Gerakan Semesta Berbasis Masjid

×

Gerakan Semesta Berbasis Masjid

Share this article
Taufiq Pasiak
Taufiq Pasiak

Solusi Alternatif Komunitas Sosial Menghadapi COVID-19

Oleh: Taufiq Pasiak

Tulisan ini menawarkan pendekatan komunitas berbasis mesjid (KBM) sebagai salah satu cara non medis menghambat penularan virus COVID-19. Prinsipnya adalah penggabungan 2 pemikiran yang berkembang di masyarakat, yani pemikiran berbasis medis dan pemikiran berbasis iman.

Agama masih menjadi variabel penting pada masyarakat Indonesia di saat mereka menghadapi masalah dan rumah ibadah menjadi salah satu sarana dimana agama dan iman diselenggarakan. Menurut Catatan Dewan Mesjid Indonesia (DMI) ada 800.000 mesjid di Indonesia. Ada 1 mesjid untuk setiap 220 orang. Jumlah ini merupakan jumlah paling besar di dunia.

Pertambahan jumlah masjid terkait dengan adanya hari libur pada hari Sabtu sehingga jam kerja pada hari jumat menjadi lebih panjang. Panjangnya jam kerja membuat pekerja lebih lama berada di kantor. Keberadaan ini membuat kantor menyediakan masjid di lingkungan perkantoran (Harian Republika, 28 Februari 2020). Pada akhir Maret, setelah lima karyawan yang berbasis di Mekah dari Saudi Binladin Group, salah satu perusahaan konstruksi terbesar di kerajaan itu dites positif COVID-19, pihak Kementerian Haji Arab Saudi mengunci perumahan untuk 8.000 buruh dan menangguhkan pekerjaan pada perluasan masjidil Haram.

Pada saat yang sama Masjid Haram dikunci. Beberapa saat kemudian Kementerian Haji dan Umroh Arab Saudi menghimbau agar negara-negara yang sedang menyiapkan warganya menunaikan ibadah haji untuk menghentikan dulu proses administrasi Haji. Ini menyusul pengumuman penghentian Umroh. Keterikatan kaum muslimin Indonesia dengan mesjid memiliki akar kuat dalam sejarah Islam maupun, budaya dan tulisan-tulisan para ulama. Saat ini, ketika Epidemi COVID-19 merebak cepat di Indonesia mesjid menjadi salah satu sarana ibadah yang mendapat perhatian serius karena tingginya kontak fisik antar manusia di dalam mesjid.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sampai mengeluarkan Fatwa Nomor 14 tahun 2020 yang isinya antara lain mengharamkan kegiatan sholat berjamaah di masjid pada daerah yang intensitas penularannya sangat tinggi. Kondisi pandemi dan fatwa MUI ini mengubah perilaku sebagian besar kaum muslimin. Sholat berjamaah yang dianggap  memiliki keistimewaan kini tidak lagi.

Saf sholat yang harus menempel digantikan dengan saf berjarak lebih dari 1 meter, jabat tangan maupun cium tangan tidak lagi dibolehkan. Padahal kontak fisik, seperti jabat tangan merupakan cara manusia berkomunikasi dengan manusia lain dan menjadi sumber rasa nyaman (Idan Flumin, 2015). Studi yang oleh Semin dan Farias (2015) pada 271 subyek lelaki dan perempuan menunjukkan bahwa seusai berjabat tangan subyek secara otomatis memegang hidung dan mengusap wajah mereka.

Pada saat yang sama aliran darah di hidung subyek dua kali lebih banyak dari pernapasan normal saat subyek meletakkan tangan di hidung mereka. Ini menunjukkan bahwa subyek memang mengendus tangan mereka seusai berjabat tangan. Jabat tangan yang membuat subyek memegang hidung dan wajah merupakan faktor resiko infeksi saluran pernapasan. Kontak tangan dengan hidung dapat memprediksi infeksi saluran pernapasan, termasuk infeksi SarCov-2 penyebab penyakit COVID-19 (M Nicas & D Best, 2008).

