Hargo.co.id, SULSEL – Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi terus memperkuat penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) di enam provinsi se-Sulawesi.
Langkah tersebut dilakukan menyusul masih ditemukannya kepadatan kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), terutama pada jam sibuk dan untuk jenis BBM tertentu.
Secara umum, kondisi penyaluran BBM mulai terkendali. Namun, Pertamina tetap melakukan penyesuaian distribusi berdasarkan kebutuhan dan kondisi stok di masing-masing wilayah.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, mengatakan pemantauan dilakukan secara berkala untuk memastikan pasokan tetap tersedia sekaligus menjaga pelayanan kepada masyarakat.
“Secara umum kondisi terpantau kondusif, meskipun di beberapa daerah masih terdapat kepadatan pada jam-jam tertentu, khususnya untuk jenis BBM tertentu,” kata Lilik, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, pola penyaluran terus disesuaikan dengan kondisi lapangan, mulai dari penguatan pasokan, penambahan fasilitas pengisian, hingga penyesuaian jam operasional SPBU.
Di Sulawesi Tenggara, kondisi penyaluran BBM dilaporkan sudah kondusif. Bahkan, rata-rata penyaluran harian sepanjang September 2026 tercatat meningkat 22,7 persen dibandingkan rata-rata normal pada Januari-Mei.
Untuk menjaga kelancaran pelayanan, Pertamina menambah jam operasional SPBU dan mengoptimalkan penggunaan nozzle Pertalite.
Pertamina juga berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dalam melakukan penertiban terhadap pengecer.
Selain itu, diterapkan batas maksimal pengisian BBM per hari yang disesuaikan dengan kapasitas tangki standar kendaraan. Kebijakan ini ditujukan agar distribusi BBM tetap merata dan tidak terpusat pada pembelian dalam jumlah berlebihan.
Berbeda dengan Sultra, kepadatan masih ditemukan di Sulawesi Tengah, terutama pada jam sibuk penyaluran Biosolar.
Kondisi tersebut juga terjadi di Kabupaten Buol yang saat ini hanya memiliki dua SPBU reguler. Untuk mengantisipasi gangguan pasokan, Pertamina meningkatkan suplai sekitar 5 persen dari rata-rata penyaluran normal harian.
Pertamina juga mengoptimalkan Marshall SPBU untuk membantu mengatur antrean. Koordinasi dengan Depot Tolitoli dilakukan agar pengiriman ke Buol dapat diprioritaskan.
Di sisi lain, pengawasan penyaluran diperketat, termasuk memastikan kesesuaian QR Code dengan nomor polisi kendaraan sesuai dengan standar operasional prosedur.
Sementara itu, kondisi di Provinsi Gorontalo masih mengalami kepadatan pada jam-jam tertentu. Namun, situasi dinilai terkendali dan barisan kendaraan panjang seperti sebelumnya sudah tidak lagi ditemukan.
Pertamina mempercepat distribusi dari Depot Gorontalo dengan membuka proses penyaluran lebih awal. Penggunaan nozzle Pertalite di sejumlah SPBU juga dioptimalkan sebagai jalur tambahan untuk mempercepat pelayanan kepada konsumen.
Pertamina turut melakukan build up stok pada SPBU yang berpotensi mengalami kondisi kritis. Penentuan stok dilakukan dengan mempertimbangkan realisasi penyaluran dan kebutuhan masing-masing SPBU.
Pemantauan stok, realisasi penyaluran serta kondisi SPBU dilakukan secara berkala. Pengawasan transaksi juga diperkuat guna meminimalkan potensi penyalahgunaan dan pembelian BBM secara berulang.
Koordinasi dengan Tim Satgas BBM Provinsi Gorontalo juga terus dilakukan untuk memperkuat pengawasan distribusi BBM bersubsidi.
Di Sulawesi Utara, antrean masih terpantau pada penyaluran Biosolar di Kota Manado.
Pertamina merespons kondisi tersebut dengan meningkatkan penyaluran harian Biosolar sebesar 8 persen dibandingkan Agustus 2026. Nozzle Biosolar juga ditambah untuk memperbesar kapasitas pelayanan.
Sementara itu, penyaluran Pertalite di wilayah Sulawesi Utara terpantau aman dan kondusif.
Untuk wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, kondisi antrean di SPBU saat ini dilaporkan sudah kembali normal. Meski demikian, Pertamina tetap memperkuat pasokan dengan menambah suplai Pertalite sebesar 35 persen dan Solar sebesar 4,4 persen.
Sejumlah langkah operasional juga tetap dijalankan, antara lain penambahan jalur pelayanan Pertalite, perpanjangan jam operasional SPBU dan Depot Makassar, serta penambahan operator dan Marshall SPBU.
Sebelumnya, pengaturan pelayanan juga dilakukan melalui sistem ganjil-genap pada 13-20 September 2026 serta pengaturan pengisian BBM untuk kendaraan besar pada malam hari.
Lilik menegaskan, seluruh langkah tersebut terus dievaluasi sesuai perkembangan kondisi di masing-masing daerah.
“Setiap wilayah memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, penanganannya juga kami sesuaikan, mulai dari penguatan suplai, penyesuaian jam operasional, penambahan fasilitas pengisian, sampai penguatan pengawasan di SPBU,” ujarnya.
Pertamina, lanjut Lilik, juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat penegak hukum dan pihak terkait untuk menjaga agar penyaluran BBM tetap tertib.
Masyarakat pun diimbau membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan.
“Kami mengimbau agar pembelian dilakukan sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Dengan begitu, distribusi BBM dapat berjalan lebih merata dan masyarakat yang membutuhkan dapat tetap terlayani,” tandasnya.
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memastikan pemantauan stok, penyaluran dan pelayanan SPBU akan terus dilakukan di seluruh wilayah Sulawesi. Penyesuaian distribusi akan dilakukan berdasarkan perkembangan kebutuhan masyarakat dan kondisi lapangan.(Rls)












