Pencucian Uang di Balik Trump-Putin

×

Pencucian Uang di Balik Trump-Putin

Share this article
PROGRAM: Donald Trump. (Carlos Barria/Reuters)

Hargo.co.id –  Kedekatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Kremlin sedang menjadi sorotan. Selain Komite Intelijen Senat dan Komite Intelijen House of Representatives yang masih terus menggali data dan fakta, media tidak berhenti mencari informasi tentang hubungan istimewa tersebut.

Kemarin (29/3) USA Today menyajikan beberapa fakta tentang kedekatan Trump dengan Kremlin atau tepatnya Presiden Vladimir Putin dan kroninya. Menurut surat kabar yang berkantor pusat di McLean, Fairfax County, Negara Bagian Virginia, tersebut, hubungan dua tokoh dunia itu sudah terjalin baik selama beberapa dekade karena bisnis realestat.

Untuk mengembangkan usahanya di sektor realestat, Trump yang ketika itu masih murni menjadi pebisnis merambah pasar Rusia. Sasarannya sudah jelas. Yakni, para miliarder dan penguasa yang menganut paham oligarki.

Demi bisnis, Trump mengabaikan latar belakang dan sepak terjang para mitranya di Negeri Beruang Merah tersebut. Itulah yang membuat hubungan mereka diwarnai pencucian uang dan kriminalitas.

Seiring berjalannya waktu, Trump juga menjalin kemesraan dengan FOP alias friends of Putin (teman-teman Putin) yang tinggal di dalam dan luar Rusia. Khususnya di AS dan Asia Tengah. ’’Hasil pencucian uang dari orang-orang kepercayaan Presiden Putin-lah yang mengalir ke Trump Organization. Jika mereka berhenti mengalirkan dana, Trump Organization akan hancur,’’ ungkap Ken McCallion, mantan jaksa federal AS.

Dia menyatakan, hubungan baik yang terjalin selama bertahun-tahun tersebut sedikit banyak berkontribusi pada kebijakan Trump. Dugaan itulah yang kini diselidiki Senat dan House of Representatives (DPR) serta FBI. Termasuk, apakah kedekatan Trump dan Kremlin itu pula yang mengantarkan taipan 70 tahun tersebut ke kursi presiden dalam pilpres tahun lalu.

Masa kampanye pilpres AS diwarnai dengan skandal peretasan data digital oleh Rusia. Saat itu, yang menjadi korban adalah Partai Demokrat. Publikasi masif data Demokrat dan pencapresan Hillary Clinton itu menuai reaksi besar. Bahkan, popularitas Trump sempat naik karena skandal tersebut. Kasus tersebut lantas berlanjut dengan dugaan rekayasa suara dalam pilpres.

Sejauh ini, senat maupun DPR dan FBI belum mendapat data maupun fakta yang secara gamblang membuktikan dugaan tersebut. Namun, benang merah segala hal yang disangkakan terhadap Trump terkait dengan Rusia mulai terlihat. Dalam waktu dekat, senat menanyai Jared Kushner, menantu Trump, yang diyakini punya banyak informasi penting seputar hubungan sang presiden dengan Putin.

Sebelum semua terbongkar, Trump yang tetap tidak mau memublikasikan dokumen pembayaran pajaknya itu menepis tuduhan adanya hubungan istimewa antara dirinya dan Rusia. ’’Saya tidak pernah bersepakat dengan Rusia. Saya tidak akan mungkin membuat kesepakatan dengan Rusia karena sejak dulu hubungan kita (AS-Rusia, Red) jauh. Saya juga tidak pernah berutang kepada Rusia. Apa pun,’’ tegasnya Februari lalu.

Ya, Trump memang tidak pernah bernegosiasi atau meneken kesepakatan dengan Rusia. Sebab, selama ini, Trump Organization selalu memercayakan proses negosiasi kepada anak perusahaan. Biasanya, anak-anak perusahaan itulah yang menggunakan jasa pihak ketiga. Karena itu, memang tidak mudah mencari jejak kesepakatan antara Trump dan Rusia.

Namun, pada 2013, Trump pernah menyatakan kepada Real Estate Weekly bahwa dirinya punya akses tak terbatas terhadap para pebisnis dan penguasa Rusia. ’’Saya punya hubungan yang sangat baik dengan banyak orang Rusia,’’ ujarnya dalam sebuah pertemuan dengan para penanam modal asal Rusia. Hal yang sama dipaparkan putranya, Donald Trump Jr., dalam jumpa pers di Kota Moskow pada 2008. (USAToday/hep/c5/any)