Dibandingkan kasus epidemi lain seperti kolera, Influenza, HIV-AIDS, Ebola, Flu burung, secara kasat mata, infeksi SarCov-2 dan penyakit Covid-19 lebih revolusioner mengubah cara hidup dan perilaku manusia. Isolasi mandiri, karantina, dan social distancing, sebagai cara yang dianjurkan untuk membatasi ruang gerak virus SarCov-2, memiliki konsekuensi yang luar basa dalam kehidupan sosial manusia. Interaksi sosial yang dikarakteristik oleh face to face contact hingga eye to eye contact yang dibangun sepanjang perkembangan kebudayaan manusia tidak lagi kontributif dalam kehidupan sosial yang bermutu.

Padahal sejumlah riset menunjukkan bahwa interaksi sosial merupakan salah cara yang bermakna untuk memperpanjang umur dan melahirkan kebahagiaan. Village Effect—istilah yang dikenalkan oleh Susan Pinker (2014) untuk menyebut peranan interaksi sosial dalam memperpanjang umur—kita mendapat tantangan berarti. Face to face contact yang diyakini membuat kita lebih sehat, bahagia, umur panjang dan cerdas, telah
digugat oleh penyakit COVID-19. Perjumpaan nyata sebagai wujud interaksi sosial kini menjadi kegiatan yang berbahaya. Dopamin dan Oksitoksin—2 zat Kimia otak—yang dihasilkan karena interaksi sosial yang nyata kini membutuhkan cara baru untuk dilepas dalam tubuh kita.

Agama dan Epidemi
Kepercayaan agama dapat membentuk perilaku kunci dengan cara yang tidak dapat diprediksi oleh teori evolusi, terutama ketika menyangkut penanganan penyakit, Sebuah tulisan provokatif dalam majalah Science, ‘Does Religion Influence Epidemics?. oleh Elizabeth Pennisi (23 Agustus 2011), mengutip presentasi David Hughes, ahli biologi evolusi di Pennsylvania State University, University Park, di Kongres ke-13 Masyarakat Eropa untuk Evolusi Biologi (2011) di Tübingen, Jerman, mengapa ahli biologi harus memperlakukan agama sebagai topik serius.

Pengamatan awal Hughes adalah bahwa beberapa agama di dunia muncul bersamaan dengan penyakit menular, bersamaan dengan berkembangnya kota-kota. Penyakit dan agama, anehnya, saling membentuk. Hughes membaca literatur sejarah dan bertanya kepada para pemimpin agama dan pakar lain tentang epidemi dunia dan cara agama menangani penyakit. Menurut Hughes dan 2 rekan penelitinya ahli demografi Jenny Trinitapoli dan sejarahwan agama Philip Jenkins, antara 800 SM dan 200 SM, kota-kota berkembang, wabah mematikan muncul yang mampu membunuh hingga dua pertiga populasi, dan beberapa agama modern muncul. Semua agama ini memiliki pandangan berbeda tentang penyakit, yang memengaruhi cara orang merespons epidemi seperti polio, campak, dan cacar, Hughes melaporkan. Sistem kepercayaan, misalnya, memengaruhi apakahorang melarikan diri dari penyakit atau mencoba membantu mereka yang sakit. Tradisi Kristen, yang dicontohkan oleh Yesus sebagai tabib, menonjol, kata Hughes.

Membantu orang sakit adalah salah satu cara untuk memastikan perjalanan ke Surga, sehingga risiko kematian akibat penyebaran penyakit sangat dianjurkan. Agama-agama lain tidak mempromosikan altruisme ekstrem seperti itu. Ajaran Islam, misalnya, menolak keberadaan penyakit menular, meskipun beberapa sarjana Arab
berpikir sebaliknya pada saat itu. Umat Islam percaya tidak ada gunanya mencoba menghindari orang sakit, dan penekanannya adalah merawat keluarga seseorang. Doktrin Yahudi mengaitkan kematian dengan kehendak Tuhan dan mempromosikan gagasan bahwa hanya Tuhan yang dapat menyembuhkan seseorang, jadi ada lebih sedikit insentif untuk mengobati orang sakit. Gerakan Komunitas Berbasis Agama.

Keterlibatan komunitas dan organisasi keagamaan dalam pencegahan penyakit menular bukanlah hal baru. Namun, fenomena kasus COVID-19 membuat pendekatan keagamaan harus dikaji ulang secara lebih luas untuk memberikan peranan optimal pada agama. Belajar dari kasus Ebola, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menciptakan program pencegahan berbasis komunitas yang dinamakan Community Care Center (CCCs) yang dijalankan terutama di Siera Leone.

