Layanan Tetap Berjalan Maksimal, Direktur RSAS: Rumah Sakit Tidak Boleh Menolak Pasien

×

Layanan Tetap Berjalan Maksimal, Direktur RSAS: Rumah Sakit Tidak Boleh Menolak Pasien

Share this article
ilustrasi, Foto : Smartplus Consulting

GORONTALO, Hargo.co.id – Manajemen Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS) Kota Gorontalo akhirnya angkat bicara terkait kondisi RSAS yang sedang ‘sakit’. Ditegaskan, hingga saat ini pelayanan di rumah sakit terbesar di Kota Gorontalo tetap berjalan maksimal. Demikian pula pegawai tetap bertugas sesuai Standar Operasi Prosedur (SOP).

Direktur RSAS Kota Gorontalo dr.Andang Ilato mengatakan, sampai saat ini pihaknya masih melayani pasien. Mulai dari pasien Kartu Indoesia Sehat (KIS) yang dibiayai pusat maupun pasien kartu sejahtera yang ditanggung APBD.

“Instruksi Menkes jelas. Rumah sakit tidak boleh menolak pasien. Ini kita jalankan,” terang Andang Ilato ketika diwawancarai.

Sebelumnya beredar kabar bahwa rumah sakit yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU) itu operasionalnya tidak maksimal, stok obat menipis, dan insentif pegawai untuk bulan Desember 2017 dan Januari-Februari 2018 tertunda.

Andang meluruskan kabar tersebut. Menurutnya, stok obat di RSAS Kota Gorontalo cukup tersedia karena tetap disuplai oleh distributor. Tentunya, pendistribusian obat ke RSAS memiliki jadwal khusus. Hanya saja, dia mengakui soal insentif pegawai sempat tertunda.

Andang menjelaskan, dalam melayani pasien, RSAS mengikuti dua pola pembiayaan kesehatan. Sebab, di Kota Gorontalo, Pemkot memiliki program gratis lahir sampai mati. Kebijakan ini melahirkan pembiayaan khusus bagi pemegang Kartu Sejahtera. “Pemegang kartu ini adalah mereka yang belum tercover BPJS sehingga ditanggung APBD,” terangnya.

Disamping itu lanjut Andang, ada pasien Kartu Sejahtera, Jamkesta, dan PBI Pusat yang terangkum dalam pemegang Kartu Indonesia Sehat (KIS). Mereka dicover melaui BPJS.

“Pelayanan kita untuk bulan Desember 2017 sudah kita ajukan klaimnya ke BPJS. Kemudian kita mengajukan lagi klaim susulan untuk Januari 2018. Klaimnya lebih kurang 1,5 miliar, juga tanggungan obat sekitar Rp 700 juta. Namun belum terealisasi,” jelasnya.

Andang mengungkapkan, setelah ditelusuri nampaknya persoalan ini bukan saja terjadi di RSAS. Tapi hampir di semua rumah sakit. “Nanti kita akan berkoordinasi lagi dengan Pemkot, Pemprov, dan BPJS guna menemukan solusi penyelesaian. Yang pasti layanan kita tetap jalan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Plt. Walikota Gorontalo Charles Budi Doku menyampaikan akan menindaklanjuti persoalan tersebut dan membicarakannnya dengan SKPD terkait. Dia memastikan pula layanan RSAS tetap maksimal guna memberikan jaminan kesehatan yang bermutu untuk seluruh masyarakat Gorontalo.(ndi/hg)