Kota Gorontalo

Perang Sampah Dimulai dari Sekolah, Dikbud Kota Gorontalo Luncurkan Gerakan BASMI

×

Perang Sampah Dimulai dari Sekolah, Dikbud Kota Gorontalo Luncurkan Gerakan BASMI

Share this article
Perang Sampah Dimulai dari Sekolah, Dikbud Kota Gorontalo Luncurkan Gerakan BASMI
Kepala Dikbud Kota Gorontalo, Husin Ali tengah bersama Kepala Kesbangpol Kota Gorontalo, Dandy Datau usai mengikuti kegiatan panahan.

Hargo.co.id, GORONTALO – Gerakan menjaga kebersihan di Kota Gorontalo mulai diarahkan dari lingkungan sekolah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Gorontalo mencanangkan gerakan BASMI (Bawa Sampah Mulai Inspirasi) dengan melibatkan siswa-siswi SMP se-Kota Gorontalo.

Berita Terkait:  Kunjungi Ternate dan Tidore, Pemkot Gorontalo Belajar Pengelolaan Wisata Budaya Kota Tua

Menurut Kepala Dikbud Kota Gorontalo, Husin Ali, gerakan tersebut tidak sekadar mengajak pelajar menjaga kebersihan sekolah. BASMI dirancang untuk membangun kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, yakni membawa dan bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan.

Pesan utama yang dibawa dalam gerakan ini pun cukup sederhana: bawa sampah, jangan tinggalkan sampah.

Berita Terkait:  Marten Geram, OPD Terkesan Cuek dengan Pelaporan Program

Dari kebiasaan tersebut, lanjut Husin, para pelajar diharapkan mampu menjadi contoh sekaligus menginspirasi lingkungan di sekitarnya.

Pihaknya menilai sekolah menjadi ruang strategis untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Kebiasaan menjaga kebersihan yang terbentuk di sekolah diharapkan tidak berhenti di lingkungan pendidikan, tetapi turut dibawa ke rumah dan kehidupan bermasyarakat.

Berita Terkait:  Gelar Karya Kokurikuler SMP Negeri 3, Suguhkan Tanggomo, Paiya Lohungo Lopoli, dan Dana-Dana

“BASMI kita mulai dari anak-anak sekolah. Pesannya sederhana, bawa sampah, jangan tinggalkan sampah. Dari kebiasaan kecil ini kita ingin melahirkan kesadaran yang lebih besar,” kata Husin Ali.

Melalui BASMI, siswa tidak hanya ditempatkan sebagai pihak yang menjalankan aturan kebersihan. Mereka juga, kata Husin, didorong menjadi agen perubahan yang dapat mengajak teman, keluarga hingga masyarakat untuk memiliki kepedulian yang sama.

Berita Terkait:  Dugaan Kasus Korupsi Perjadis Pemkot Periode 2019-2024 Naik Tahap Penyidikan, Ruangan Bagian Umum Digeledah

Konsep gerakan ini dibangun dari hal sederhana. Satu siswa membangun satu kebiasaan baik, kemudian kebiasaan itu ditularkan kepada siswa lainnya. Jika dilakukan secara bersama-sama, kebiasaan kecil tersebut diharapkan berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.

Maka dari itu, dukungan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat menjadi bagian penting dalam keberlanjutan BASMI.

Berita Terkait:  Kota Gorontalo Kembali Dilanda Banjir, Ismail Batalkan Agenda di Jakarta

Husin berharap gerakan tersebut dapat membentuk budaya hidup bersih yang tidak hanya terlihat saat ada kegiatan tertentu, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari.

Sebab, persoalan kebersihan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Ada peran seluruh masyarakat di dalamnya.

Berita Terkait:  Pemkot Bidik Program LSDP Kemendagri untuk Penguatan Pengelolaan Sampah

Melalui BASMI, perubahan itu hendak dimulai dari tempat yang paling dekat dengan generasi muda: sekolah, dari anak-anak, dan dari kebiasaan sederhana untuk tidak meninggalkan sampah.(Rls)