CCCs adalah fasilitas kecil (maksimum 10 tempat tidur), terletak di dalam komunitas dan dijalankan oleh petugas kesehatan masyarakat. CCC menyediakan fasilitas isolasi untuk pasien Ebola untuk mencegah penularan lebih lanjut dari virus dalam rumah tangga dan komunitas mereka. Orang dengan virus Ebola juga dapat menerima perawatan kuratif dan paliatif dasar di pusat-pusat ini dalam lingkungan yang didukung oleh keluarga dan komunitas mereka (WHO, 2014). Kehadiran CCCs Care Centres (CCCs) di Sierra Leone selama fase percepatan epidemi EVD (Ebola virus disease) 2014-2015 memberikan hail positif terutama dalam membangun kesadaran masyarakat tentang infeksi Ebola. Antara November 2014 dan Januari 2015, 46 CCC beroperasi.

Lebih dari 13 minggu epidemi, dari 6.129 pasien yang dirawat di triase didapati 719 (12%) tersangka EVD. Penerimaan masyarakat tinggi meskipun ada ketidakpercayaan awal. Hampir semua pasien datang ke CCC di luar sistem peringatan nasional. Isolasi tersangka EVD dalam 4 hari gejala lebih tinggi di CCC dibandingkan dengan fasilitas lain (85% vs 49%; rasio odds = 6,0; interval kepercayaan 95% = 4,0, 9,1), berkontribusi pada pengurangan 13% hingga 32% pada Nomor reproduksi EVD (Ro). Para peneliti berkesimpulan bahwa pendekatan berbasis masyarakat untuk pencegahan dan perawatan dapat mengurangi penularan Ebola (Paul Pronyk dkk, 2016).

Penggunaan metode ilmiah saja tanpa pertimbangan holistik dari faktor kontekstual lainnya tidak cukup untuk mengendalikan penyakit. Sebagai contoh, analisis laporan media dan studi terbaru di Afrika Barat mengungkapkan resistensi yang signifikan terhadap cara-cara ilmiah yang ditentukan untuk memerangi transmisi Ebola di beberapa komunitas yang terkena dampak.

Meskipun tidak ada penjelasan tunggal untuk perlawanan semacam ini, karena ini adalah fenomena sosial yang sangat kompleks, pengaruh kepercayaan agama dan budaya tidak dapat disangkal. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali dampak praktik tradisional dan keagamaan terhadap intervensi promosi kesehatan. pertimbangan praktik tradisional dan agama sangat penting untuk pemahaman kita tentang dinamika penularan dan kontrol selanjutnya terhadap penyakit yang sangat menular.

Sebagai penjaga nilai-nilai budaya sehari-hari, para pemimpin tradisional dan agama lebih menghargai dan berkuasa dalam komunitas mereka daripada tenaga kesehatan terlatih yang tidak dikenal (Angellar M dan Benford M,. 2015). Tokoh agama memainkan peran berbeda di berbagai titik dan lintas sektor yang berbeda pada epidemi Ebola ini (Katherine Marshall, 2017).

Wabah Ebola 2014-2016 di Afrika Barat menawarkan ilustrasi penting tentang peran yang masih dimainkan oleh para pemimpin agama dan organisasi berbasis agama dalam menyediakan hubungan tepercaya antara masyarakat dan pekerja bantuan internasional (Perry Jansen, 2019). Kerjasama dengan organisasi berbasis iman (Faith-based organizations (FBOs) bukan agenda baru sebenarnya.

Dalam mempersiapkan Deklarasi Alma Alta (1978), sebagai contoh, WHO bekerja sama dengan FBOs. Begitu juga dalam menghadapi epidemi HIV-AIDS. WHO menjadi FBOs sebagai bagian dari sistem pelayanan kesehatan. Di Indonesia, selama ini, organisasi-organisasi keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah menjadi partner lembaga kesehatan dalam mengurangi dan menghambat penularan HIV-AIDS.

Di Subsahara Afrika, FBOs memberikan kontribusi hingga 40 persen dalam pelayanan kesehatan terkait HIV-AID (WHO, 2008). Agama dipandang penting dalam pencegahan Ebola dan HIV-AIDS (Blevins JB, 2018)
Pemikiran dan Perilaku Masyarakat. Pemikiran dikotomis (terbelah dua) berkembang dalam masyarakat saat menghadapi penyakit COVID-19.

