Hari Patriotik 23 Januari, Harus Masuk Kurikulum

×

Hari Patriotik 23 Januari, Harus Masuk Kurikulum

Share this article
Seri kajian bertajuk patriotisme baru dan pendidikan dasar kebangsaan dalam rangka menyambut peringatan Hari Patriotik 23 Januari 1942 digelar LEKSAMA Gorontalo di Gedung LRC PGSD, Senin, (22/1). (foto : Istimewa)

GORONTALO,Hargo.co.id –Setiap tanggal 23 Januari, masyarakat Gorontalo rutin memperingati Hari Patriotik. Momentum bersejarah dimana Gorontalo untuk pertama kalinya mengibarkan bendera merah putih sebagai simbol terbebasnya negeri berjulukan Serambi Madinah ini dari tangan para penjajah.

Episode panjang hingga lahirnya peristiwa 23 Januari juga mengandung spirit perjuangan yang bisa menjadi teladan berharga bagi generasi hari ini.

Sayangnya, semangat tersebut belum tereplikasi dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Gorontalo dan peringatan 23 Januari hanya menjadi agenda rutinitas tahunan yang bersifat seremonial.

Karenanya diperlukan penyegaran ulang tentang pengetahuan peristiwa-peristiwa heroik berkaitan dengan peringatan 23 Januari sehingga sejarah penting ini tidak luntur begitu saja tetapi hadir menjiwai masyarakat Gorontalo.

Demikian di antara catatan penting yang terungkap dalam Seri kajian pendidikan bertajuk patriotisme baru dan pendidikan dasar kebangsaan yang digelar Lembaga Kajian Sekolah dan Masyarakat (LEKSAMA) Gorontalo dalam rangka menyambut Hari Patriotik 23 Januari 1942 di Gedung LRC PGSD, kemarin, (22/1).

Kajian ini menghadirkan sejumlah akademisi, tokoh-tokoh sejarah, perwakilan dari organisasi dan lembaga pendidikan, LSM dan para mahasiswa.

Abdulah Karim, salah satu tokoh masyarakat Gorontalo menyimpulkan ada banyak hal yang seharusnya butuh diseriusi tentang sejarah 23 Januari.

Salah satunya, perlu diungkap seluruh tokoh-tokoh penting yang terlibat dalam peristiwa bersejarah tersebut.

Disamping itu upaya untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat juga harus lebih baik. Tidak saja menjadi bahan bacaan bagi kalangan akademisi, tapi sepatutnya masuk dalam kurikulum pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan.

Hal penting lainnya harus ada penghargaan yang lebih berarti dari pemerintah atas jasa-jasa mereka.

“Para pahlawan Gorontalo yang terlibat dalam peristiwa 23 Januari masih kurang penghargaan. Contoh kasus, nama Nani Wartabone saja hanya sebatas alas jalan.

Kalau di daerah-daerah lain, pahlawannya dijadikan nama untuk lembaga-lembaga penting atau paling tidak aset berharga yang dimiliki daerah tersebut,” tuturnya.

Senada dengan Abdullah Karim, Dosen Fakultas Ilmu Sosial, UNG, Sukarman mengatakan, penting bagi semua pihak untuk menseriusi agar bagaimana para pahlawan patriotik tersosialisasi kepada masyakat.

Termasuk bagaimana mendorong spirit gotong-royong perjuangan yang telah dicontohkan para pahlawan patriotik agar dapat diteladani oleh masyarakat.

Di antara cara yang bisa dilakukan adalah memasukkan pendidikan 23 Januari dalam kurikulum pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan di Gorontalo.

“Saya kira ini perlu ada tindaklanjut, jika kita ingin bicara soal peristiwa 23 Januari,” terangnya.
Kepala Divisi Kajian LEKSAMA Gorontalo Chandra Cuga mengatakan pemahaman tentang peringatan 23 Januari memang butuh penyegaran ulang.

Bagaimana sejarah Patriotik betul-betul dimaknai secara utuh baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Karena itu lewat seri kajian demikian, LEKSAMA duduk bersama pihak-pihak terkait untuk mencoba menerjemahkan dan mereflesikan apa substansi dari peringatan Hari Patriotik sehingga tidak saja menjadi agenda seremonial, tetapi hadir sebagai bagian penting dalam semangat kebangsaan Indonesia yang dimulai dari Gorontalo.

“Jadi kita ingin bagaimana hari patriotik dapat diletakkan secara utuh,” katanya. Disampaikan Chandra, lewat seri kajian ini pula LEKSAMA ingin mengumpulkan bahan-bahan sejarah yang lebih komplit, termasuk tentang tokoh-tokoh patriotik.

Menurut Chandra, secara histrois jika berbicara tentang 23 Januari memang tidak bisa dilepaskan dari tokoh Nani Wartabone. Tetapi ternyata ada banyak tokoh lainnya yang tergabung dalam komite 12 dan perlu untuk diceritakan.

Sehingga itu masih perlu pengembangan riset yang lebih mendasar dan menjadi pekerjaan rumah bagi para peneliti maupun akademisi.

“Tadi sebagaimana terungkap dalam diskusi, ada banyak tokoh penting yang tidak saja berasal dari Gorontalo. Begitu juga yang terlibat di dalamnya bukan saja orang muslim, tapi ada juga tokoh-tokoh non muslim,” terangnya.

Problem lainnya lanjut Chandra, peristiwa 23 Januari belum mendapat tempat proporisonal, sehingga tidak heran generasi hari ini kering dari materi 23 Januari. Anak-anak di sekolah dasar tidak mengenal dekat dengan sejarah perjuangan daerah mereka sendiri.

Karena itu entripoint yang diharapkan lahir dari kajian ini adalah rekomendasi untuk melengkapi kekurangan-kekurangan tersebut sekaligus bagaimana menyikapi hari patriotik untuk tahun-tahun kedepan.

“Salah satu target kita adalah mengawinkan premis bagaimana melahirkan patriotisme baru dan menemukan satu cara tentang pendidikan kebangsaan yang khas bagi Gorontalo,” pungkasnya. (and/hg)