Gorontalo

Harga Beras Termahal Nasional, Pernyataan Pejabat Pemprov dengan Bulog Malah Berseberangan

×

Harga Beras Termahal Nasional, Pernyataan Pejabat Pemprov dengan Bulog Malah Berseberangan

Share this article
Harga Beras Termahal Nasional, Pernyataan Pejabat Pemprov dengan Bulog Malah Berseberangan
Ilustrasi beras. (KOMPAS/GARRY ANDREW LOTULUNG)

Hargo.co.id, GORONTALO – Pernyataan sejumlah instansi di lingkungan Pemerintah Provinsi Gorontalo terkait kondisi perberasan daerah memunculkan tanda tanya publik.

Berita Terkait:  PENAS XVII Jadi Berkah Ekonomi Warga, UMKM hingga Bentor Panen Rezeki

Pasalnya, informasi yang disampaikan mengenai ketersediaan stok, produksi beras, hingga penyebab lonjakan harga di pasaran terkesan tidak sejalan satu sama lain.

Di satu sisi, pemerintah daerah mengklaim Gorontalo mengalami surplus produksi beras. Di sisi lain, Bulog memastikan cadangan beras masih mencukupi hingga akhir tahun.

Berita Terkait:  Pramuka Harus jadi Wadah Pembinaan Karakter, Penegasan Gubernur Gusnar di Kemah Bakti Restorasi

Namun belakangan, muncul pernyataan bahwa pasokan beras justru berkurang dan distribusi mengalami gangguan sehingga memicu kenaikan harga di pasar rakyat.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Gorontalo, Muljady Mario, sebelumnya menyatakan ketersediaan beras daerah berada dalam kondisi aman.

Berita Terkait:  Gubernur Gusnar Ajak JICA Turut Serta Selamatkan Danau Limboto

Dalam dialog “Tamu Kita” yang disiarkan secara virtual dan dikutip dari RRI pada 4 Mei 2026, Muljady menjelaskan bahwa produksi gabah Gorontalo sepanjang 2025 meningkat hampir 20 persen dibanding tahun sebelumnya.

Berdasarkan perhitungan pemerintah daerah, peningkatan tersebut menghasilkan produksi beras sekitar 157 ribu ton per tahun.

Berita Terkait:  Tak Hanya Berorientasi IPK dan Ijazah, Perguruan Tinggi Diminta Siapkan Lulusan Siap Kerja

Angka itu disebut lebih tinggi dibanding kebutuhan konsumsi masyarakat Gorontalo yang berada di kisaran 143 ribu ton per tahun.

Menurut Muljady, capaian tersebut menunjukkan Gorontalo masih memiliki surplus produksi dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional. Bahkan, daerah ini disebut pernah menjadi pemasok beras bagi wilayah lain yang membutuhkan.

Berita Terkait:  Progres Perekaman KTP El Pemilih Pemula di Gorontalo Hingga Juni 2024

Pernyataan senada kemudian datang dari Perum Bulog Gorontalo. Kepala Bulog Gorontalo, La Ode Sulaiman, pada 21 Juli 2026 menegaskan bahwa

stok beras yang dikelola Bulog mencapai 2.400 ton dan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Desember 2026.

Berita Terkait:  Audiens dengan Wamenaker, Gubernur Gusnar Usul Pembangunan BLK

Selain menjamin kecukupan stok, Bulog juga memastikan kualitas beras yang didistribusikan kepada masyarakat merupakan beras dalam negeri dengan karakteristik pulen.

Bulog menyebut kualitas beras yang beredar saat ini berbeda dengan keluhan masyarakat pada masa lalu yang menilai beras Bulog cenderung pera dan keras.

Berita Terkait:  Bantuan Korban Longsor Tambang Suwawa Terus Mengalir

Untuk menjaga stabilitas harga, Bulog mengaku terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM), termasuk untuk komoditas beras, gula pasir, dan minyak goreng.

Namun hanya berselang dua hari setelah pernyataan tersebut, narasi berbeda disampaikan oleh Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Kumperindag) Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka.

Berita Terkait:  Sambut HUT ke-78 RI, Pemprov dan Pemkot Gorontalo Gelar Doa Bersama

Pada 23 Juli 2026, Fayzal menyebut kenaikan harga beras dan minyak goreng di pasar rakyat dipicu oleh menurunnya pasokan serta terganggunya distribusi barang.

Ia menjelaskan bahwa kemarau panjang berdampak pada produksi sejumlah komoditas,

Berita Terkait:  Gubernur Gusnar Diminta jadi Penasihat Alumni SMAN 3 Gorontalo

sementara distribusi dari luar daerah ikut terhambat akibat keterbatasan pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.

Menurutnya, berkurangnya ketersediaan barang di pasaran, ditambah kebijakan penyesuaian harga dari distributor, membuat pedagang terpaksa menaikkan harga jual kepada konsumen.

Berita Terkait:  Dukcapil Permudah Pelayanan Pemilih Pindahan Jelang Pilkada 2024

Pernyataan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kondisi sebenarnya pasokan beras di Gorontalo.

Jika stok daerah berada dalam kondisi surplus dan cadangan Bulog dipastikan cukup hingga akhir tahun,

Berita Terkait:  Audiens dengan Wamenaker, Gubernur Gusnar Usul Pembangunan BLK

mengapa gangguan pasokan dari luar daerah disebut menjadi salah satu faktor utama kenaikan harga?

Perbedaan sudut pandang antarlembaga ini semakin menjadi sorotan karena muncul di tengah tingginya harga pangan di Gorontalo.

Berita Terkait:  Progres Perekaman KTP El Pemilih Pemula di Gorontalo Hingga Juni 2024

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) menunjukkan harga beras di pasar modern Gorontalo

bertahan pada level Rp20.250 per kilogram selama periode 20–22 Juli 2026. Angka tersebut tercatat sebagai yang tertinggi di Indonesia pada saat itu.

Berita Terkait:  PENAS XVII Jadi Berkah Ekonomi Warga, UMKM hingga Bentor Panen Rezeki

Tidak hanya beras, harga minyak goreng di pasar tradisional Gorontalo juga menjadi yang tertinggi secara nasional

dengan rata-rata mencapai Rp27.100 per kilogram pada periode yang sama.(Ndi) 

Berita Terkait:  Pramuka Harus jadi Wadah Pembinaan Karakter, Penegasan Gubernur Gusnar di Kemah Bakti Restorasi