Secara sederhana, di satu pihak, berkembang pemikiran yang berorientasi medis, yang melihat penyakit ini sebagai fenomena medis saja. Ada infeksi virus, menimbulkan keluhan dan gejala, ditularkan antar orang dan dapat diobati. Penularan dihadapi dengan cara-cara medis; isolasi dan social distancing. Kelompok ini mendukung sholat jumat dan sholat jamaah ditiadakan..

Di pihak, lain, ada kelompok berorientasi “iman’. Kelompok ini percaya bahwa virus Corona adalah ujian keimanan seseorang. Corona harus dihadapi head to head karena itu menunjukkan tingkat iman kita. Penularan tidak akan terjadi jika keimanan seseorang kuat dan yakin pada rencana Allah. Penularan tak akan terjadi tanpa ijin Allah. Kelompok ini tetap bertahan untuk berkerumun dalam sholat jumat dan berjamaah di mesjid. Kelompok kedua menuduh kelompok pertama takut mati.

Virus corona sebagai ‘tentara’ Allah berada dalam pemikiran kedua kelompok, meskipun pengertian dan maksud ‘tentara Allah’ itu berbeda di kedua kelompok. Pada kedua kelompok ini masih ada subkelompok yang percaya bahwa virus ini hasil rekayasa. Baik rekayasa Allah maupun rekayasa manusia.

Pemikiran dikotomis ini sebenarnya bukan hal baru, tetapi menajam dan meluas saat menghadapi virus SarCov-2. Ini kali pertama mesjid-mesjid di tutup dan ada larangan sholat Jumat dan sholat berjamaah di mesjid. Silaturahmi dan hubungan sosial yang dibatasi (social distancing) merupakan bencana sosial bagi masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai mayarakat yang suka berkumpul dan kurang disiplin sejauh menyangkut interaksi sosial. Interaksi sosial adalah kebutuhan dasar bagi semua manusia.

Komunitas Berbasis Mesjid (KBM) Penderíta COVID-19 dibagi menjadi 3 kelompok; (1) Orang Dalam Pemantauan (ODP), yakni mereka memiliki riwayat bepergian ke satu daerah epidemik. Kelompok ini belum tentu sudah terinfeksi apalagi sudah sakit, (2) Pasien dalam Pemantauan (PDP), yakni mereka yang berasal dari daerah epidemik serta menunjukkan gejala panas, batuk bringus hingga gangguan pernapasan. Kelompok ini belum tentu juga positif, dan 3) suspected, mereka yang sudah menunjukkan gejala infeksi dan ada riwayat kontak dengan pasien positif Corono.

Komunitas berbasis mesjid adalah komunitas yang dibangun oleh jemaah sebuah mesjid untuk kepentingan membantu perawatan ODP dengan menjadikan mesjid sebagai home base kegiatan (PDP dan Suspected) tidak menjadi ranah urusan Komunitas. Fungsi mesjid diperluas lebih dari sekadar fungsi ibadah dan ritual, tetapi juga fungsi sosial kemasyarakatan. Beberapa faktor berikut menjadi prinsip dasar dari KBM :

1. Mesjid adalah bangunan di luar rumah yang secara psikologis memberikan rasa aman.
2. Mesjid adalah tempat berkumpul komunitas manusia homogen dan berada dalam jangakauan fisik dan spasial keluarga.
3. Pengelola Masjid memiliki pengalaman dalam pengelolaan manusia, antara lain, penyaluran zakat, infaq dan sedekah.
4. ODP belum membutuhkan perawatan medis sehingga harus masuk rumah sakit.

5. ODP merasakan tekanan psikologis melebihi penyakit yang dideritanya. Ganguan mental dialami oleh ODP terutama mereka yang mendapat penolakan.
6. Kepercayaan jamaah ODP kepada Imam, Badan Takmir atau Tokoh sesama jamaah jaiuh lebih besar dibandingkan kepercayaan pada tenaga medis.
7. Masjid memiliki sumber daya manusia yang relatif lengkap dari remaja sampai orang tua. Potensi ini dapat menjadi sumber relawan.

