarikan biaya parkir yang melewati penetapan pemerintah kota itu terjadi karena pengelola parkir juga harus membayar sewa tempat parkir. Jadi itu dilakukan untuk mencari keuntungan dari banyaknya pengunjung pasar senggol.

Namun menurutnya, Pemkot juga harus berhitung bahwa dengan mahalnya biaya parkir akan merugikan kalangan lain. Yaitu pengunjung dan para pedagang. “Parkir mahal otomatis pengunjung terbebani. Jadi mereka enggan untuk datang ke pasar senggol. Kalau sudah begitu pasti pedagang yang rugi karena pengunjung berkurang.

Nah Pemkot harus mengambil posisi di tengah-tengah masyarakat. Agar semua senang dan bisa mendapatkan keuntungan secara wajar dari pasar senggol. Tidak ada yang pihak yang untung besar lalu merugikan pihak lain,” tambahnya.

Ke depan, persoalan seperti ini harus diantisipasi lebih awal. Ismail Alulu meminta Pemkot Gorontalo agar menyusun perencanaan dengan matang. Potensi masalah yang bisa muncul harus diantisipasi sejak awal. “Kalau tarif parkir selalu bermasalah, sebaiknya aparat teknis pemerintah kota yang langsung turun tangan mengelola dan menangani parkir di pasar senggol,” pungkasnya.

Anggota Komisi B DPRD Kota Gorontalo, Mucksin Brekat mengaku jika biaya parkir diluar harga sesuai ketentuan adalah lahan parkir milik warga. Kendati begitu, pemerintah Kota Gorontalo harus mengawasinya serius. “Apakah parkir milik dari masyarakat itu disetor ke kas daerah, ini yang perlu penegasan dari pihak pemkot,” pungkasnya.

Polemik dugaan praktek pungli yang dilakukan oleh para oknum tukang parkir ‘nakal’ di Pasar senggol kota Gorontalo juga mendapat tanggapan tegas dari Ombudsman Republik Indonesia perwakilan Gorontalo. Dimana menurut Lembaga Pengawas Kebijakan Publik itu, Persoalan pungli parkir sendiri merupakan salah satu persoalan yang terjadi secara berulang-ulang kali selama pelaksanaan pasar senggol di Kota Gorontalo.

(Visited 7 times, 1 visits today)

Laman: 1 2


Komentar