Hargo.co.id -Â Ketua DPP Partai Demokrat Dede Yusuf mengatakan, dalam sepekan terakhir ini saat dirinya melakukan kunjungan kerja ke beberapa daerah seperti Lampung, Lombok, Cirebon, dan Bandung. Masyarakat yang ditemui disana banyak menanyakan tentang situasi di Ibukota terkait dengan kondisi politik yang belakangan ini tensinya semakin meningkat.
Rupanya, kata dia, warga daerah cukup memberikan perhatian besar terhadap persoalan-persoalan politik nasional, khusus pasca Pilgub DKI Jakarta. Ada kekuatiran juga memanasnya politik di Ibukota akan berimbas ke daerah lain, hal ini amat tidak diharapkan karena masyarakat ingin hidup rukun dan tenteram.
“Saya mencoba menangkap kekuatiran masyarakat itu, polarisasi tajam antara komunitas masyarakat di Ibukota hendaknya tidak diduplikasi ke wilayah-wilayah lain yang juga memiliki kemajemukan dalam hal suku atau agama. Semua pihak harus menahan diri dan mengedepankan tenggang rasa yaitu menjaga perasaan orang lain dan memposisikan diri seperti orang lain yang bisa terluka perasaannya oleh tindak tanduk kita,” kata Dede Yusuf melalui rilisnya, Minggu (14/5).
Eskalasi politik yang meningkat belakangan ini tampak bertalian erat dengan kasus hukum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sehingga menimbulkan gelombang aksi massa pro dan kontra yang berkelanjutan. Situasi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut oleh pemerintah, karena pada kondisi terburuk bisa menimbulkan gesekan sosial.
“Kondisi itu amat tidak kita harapkan, saya berharap pemerintah melakukan langkah pro-aktif untuk meredakan ketegangan dengan mengedepankan jalan ‘dialog’. Sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia, sudah tepat bilamana pemerintah mengintensifkan dialog kedua pihak masyarakat yang berseberangan,” tukas dia.
“Jangan sampai tindakan represif kepada masyarakat dijadikan sebagai langkah prioritas, saya yakin dialog adalah solusi terbaik. Kita tidak ingin pula masyarakat dibentur-benturkan oleh pihak yang bisa memperkeruh keadaan. Kita tunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia adalah bangsa yang dewasa dalam berdemokrasi,” tambah Dede Yusuf yang juga Juru Bicara Partai Demokrat ini.
Indonesia punya pengalaman masa lalu yang  cukup gemilang dalam menyelesaikan konflik komunal horizontal di beberapa daerah. Kerukunan masyarakat yang sempat terkoyak bisa dipulihkan berkat adanya pemerintahan yang mampu mempersatukan perbedaan. Disinilah peran kepemimpinan Nasional sangat dibutuhkan. Sehingga kelompok nasionalis dan santri saling dirangkul satu sama lainnya.
“Semoga pengalaman masa lalu itu bisa kita jadikan referensi untuk menjaga kondusivitas kerukunan sosial kita hari ini. Karena tantangan global ke depan semakin berat, jangan sampai energi bangsa terkuras oleh dinamika politik dan hukum semata. Persatuan bangsa serta kerukunan masyarakat tetap yang utama. Untuk itu, marilah kita berseru Indonesia bersatu,” pungkas dia. (hg/rmn)
