UWUK Hargo.co.id – Penganiayaan yang mengakibatkan meninggalnya warga Kelurahan Jole, Kecamatan Luwuk Nurholis (20) berbuntut panjang. Kemarin (24/8), solidaritas masyarakat Saluan dari Kecamatan Kintom mengepung Luwuk.
Kedatangan mereka berkaitan dengan kasus penganiayaan yang menyebabkan kematian seorang warga Kelurahan Jole, Kecamatan Luwuk, Nurholis Dayanun (20).
Sebelumnya, Nurholis Dayanun ditemukan tak berdaya di depan FKM Untika, kompleks Kehutanan, Kelurahan Mangkio Baru, Kecamatan Luwuk, Selasa dini hari (22/8) sekira pukul 01.00 Wita. Di samping korban juga ditemukan sebilah parang panjang. Dari hasil penyelidikan awal kepolisian, sebelum korban tergeletak, korban sempat terlihat di rumah seorang warga setempat berinisial AN.
Setelah itu korban yang diketahui bekerja sebagai tenaga honorer petugas pemadam kebakaran (damkar) Kabupaten Banggai ini langsung pergi meninggalkan rumah AN. Korban berboncengan dengan DA. Tak selang berapa lama, korban sudah ditemukan tergeletak dengan kondisi memar di bagian wajah. Ada juga bercak darah di aspal sekitar korban. Kematian yang disinyalir dikeroyok itu lantas memicu persingungan etnis tertentu.
Nah kemarin, dengan menggunakan sejumlah truk dan kendaraan roda dua warga mendatangi sejumlah titik yang diduga tempat mancari nafkah warga Muna, seperti pelabuhan rakyat Luwuk, pelabuhan Luwuk, pasar Simpong, dan gudang semen di depan Hotel Kota, bahkan menuju tempat pemukiman warga Muna di Kelurahan Mangkio Baru, Kecamatan Luwuk.
Pergerakan massa berpencar pada sejumlah titik yang menjadi sasaran itu terjadi serentak dan begitu cepat. Dari sasaran-sasaran tersebut, nasib sial menimpa seorang penjaga plang pintu Shopping Mall Luwuk. Ia menjadi korban amukan massa gara-gara disangka warga etnis tertentu.
Baca :Â Penganiayaan di Luwuk, Ini 3 Pelakunya…
Padahal tidak. Saat itu, penjaga plang pintu keluar itu masih menggunakan rompi. Tiba-tiba, puluhan orang datang ke pintu keluar Shopping Mall dan meminta petugas penjaga pintu itu menunjukan KTP. Namun karena ketakutan, korban akhirnya melarikan diri. Dari situlah korban diamuk massa karena disangka warga etnis tertentu.
Beruntung ada petugas keamanan dan security Shopping Mall yang melerai dan meredam emosi massa. Korban mengalami luka di bagian wajah serta patah gigi. Sementara itu, ratusan warga yang merangsek masuk ke pemukiman warga di Kelurahan Mangkio Baru menghancurkan kaca dan pagar rumah.
Informasi yang dihimpun ada sekitar 16 rumah yang dirusak. Kendati demikian, wartawan koran ini mencoba menghubungi pihak kepolisian, namun belum bisa memberikan keterangan. Wartawan koran ini juga mencoba memantau lokasi rumah yang dirusak, namun sebagian rumah tidak bisa dijangkau karena faktor keamanan yang belum kondusif.
Di pasar Simpong, pedagang menyelamatkan diri setelah massa masuk tiba-tiba di dalam pasar yang merupakan urat nadi perekonomian Kabupaten Banggai ini. Massa pun mengacak-acak lapak pedagang hingga berhamburan. Sementara di pelabuhan kontener Luwuk, massa juga melakukan pembakaran ban bekas.
Ketegangan sempat terjadi sekira pukul 12.20 Wita, Ratusan warga merangsek ke wilayah Kelurahan Mangkio Baru dan sekitarnya. Kedua pihak dilengkapi dengan senjata tajam maupun tumpul. Beruntung petugas keamanan sigap dengan mengeluarkan tembakan peringatan untuk membubarkan massa. Sepanjang hari kemarin, letusan tembakan peringatan acapkali terdengar.
Bentrokan massa ini nyaris terjadi saat Kapolres Banggai AKBP Heru Pramukarno bersama Dandim 1308 Luwuk Banggai Letkol Inf Sapto Irianto sedang mengumpulkan warga etnis tertentu sembari memberikan pengarahan agar menenangkan diri di komplek Kelurahan Mangkio Baru, Kecamatan Luwuk.
Tiba-tiba, puluhan massa muncul dari arah pertigaan All Swalayan Pelita menuju Mangkio Baru. Petugas keamanan dari TNI/Polri yang melihat situasi konflik melerai kedua pihak. Namun warga tetap ngotot. Akhirnya petugas pun mengeluarkan tembakan peringatan untuk membubarkan massa.
