Hargo.co.id GORONTALO – Malam pasang lampu menjadi kebanggaan bagi Gorontalo, tradisi yang telah turun temurun ini merupakan destinas wisata budaya tanah air. Sayang keunikan malam tumbilotohe yang hanya menggunakan lampu botol berbahan bakar minyak mulai tekikis. Warga kini lebih senang menggunakan lampu listrik, ketimbang ciri khas tumbilotohe, yakni lampu botol atau lampu padamala.
“Alhamdulillah sudah masuk tumbilotohe, tapi saya lihat banyak lampu listrik yang dipasang, lampu botolnya kurang,”kata Apris Sulamen, warga Kota Gorontalo, kemarin. Dari sisi sejarah, tumbilotohe sudah berlangsung sejak abad ke-15. Ketika itu, penerangan masih berupa wango-wango, yaitu alat penerangan yang terbuat dari wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar.
Tahun-tahun berikutnya, alat penerangan mulai menggunakan tohetutu atau damar yaitu semacam getah padat yang akan menyala cukup lama ketika dibakar. Berkembang lagi dengan memakai lampu yang menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa, dengan menggunakan wadah seperti kima, sejenis kerang, dan pepaya yang dipotong dua, dan disebut padamala.
Seiring dengan perkembangan zaman, maka bahan lampu buat penerangan di ganti minyak tanah hingga sekarang ini. Namun karena sulitnya mendapatkan minyak tanah buntut kebijakan pemerintah menghapus minyak tanah bersubsidi, maka warga mulai memanfaatkan listrik, dengan menggunakan lampu kedap kedip warna-warni. Warga berharap agar pemerintah dapat mengembalikan tradisi tumbilotohe yang lebih sederhana. (tro/hargo)
