Selasa, 11 Mei 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Wujud Pengorbanan, Berharap Membawa Berkah

Oleh Aslan , dalam Gorontalo Headline , pada Kamis, 30 November 2017 | 09:34 WITA Tag:
  


Hargo.co.id – Pandangan Nurhayati tertuju pada secarik kertas. Mulutnya komat-kamit sembari mencentang tulisan yang tertera di atas kertas. Di ujung tulisan, Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Tuladenggi, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo itu melingkari nominal Rp 1.250.000.

Nominal itu merupakan biaya yang akan dikeluarkan untuk walima serangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad,SAW pada Jumat (1/12). Mulai dari aneka kue tradisional/makanan hingga asesoris untuk mempercantik walima.

“Setahun sekali, insya Allah berkah,” ujarnya sembari tersenyum.
Bagi Nurhayati, nominal yang dikeluarkan untuk walima perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tak seberapa. Sebab, yang utama adalah keihlasan untuk menyemarakkan hari kelahiran junjungan Nabi Muhammad SAW.
“Ini juga sudah kami niatkan. Alhamdulillah ada rezeki bisa terpenuhi,” tandasnya.

Nurhayati adalah bagian terkecil dari besarnya animo masyarakat Gorontalo dalam menyemarakkan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal 1438 H atau bertepatan 1 Desember 2017. Bagi masyarakat Gorontalo, Maulid Nabi Muhammad menjadi salah satu hari penting, di samping hari-hari besar keagamaan lainnya.

Dan khusus untuk Maulid Nabi Muhammad, sejalan dengan pelaksanaan doa dan dzikir/dikili, masyarakat Gorontalo juga turut menyediakan walima.
Tingginya animo masyarakat untuk menyemarakkan Maulid Nabi, khususnya menyiapkan walima, berdampak signifikan terhadap permintaan kue tradisional.

BACA  Tanduk Rusa Tombulilato, Tanaman Endemik dari Pesisir Utara Gorontalo 

Dalam tiga hari terakhir, cukup banyak pedagang dan pembuat kue yang kebanjiran orderan. Utamanya kue cucur, kolombengi dan sukade. Dalam sehari permintaan bisa mencapai seribu buah.

Nining, salah seorang pedagang kue tradisional di Pasar Sentral Gorontalo mengaku, jika di hari hari biasanya, kue yang terjual hanya sekitar 100-150 biji saja. Namun dalam rangka memperingati maulid nabi, sehari permintaan naik. “Kalau sekarang permintaan sehari sampai 500 biji, kalau tahun lalu ada yang sampai seribu biji,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan pedagang lainnya Yeyen. Ia mengungkapkan, pada peringatan maulid nabi ini, pendapatan yang mereka peroleh bisa mencapai Rp 4 jutaan. “Tapi kalau untuk yang pesan kue, mereka bayar dulu harga 50 persen dari harga, nanti sudah ada kue baru dilunasi,” ungkapnya.

Sementara itu pantauan Gorontalo Post, harga kue tradisional yang dipakai pada Walima dibanderol mulai Rp 1.000-1.250 per biji. Rata-rata untuk membuat walima, warga membutuhkan dana mulai Rp 500 ribu sampai jutaan rupiah. Nilai tersebut dipengaruhi oleh besarnya kecilnya walima yang dibuat.

Pergeseran Makna Di sisi lain, penyajian walima dari waktu ke waktu mulai mengalami pergeseran makna. Baik dari sajian yang disiapkan hingga tradisi rebutan. Pada mulanya walima berisi kue tradisional serta makanan khas.

BACA  Ini Kisah Kakak Beradik di Bone Bolango yang Butuh Uluran Tangan 

Belakangan, banyak warga memilih jalan praktis. Meski melampirkan kue tradisional berupa kolombengi dan sukade, walima juga banyak diisi dengan aneka snack, kopi instan/mie instan. Bahkan ada yang mengisi dengan peralatan rumah tangga.

Demikian pula pembagian walima. Awalnya, walima dibagikan kepada para pelantun dikili serta masyarakat yang datang ke masjid. Namun belakangan, walima kerap menjadi rebutan. Bahkan belum sampai di masjid, arak-arakan walima sudah diserbu warga. Ironinya, aksi itu membuat sebagian isi walima berceceran yang pada akhirnya terbuang percuma.

Ketua Dewan Adat Gorontalo Karim Pateda mengemukakan, pada pelaksanaan dikili di masjid-masjid, masyarakat Gorontalo sejak dulu sering mengantarkan makanan untuk para pembaca dikili. Inilah yang kemudian berangsur-angsur menjadi tradisi Walima.

“Walima itu dimaksudkan untuk memberi makan para pembaca dikili dengan harapan, ketika warga sekitar berbagi rizki dengan para pembaca dikili, mereka dapat ikut melahap berkah,” kata Karim Pateda.

Menurut Karim, selain dikhususkan untuk pembaca dikili, ada juga Walima yang dikhususkan bagi masyarakat umum. Namanya Puluto.
“Meski begitu, apa pun bentuk dan Walima itu, tetap dibagi dan diberikan secara tertib. Rebutan Walima yang sering kita lihat saat ini, adalah bentuk pergeseran budaya, ” tuturnya.

BACA  Parlemen Menara Bakal Ketambahan Lima Kursi, Begini Penjelasannya

Lebih jauh disampaikan Karim, dilihat dari aspek Islam, pelaksanaan Dikili, Walima, dan lebih umum peringatan Maulid Nabi di Gorontalo memiliki landasan dalil.

“Tradisi dikili dan walima di Gorontalo sudah masuk budaya nasional yang unik dan diakui pemerintah pusat. Di Indonesia, ada 714 Budaya. Dari jumlah itu, Kementerian Sosial mengemasnya menjadi 19 lingkaran adat, dan Gorontalo berada di urutan ke-9. Jadi kita bangga,” pungkasnya.

Sementara itu, Rabu (29/11), pelaksanaan maulid Nabi sedang disiapkan di Masjid Baitturahim Kota Gorontalo. Pantauan Gorontalo Post, sejumlah jamaah tampak sibuk memasang bambu yang dihiasi janur kuning sebagai tempat para pelantun zikir, para pemangku adat, pegawai syara serta tamu undangan lainnya.

Kepala bagian Kesra dan Budaya Setda Kota Gorontalo Aziz Zakaria mengatakan, persiapan acara Maulid Nabi Muhammad tahun ini hampir sama dengan tahun-tahun sebelummnya. Ada 9 Kecamatan di kota Gorontalo yang ikut berpartisipasi serta semua instansi pemerintah daerah, seluruh SKPD se-Kota Gorontalo dan seluruh masyarakat Kota Gorontalo.

“Kami memfasilitasi seluruh persiapan sampai acara ini sampai dengan selesai. Harapannya adat seperti ini tetap dilestarikan oleh seluruh masyarakat Gorontalo,” tutur Aziz (san/dan/and/tr-59/hargo)


Komentar