Kapolres Banggai bersama Dandim langsung memerintahkan anggotanya menjaga ketat kedua pihak. Sementara warga yang menyerang didesak untuk mundur hingga ke pertigaan rental Hersal Pelita. Ratusan warga yang menyerang akhirnya berkumpul di lokasi tersebut.
Sesekali mereka memaksa masuk, namun berhasil dihadang petugas. Warga terus berdatangan di kompleks Pelita. Akses jalan di lokasi tersebut lumpuh total. Petugas keamanan dengan persenjataan lengkap berjaga di lorong lorong, jalan poros maupun masuk ke dalam permukiman warga, bahkan naik ke bukit tempat pemukiman untuk mengamankan situasi.
Sekira pukul 15.00 Wita, atas permintaan Kapolres dan Dandim, pasukan Kompi Senapan C Yonif 714 Sintuwu Maroso tiba di lokasi. Kendaraan truk mengangkut puluhan anggota TNI ini langsung merangsek masuk hingga ke tempat berkumpulnya warga Saluan. Massa pun pecah berhamburan. Tak selang berapa lama, massa akhirnya membubarkan diri menuju kantor DPRD Banggai untuk melakukan pertemuan dengan seluruh unsur Forkopimda.
Tembakan di Gedung Parlemen
Sementara itu ketegangan masih berlanjut hingga petang kemarin. Letusan senjata laras panjang milik anggota TNI pecah di gedung parlemen Lalong, Kamis sore (24/8). Massa aksi yang terfokus pada penjelasan hasil pertemuan di DPRD langsung kocar-kacir menyelamatkan diri.
Namun setelah itu, massa makin beringas dengan terus menyuarakan aspirasi di gedung wakil rakyat tersebut. Bupati, Kapolres, Dandim dan seluruh unsur Forkopimda lainnya langsung masuk ke dalam gedung parlemen. Mereka juga menyelamatkan diri.
Massa yang kembali mengamuk tidak terima dengan tindakan aparat keamanan yang gampang melepaskan letusan. Padahal menurut warga, saat itu Dandim yang sedang memberikan arahan belum terancam. “Kami datang membawa aspirasi, tapi dibalas dengan tembakan. Ada apa ini,†teriak seorang warga dengan nada gemetar.
“Saya akan melapor langsung ke Mabes di Jakarta,†ancam pria berbaju putih, bercelan pendek levis itu.
Kendati demikian, amarah warga yang makin bringas itu mampu diredam pihak keamanan. Warga pun terlihat dingin. Lalu menjelang salat magrib, warga pun bubar dengan tertib.
Sementara itu, Dandim 1308 Luwuk Banggai Letkol Inf Sapto Irianto, memohon maaf atas letusan yang menyebabkan massa aksi syok. “Saya mohon maaf kejadian sore tadi (kemarin)†ujarnya saat memberikan arahan di rumah jabatan Ketua DPRD Banggai di komplek Lumba-lumba, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, kemarin malam.
Letusan itu tidak ada maksud apa-apa. Sebab pada saat itu, ketika hasil pertemuan disampaikan kepada massa aksi, justru masyarakat tidak terima. “Nah inilah pemicunya. Letusan itu hanya amunisi hampa,†tutur Dandim.
Polisi Tetapkan 7 Tersangka
Sementara itu, Kapolres Banggai AKBP Heru Pramukarno SIK, mengungkapkan, pihaknya sudah menetapkan 7 tersangka dari 10 terduga pelaku yang diamankan. Dari tujuh tersangka tersebut, empat orang dewasa, sementara tiga masih kategori anak di bawah umur.
“Sudah ada 7 tersangka. Mereka ini bukan hanya warga Muna saja, ada juga Saluan maupun Gorontalo,†beber Kapolres kepada Luwuk Post seusai menenangkan kedua pihak yang nyaris bentrok tersebut. olehnya itu, Ia meminta kepada masyarakat Kabupaten Banggai agar menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada pihak kepolisian. “Kami akan proses kasus ini dengan cepat,†kata AKBP Heru.
Mantan Kapolres Bangkep ini mengimbau kepada masyarakat selalu menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat. Jangan gampang terprovokasi dengan isu isu sesat yang justru akan memperkeruh situasi.
‘Saya harap masyarakat tenang,†harapnya. Hal serupa juga disampaikan Dandim 1308 Luwuk Banggai Letkol Inf Sapto Irianto. Sementara itu Kapolres saat ditanya kembali soal kronologis lengkap kasus penganiayaan tersebut, belum bisa membebarkan. “Kami belum bisa sampaikan, karena demi kepentingan penyelidikan,†jawabnya.(jpg/hg)
