Hargo.co.id, GORONTALO – Pesatnya perkembangan teknologi juga bisa memberikan dampak negatif kepada masyarakat. Kurangnya literasi berita, menjadi ancaman untuk masyarakat karena dengan mudah menerima bahkan menyebarkan informasi hoax atau berita yang tidak benar. Belakangan, istilah lain untuk menyebut informasi yang keliru yakni misinformasi dan disinformasi justru menimbulkan kekeliruan di masyarakat.
Terkait dengan itu, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Gorontalo, beri pelatihan literasi berita yang bekerjasama dengan Dinas Kominfo Kota Gorontalo. Pada kesempatan ini, menghadirkan trainer yakni Tri Suharman yang mana dalam materinya pada pelatihan Literasi Berita untuk Publik Melawan Mis/Disinformasi di Aula Walikota Gorontalo pada Selasa, (27/09/2022).
“Hoax sendiri memiliki berbagai macam turunan kata, namun secara garis besar ada dua turunan dari kata Hoaks itu sendiri, yakni Misinformasi dan Disinformasi. Keduanya memiliki dampak bagi kehidupan,” kata Tri Suharman.
Dijelaskannya oleh Tri Suharman, misinformasi adalah informasi yang keliru, dimana informasi yang tidak diketahui oleh penyampai bahwa berita itu hoax/tidak benar. Namun sudah terlanjur disebarkan ke orang lain, sehingga informasi tersebut terus menyebar tanpa ada kroscek/bukti valid terlebih dahulu.
“Saya beri contoh seorang ibu yang mengingatkan kepada anak-anak bahwa jangan main disana ada penculik anak. Si Ibu belum tahu berita yang tersebut benar atau tidak, setelah di kroscek ternyata hoax. Tujuannya baik, tapi informasi yang terlanjur disebarkan adalah hoax,” tuturnya sembari mencontohkan.
Sementara Disinformasi, kata Tri Suharman, adalah informasi yang keliru, dimana orang yang menyebarkanya tahu bahwa berita tersebut hoax, namun tetap menyebarkannya. Dengan kata lain, berita yang benar adanya namun sudah dimanipulasi.
Dicontohkannya pula, seperti peristiwa tawuran, namun Si Penyampai informasi belum tahu sebabnya sehingga dimanipulasi dengan mengatakan bahwa itu kerusuhan yang dilatari oleh konflik agama. Ada upaya untuk membelokkan informasi, dan sepenuhnya dibuat dengan sengaja untuk menyesatkan dan membuat publik bingung.
“Keduanya memiliki dampak yang sama besarnya bagi kehidupan. Dan upaya untuk mencegah terjadinya misinformasi dan disinformasi ini adalah dengan pelatihan literasi berita kepada masyarakat seperti ini. Selain pentingnya literasi berita kepada masyarakat guna memerangi penyebaran berita hoax, wartawan juga sebagai penyampai berita harusnya bisa menjadi bagian dari upaya literasi berita dengan memberikan informasi utuh dan berkualitas kepada masyarakat,” harapnya. (***)
Penulis : Rita Setiawati
