Ketika Warga Gorontalo Berjuang Melawan Penyakit Kronik di RSP Makassar

×

Ketika Warga Gorontalo Berjuang Melawan Penyakit Kronik di RSP Makassar

Share this article
KONDISI pasien dan para kerabatnya di Rumah Singgah (RSP) Gorontalo di Kota Makassar. Warga Gorontalo yang ingin berobat di Makassar gratis tinggal di tempat ini.(ROY TILAMEO/GORONTALO POST)

Kota Makassar merupakan kota metropolitan terbesar di Indonesia Timur.Saat ini di daerah berjuluk kota daeng tersebut terdapat sekumpulan warga kurang mampu asal Gorontalo berada di Rumah Singgah (RSP), Kota Makassar milik Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo. Mereka datang berobat dengan beragam diagnosa penyakit berat/kronik yang memerlukan penanganan khusus

Laporan : Roy Tilameo – Makassar

Hargo.co.id – Di rumah permanen berukuran 20×15 meter itu terdapat sejumlah pasien asal Gotontalo. Rumah tersebut dinamakan RSP. Yang berhak tinggal di RSP yakni peserta PBI (Penerima Bantuan Iuran). Selama menjalani proses pengobatan, mereka dapat menempati fasilitas rumah di bawah pengelolaan seksi PJK (Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan) tersebut tanpa dipungut biaya sepeserpun alias gratis.

Saat ditemui Gorontalo Post, para pasien tampak berkumpul bersama di dalam rumah yang terletak di bilangan perumahan BTN Wesabe Blok B No. 47. Wartawan koran ini mencoba berbincang dengan beberapa warga yang masing-masing saling curhat dengan kondisi penyakit kronik yang mereka alami saat ini.

Mengapa dikatakan penyakit kronik, karena memang penyakit mereka bukan penyakit biasa pada umumnya seperti panas, demam, batuk, pilek, asam urat, darah tinggi atau asma. Namun penyakit mereka harus membutuhkan tindakan medis khusus oleh dokter spesialis dan fasilitas kesehatan yang keberadaannya belum tersedia Gorontalo.

Yuyun Maliki (28) warga Kelurahan Libuo, Kecamatan Dingingi, Kota Gorontalo, isalnya. Sudah 5 tahun dia menderita penyakit kanker di bagian leher (Tiroid).

Begitu juga dengan Azhar Husen (21) warga Tenilo Kecamatan Kota Barat yang menderita penyakit hipospadia atau kondisi dimana saluran yang menghubungkan antara kandung kemih dengan alat kelaminnya tidak dalam posisi normal.

Penyakit itu dideritannya semenjak lahir hingga remaja. Dan saat ini sudah menjalani operasi yang kedua kalinya di rumah sakit Wahidin Makassar rujukan Dinkes Provinsi Gorontalo. Operasi kali pertama dilakukan pada 2016 silam.

Lain halnya dengan Nurhayati Ali (30) warga Kelurahan Talumolo Kecamatan Dumboraya yang didiagnosa menderita penyakit CHF atau penyakit jantung Koroner, dimana jantungnya tidak mampu memompa darah secara optimal.

Bahkan, di dalam jantungnya sudah terdapat cairan yang cukup banyak sehingga dilakukan operasi penyedotan cairan pada 2014. Dan saat ini, operasi kedua akan dilakukan di RS Wahidin yakni untuk memperbaiki salah satu katup pada jantungnya yang bermasalah.

Paling memiriskan adalah Mohamad Halidi. Bocah yang baru berusia 2 tahun warga Desa Lawonu Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo itu mengalami cacat bawaan sejak lahir yakni tidak punya anus.

Hingga kini, bocah malang itu telah dua kali menjalani operasi di RS Wahidin untuk memperbaiki saluran pembuangan kotoran pada anak tersebut. Operasi pertama dilakukan pada 2016 silam.

Namun kondisi bocah tersebut belum menunjukan perkembangan yang signifikan. Bahkan saat ini perawatannya di RS Wahidin sudah lebih dari sebulan.
Beragam penyakit berat yang diderita para pasien ini praktis membutuhkan penanganan khusus hingga harus di rujuk ke RSUP Wahidin Sudirohusodo, Makassar.