Berdasakan prinsip-prinsip di atas, maka KBM dapat melakukan kegiatan sebagai berikut:
1. Menyusun Gugus Mesjid menghadapi COVID-19 yang dikomandoi oleh Ketua Badan Takmir atau Imam atau orang yang disepakati bersama.
2. Merencanakan Program berupa persiapan bantuan kebutuhan harian jamaah dan isolasi jemaah yang ODP. Program meliputi sejumlah kegiatan. Bantuan diupayakan secara sistematik dari pemerintah, dermawan atau jamaah yang mampu.
3. Mempersiapkan mesjid sebagai tempat isolasi Mandiri dari jamaah mesjid yang ODP selama 14-21 hari. Disiapkan satu ruang masjid sebagai tempat isolasi. Ruang ditata sedemikian rupa sehingga sirkulasi udara berlangsung baik, cukup kena sinar matahari dan physical distancing tetap terjaga. Secara rutin ruangan disemprot desinfektan.
4. Membangun komunikasi antara Gugus dan Jamaah yang berbasis internet melalui telfon seluler. Grup WA merupakan bentuk yang paling mudah. Media ini menjadi tempat tukar menukar informasi yang realtime. Pastikan grup komunikasi ini hanya untuk tukar menukar informasi atau tracing jamaah yang potensial. Tidak untuk share halal lain yang tidak relevan meskipun seputar COVID, misalnya perihal pengobatan, virus penyebab, komplikasi, dan lain-lain, yang justru akan menimbulkan kecemasan baru. 1
5. Mengidentifikasi jamaah yang pernah bepergiaan ke daerah epidemik selama masa epidemik, yang pernah kontak dengan PDP, jamaah yang memiliki keluhan saluran pernapasan. Identifikasi dibuat dalam daftar yang rapih dan mudah dipantau. Daftar terdiri dari nama, usia, jenis kelamin, penyakit yang sedang atau pernah diderita, riwayat bepergian atau kontak, keluhan yang dirasakan, dll. Orang tua berusia di atas 65 atau
mereka yang memiliki penyakit berat lain (komorbid) merupakan kelompok yang mudah diserang virus dengan akibat yang fatal. 2
6. Meminta Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat, atau relawan tenaga kesehatan dari jamaah sendiri untuk menjadi pengawas atau penasihat dalam urusan medis. Jamaah yang memiliki keluhan saluran pernapasan ditindaklanjuti melalui fasilitas kesehatan selanjutnya.
7. ODP difasilitasi untuk melakukan kegiatan ibadah secara optimal dengan tetap memerhatikan pshysical distancing dan tindakan pencegahan lain, seperti memakai masker dan mencuci tangan. Fasilitasi kegiatan ibadah bertujuan meningkatan ketahanan psikologis dan resilience dari ODP

Cognitive Transccdence Strategies (CTS)
Ketahanan Iman dalam menghadapi infeksi virus Corona harus dibarengi dengan pengetahuan kesehatan yang memadai. Kombinasi kedua hal ini akan tidak akan melahirkan kepanikan melainkan sense of crisis yang baik. Pengetahuan yang memadai dan iman yang patut merupakan 2 kekuatan mental manusia untuk menghadapi penularan virus Corona. Kombinasi ini akan mewujud dalam strategi berpikir yang saya sebut Cognitive Transccdence Strategies (CTS), yang terdiri dari willpower (optimisme yang kuat untuk melakukan satu hal), Self Control (kesabaran yang tinggi menghadapi pelbagai rintangan yang ada yang ditandai dengan kendali diri. Belajar dari Singapura yang mengembangkan aplicais Trace Togteher yang dapat diinstal di HP. Jawa Barat 1 juga memiliki aplikasi Pikobar. Pemerintah Wuhan di China menggunakan aplikasi berbasis Kode Warna untuk tracing penduduk. Komunikasi realtime dengan Telefon selular dapat membantu komunikasi dan informasi antar Jamaah Mesjid.

