Persepsi

Gorontalo Memulai

×

Gorontalo Memulai

Share this article
Gorontalo Memulai
Antropolog, Anak Gorontalo. Husin Ali

KETIKA bahasa ibu perlahan menjauh dari rumah, sebuah kota mencoba memanggilnya pulang, ulasan sederhana tentang Keputusan Walikota Gorontalo mewajibkan berbahasa Gorontalo.

Berita Terkait:  Negeri Kaya yang Tak Memberi Kerja

Oleh: Husin Ali
Antropolog, Anak Gorontalo 

Suatu pagi, saya mendengar seorang ibu berbicara kepada anaknya dalam Bahasa Gorontalo. Sang anak mendengarkan dengan saksama, tetapi sesekali wajahnya menunjukkan tanda bertanya. Ia memahami sebagian, tetapi tidak seluruhnya.

Berita Terkait:  Yang Menyatukan Warga Ternyata Bukan Kafe Mewah, Tapi <i>Kursi Lipat</i>

Percakapan itu sederhana. Tidak ada yang istimewa. Tetapi justru dalam kesederhanaan itulah saya melihat sesuatu yang sedang berubah di Gorontalo.

Dulu, seorang anak belajar bahasa bukan dari buku. Ia belajar dari suara ibunya ketika dibangunkan, dari nasihat ayahnya, dari cerita neneknya, dari percakapan tetangga, dari candaan di halaman rumah. Bahasa tumbuh bersama kehidupan. Anak tidak merasa sedang belajar bahasa karena bahasa memang menjadi bagian dari hidupnya.

Berita Terkait:  Korban Bencana Pohon Tumbang dan Lansia dapat Bantuan Pemkot, Disalurkan Door To Door

Kini keadaan mulai berbeda.

Dalam sebuah diskusi tentang ortografi Bahasa Gorontalo, muncul kegelisahan yang sulit diabaikan: festival budaya dan bahasa semakin banyak, tetapi penggunaan Bahasa Gorontalo dalam kehidupan sehari-hari justru semakin sulit ditemukan.

Berita Terkait:  Kampung Jawa – Gorontalo (Ziarah dan Sejarah)

Paradoks itu seharusnya membuat kita berhenti sejenak.

Kita mungkin semakin rajin mempertunjukkan kebudayaan, tetapi apakah kita masih menghidupinya? Kita mungkin semakin sering berbicara tentang bahasa daerah, tetapi apakah anak-anak kita masih menggunakannya?