Dari empat pasien itu tiga diantarannya sudah menjalani operasi sejak dua pekan lalu dan kini masih dalam proses pemulihan rawat jalan di rumah singgah. Sementara satu pasien yakni Nurhayati Ali masih menunggu jadwal operasi yang direncanakan pada Selasa (6/2/18) pekan depan.

Sejumlah keluarga pasien mengungkapkan suka duka mereka berjuang melawan penyakit berat yang dialami oleh anggota keluarga mereka. Haris Halidi, pria yang keseharianya sebagai penjual ikan itu mengaku bahwa dirinya datang jauh-jauh ke Makassar meninggalkan sanak keluarga di Gorontalo demi pengobatan anaknya yang dilahirkan tidak memiliki anus. Selama beberapa tahun terakhir anaknya kata Haris menjerit kesakitan ketika hendak buang air besar.

“Alhamdulillah saya merasa bersyukur telah mendapat fasilitas biaya berobat dari Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Kesehatan untuk operasi anak saya,” kata Haris Halidi.

Saat ini terang Haris, anaknya sudah bisa buang air besar melalui anus buatan. Menurutnya, mata pencahariannya hanya sebagai penjual ikan dengan menggunakan sepeda motor, tentu tidak mencukupi biaya operasi yang mencapai puluhan juta rupiah.

Senada dikatakan Ahmad Husain (50), pria berprofesi sebagai pengemudi bentor ini juga bersyukur selain mendapat fasilitas biaya berobat di rumah sakit dari Pemprov Gorontalo, pihaknya juga telah mendapat fasilitas rumah singgah.

“Kalau tidak ada rumah singgah ini torang nintau mo tinggal dimana. Sewa kos kosan sampai Rp 1,5 juta perbulan, torang mana mampu bayar begitu dengan kondisi keuangan yang pas-pasan,” ungkap Ahmad Husain.

Program nyata dari Gubernur Rusli Habibie yang langsung dirasakan masyarakat miskin seperti ini terus berkesinambungan dan bahkan lebih ditingkatkan lagi di tahun-tahun berikutnya, harap ayah dari pasien Azhar Husain ini.

Demikian pula dikatakan Hendra, suami dari Yuyun Maliki pasien kanker di leher itu sudah 2 bulan terakhir ini tidak ada pendapatan demi untuk mendampingi istrinya menjalani operasi di Makassar.

“Syukur untuk torang punya tampa tinggal di rumah singgah yang depe jarak dekat dari rumah sakit. Jadi biaya transportasi bisa hemat,”ungkap pria yang juga berprofesi sebagai pengemudi bentor ini.Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Trianto S Bialangi melalui Kepala Seksi PJK, Afriani Katili mengatakan, keberadaan para pasien kurang mampu asal Gorontalo di RSP Makassar sama sekali tidak dipungut biaya untuk tempat tinggal. RSP, dijelaskan Afriani, mulai beroperasional pada September 2016.

Anggarannya di peroleh dari APBD-P Dikes Provinsi.
Tujuan diadakannya RSP Makassar ini sebagai tempat tinggal sementara menunggu waktu pemeriksaan, jadwal operasi, maupun ruang rawat inap di RSWS.

“Kalau RSP ini yang menggagas kebetulan saya sendiri selaku kepala seksi pembiayaan kesehatan yang bertanggung jawab mengelola unit penanganan keluhan peserta JKN-KIS Prov Gorontalo,” kata Afriani.

Adapun kriteria penghuni RSP antara lain, diutamakan peserta PBI JKN-KIS, namun tidak menutup kemungkinan bisa dilayani untuk peserta non PBI juga sepanjang ada kamar yang kosong.

Kemudian melapor ke Dinkes Provinsi cq unit penanganan keluhan untuk mengisi formulir terlebih dahulu dengan melengkapi administrasi rujukan setelah itu diterbitkan surat pengantar ke petugas RSP tersebut.

Saat ini RSP Provinsi Gorontalo baru di buka untuk dua kota di dua provinsi yakni Makassar dan Manado. “Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah baik eksekutif maupun legislatif yang sangat mendukung baik dari segi anggaran maupun dukungan moril,” tandas Afriani Katili sembari berharap kedepan dapat disediakan biaya pemeliharaan RSP karena selama ini hanya sewa rumah, bahkan bila perlu pemerintah bisa memiliki sendiri RSP dan tidak sewa/kontrak lagi.(*/hg)