Rong-Hui Du dkk (2020) melakukan studi prospektif terkait kematian pada 179 pasien dengan pneumonia 2 COVID-19 (97 laki-laki dan 82 perempuan). Mereka menemukan bahwa kasus kematian di masa depan akan meningkat jika ditemukan 4 petunjuk berikut: usia ≥65 tahun, penyakit kardiovaskular atau serebrovaskular yang sudah ada sebelumnya, sel CD3 + CD8 + T ≤75 sel · µL − 1, dan troponin jantung I≥0,05 ng · mL − 1, terutama dua faktor terakhir, adalah prediktor untuk kematian pasien pneumonia COVID-19. yang bagus) dan Resilience (kemampuan untuk bankit lebih kuat setelat jatuh atau aggal menghadapi masalah).3

Daftar Rujukan
• Rong-Hui Du, Li-Rong Liang, Cheng-Qing Yang, Wen Wang, Tan-Ze Cao, Ming Li, Guang-Yun
Guo, Juan Du, Chun-Lan Zheng, Qi Zhu, Ming Hu, Xu-Yan Li, Peng Peng, Huan-Zhong Shi.
Predictors of Mortality for Patients with COVID-19 Pneumonia Caused by SARS-CoV-2: A
P r o s p e c t i v e C o h o r t S t u d y. E u r o p e a n R e s p i r a t o r y J o u r n a l 2 0 2 0 ; D O I
10.1183/13993003.00524-2020.
• Paul Pronyk, MD, PhD, Braeden Rogers, MIA, MPH, Sylvia Lee, MSc, MPH, Aarunima
Bhatnagar, MSc, Yaron Wolman, MD, MBA, Roeland Monasch, MA, David Hipgrave, MBBS,
PhD, Peter Salama, MBBS, Adam Kucharski, PhD, and Mickey Chopra, PhD, on behalf of the
UNICEF Sierra Leone Ebola Response Team. The Effect of Community-Based Prevention and
Care on Ebola Transmission in Sierra Leone. Am J Public Health. 2016;106:727–732.
doi:10.2105/ AJPH.2015.303020.
• World Health Organization Key considerations for the implementation of an Ebola Care Unit
(ECU/CCC) or Community Care Centre (CCC) at community level. 2014.
• Angellar Manguvo, Benford Mafuvadze. The impact of traditional and religious practices on the
spread of Ebola in West Africa: time for a strategic shift. Pan Afr Med J. 2015;22(Supp 1):9
• Blevins JB1, Jalloh MF1, Robinson DA1Faith and Global Health Practice in Ebola and HIV
Emergencies. Am J Public Health. 2019 Mar;109(3):379-384. doi: 10.2105/AJPH.2018.304870.
Epub 2019 Jan 24.
• https://republika.co.id/berita/q6d8ij328/jumlah-masjid-indonesia-terbanyak-di-dunia.
• Katherine Marshall. Roles of religious actors in the West African Ebola response. Journal
Development in Practice, Volume 27, 2017.
CTS merupakan salah satu teknik praktis yang dikembangkan berdasarkan sifat neuroplastisitas 3
(otak bisa berubah karena intervensi lingkungan dan pengalaman) otak manusia. Dalam proses riset dan
belum dipublikasi.
• Perry Jansen. The Role of Faith-Based Organizations and Faith Leaders in the 2014-2016 Ebola
Epidemic in Liberia. DOI: https://doi.org/10.15566/cjgh.v6i1.265.
• WHO (2008). Building From Common Foundations. The World Health Organization and FaithBased Organizations in Primary Healthcare.
• Idan Frumin1*, Ofer Perl1, Yaara Endevelt-Shapira1, Ami Eisen1, Neetai Eshel1, Iris Heller1,
Maya Shemesh1, Aharon Ravia1, Lee Sela1, Anat Arzi1, Noam Sobel. A social chemosignaling
function for human handshaking. eLife 2015;4:e05154. DOI: 10.7554/eLife.05154.
• Gun Semin and Ana Rita Farias. The scent of a handshake Sniffing our hand after a handshake
may allow us to detect chemical signals produced by others. eLife 2015;4:e06758. DOI: 10.7554/
eLife.06758.
• Mark Nicas, Daniel Best A study quantifying the hand-to-face contact rate and its potential
application to predicting respiratory tract infection. DOI:10.1080/15459620802003896Corpus ID:
34578946
• Pete Lunn, Cameron Belton, Ciarán Lavin, Féidhlim McGowan, Shane Timmons and Deirdre
Robertson. Using behavioural science to help fight the coronavirus. ESRI Working Paper no 656
March 2020.
• Elisabenth Pennisi. https://www.sciencemag.org/news/2011/08/does-religion-influence-epidemics

Penulis adalah

*)  Koordinator Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial LPPM UNSRAT Manado
**)Ketua Dewan Pakar DMI Sulawesi Utara