Jumat, 27 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Yuk Cepetan Gabung ITX, Free Buat Pebisnis Pariwisata

Oleh Fajriansyach , dalam Kabar Nusantara , pada Kamis, 15 Desember 2016 | 16:26 WITA Tag: , ,
  


Hargo.co.id SURABAYA – Kali ini, sosialisasi ITX –Indonesia Travel Xchange, sampai ke pelaku bisnis dan industri pariwisata di Surabaya, Jawa Timur, 14-15 Desember 2016. Ini adalah kota ke-9, setelah Batam Kepri, Magelang Joglosemar, Medan Sumut, Banda Aceh NAD, Jakarta, Denpasar Bali, Lombok NTB, Labuan Bajo NTT, dan Surabaya Jawa Timur. Sekitar 80 peserta antusias mendengarkan presentasi tentang teknologi digital market place, atau pasar industri pariwisata digital.

Hingga kini, sudah sekitar 6000 an pelaku industri yang sudah bergabung se-Indonesia untuk Go Digital Be The Best, sejak dilaunching secara online di Rakornas III 2016, 15-16 September di Econvention, Ancol, Jakarta lalu. ITX sendiri belum dilaunching secara komersial. Tetapi systemnya sudah bisa melayani dari booking sampai payment dalam satu platform.

BACA  Masyarakat Jangan Ragu Periksa Kesehatan Jika Alami Gejala Covid-19

Salah satu yang membuat menarik adalah: semuanya serba free alias tidak dipungut biaya. Pertama, mendapat fasilitas template website yang sudah ready commerce untuk promosi produk atau paketnya, secara free.

Biaya hosting selama setahun juga digratiskan. Kedua, memperoleh booking system gratis, yang sudah bisa mengatur secara system inventory dari produk jasa yang ditawarkan. Ketiga juga disiapkan payment engine gratis. Kalau membangun sendiri, tiga mesin itu harus merogoh kocek Rp 400-an juta.

BACA  Melahirkan dalam Penerbangan, Ibu dan Anak Penumpang Lion Air Selamat

“Semua free, karena manfaatkan program ini sebaik-baiknya! Silakan gabung ke ITX, Anda akan mendapatkan banyak benefit yang siap untuk go digital,” ucap Claudia Ingkiriwang, Ketua Probis Indonesia Travel Xchange (ITX) memancing para industry Pariwisata di Kantor Disbudpar Jawa Timur.

Serba gratis itu rupanya betul-betul membuat heboh diskusi, semakin hidup, semakin banyak hal yang ditanyakan dan semakin asyik. Ada yang benar-benar belum paham dunia digital? Ada yang galau, kalau-kalau platform selling ini memojokkan pelaku travel agent lama yang masih manual? Ada yang menanyakan di mana competitiveness advantage dibandingkan dengan OTA? Ada yang menyoal, mengapa tidak langsung bermain B to C? Business to Community? Seperti OTA, Online Travel Agent yang lain?

BACA  Ribuan Warga Menolak Edukasi Protokol Kesehatan

“Nah, ini yang saya tunggu-tunggu! Jawaban dari pertanyaan itu yang membuat kita semua jadi ngeh, betapa penting Digital Market Place atau mall produk industry pariwisata di online ini?” jawab Claudia yang membuat orang semakin penasaran hingga pukul 17.00 WIB.

Laman: 1 2


Komentar