Hargo.co.id GORONTALO – Kisruh antara Ketua DPW PAN Idris Rahim dengan fungsionaris DPP PAN, Zainuddin Hasan, menimbulkan keresahan bagi kader berlambang Matahari Terbit itu. Betapa tidak, jika terus dibiarkan, maka peristiwa pada Pilgub 2011 lalu, akan kembali terulang pada Pilgub 2017. Yakni PAN saat itu hanya menjadi penonton ketika Parpol lain berpesta.
Kisruh nampaknya dipicu dengan penggunaan Parpol sebagai kendaraan menuju Pilgub. Maklum, Idris Rahim dan Zainuddin Hasan sama-sama ingin menggunakan PAN. Hanya saja, keduanya memungkinkan ikut Pilgub, meskipun tak menggunakan bendera PAN karena digantung dengan rekomendasi dari DPP PAN.
Zainudin Hasan sudah mantap bersama dengan Adhan Dambea (ZIHAD) yang diusung koalisi PKS (5 kursi) dan Hanura (5 kursi). Jumlah kursi Parpol pengusung sudah mencukupi karena syaratnya 20 persen dari jumah kursi di parlemen yakni 45 kursi.
Sementara Idris Rahim melenggang kembali ke Pilgub setelah DPP Partai Golkar mengeluarkan rekomendasi. Partai Golkar menyetujui Rusli Habibie kembali berpasangan dnegan Idris Rahim di Pilgub 2017 mendatang.
Partai Golkar pada Pilgub mendatang, berhak mengusung satu pasangan tanpa harus koalisi mengingat perolehan suara di parlemen melebih dari cukup, yakni 12 kursi.
Kenyataan itulah memunculkan keresahan bagi kader PAN karena takut jadi penonton. Ini sempat diakui oleh Djafar Hubu (kader PAN) yang mana menurutnya Idris Rahim dan Zainuddin Hasan tanpa PAN bisa bertarung di Pilgub.
“Tapi itu kami tidak inginkan. DPP PAN sudah harus memutuskan. Apalagi ketua DPW kita Idris Rahim punya potensi yang sangat besar untuk menang. Kami tak ingin jadi penonton,” ungkap Djafar Hubu.
Desakan agar segera tentukan sikap, juga diakui oleh Juru Bicara DPW PAN, Andriliwan Mohamad. “Banyak kader yang mendesak, agar DPP segera menetapkan sikap. Perang Pilgub sudah dimulai, sebaiknya sudah ada sikap dari sekarang,†katanya. (wan/hargo)
