Hargo.co.id,Zetizen-GP- Scroll, love, comment. Scroll, love, comment. Berapa lama sih waktu yang kamu habiskan tiap hari buat Instagram? Semoga nggak seperti 3 Zetizen yang ngehabisin lebih dari empat jam sehari buat aplikasi itu. Bagaikan candu, Instagram bikin kita nggak bisa lepas berkat berbagai fitur ’’all in one’’-nya. Mulai foto, video, story, bahkan live.
Yap, Instagram merupakan visual-based social media. Mata kita dimanjakan kehadiran foto, video, dan ilustrasi menarik yang diunggah content creator di dalamnya. ’’Kekuatan Instagram adalah visual dan simplicity-nya. Secara psikologis, otak kita lebih mudah tertarik dengan hal-hal yang berbau visual,’’ terang Dr Rahkman Ardi MPsych, pakar cyberspace behavior dari Universitas Airlangga.
Instagram pun jadi media sosial yang paling digandrungi. Sebanyak 96 persen Zetizen mengaku memiliki akun Instagram. ’’Banyaknya orang yang memakai dapat mengundang orang lain untuk ikut memakai. Apalagi, generasi milenial nggak mau kehilangan koneksi dan terobsesi dengan informasi terbaru,’’ sambungnya Ardi.
Rasa gelisah ketinggalan informasi pun ikut jadi pemicu. Hal tersebut diakui Medeline Kusuma, mahasiswi asal Stikosa AWS Surabaya. Sehari-hari dia menghabiskan waktu hingga lima jam hanya untuk Instagram! ’’Total, dari pagi sampai malam, bisa segituan durasinya. Mulai stalking seseorang, liat story teman, cek beranda, sampai liat explore,’’ ungkapnya.
Instastory pun dianggap Medeline sebagai fitur yang paling banyak menghabiskan waktu. ’’Story kan pasti banyak. Ada ratusan, bergantung jumlah following-mu. Bahkan, kalau seleb, story-nya bisa banyak banget sampai wujudnya titik-titik gitu di layar,’’ lanjutnya.
Ternyata, dalam teori psikologi, terdapat istilah fear of missing out (FOMO). Menurut laman Time, FOMO adalah perasaan ketertinggalan informasi atas hal yang dilakukan dan diketahui sekelilingmu. Selanjutnya, BBC News menyebutkan, FOMO dapat mengakibatkan ketergantungan pada gadget. Sebab, dari gadget (yang terkoneksi dengan internet) itulah, informasi terbaru berasal.
Mengenai FOMO, Ardi menambahkan bahwa problemnya bukan hanya pada psikologis manusia, tetapi dari gadget dan platform di dalamnya. ’’Gadget didesain untuk membuat orang terikat secara intim dengan memainkan kebutuhan psikologis manusia,’’ terangnya.
Parahnya lagi, Instagram bisa memunculkan rasa iri dan cemburu mengenai kehidupan orang lain yang ’’terlihat’’ lebih baik daripada yang kita miliki selama ini. Misalnya, ketika teman upload foto berlibur, lantas timbul keinginan dari diri kita untuk melakukan hal yang sama. Alih-alih merasa iri terhadap kehidupan orang lain, lebih baik mulailah bersyukur atas apa yang kita miliki.
’’Kecemburuan dapat terjadi jika seseorang mulai membandingkan. Di mana pun di saat ada niat untuk membandingkan, di situlah kecemburuan dapat terjadi,’’ tutur Ardi.
Well, kalau Instagram udah mulai ’’menyita’’ hidupmu, apalagi sampai timbul rasa iri dan berlomba buat pamer, mungkin udah waktunya buat mengurangi porsi Instagram-an. ’’Hitung berapa lama kita online setiap hari. Dengan begitu, nanti kita tahu berapa banyak waktu produktif dan waktu yang kita buang percuma,’’ tegasnya. (nen/c22/fhr/hargo)
Jumlah responden 1.114 orang. 9 di antara 10 Zetizen membuka Instagram tiap hari.
Hal yang bikin Zetizen betah Instagram-an (3 tertinggi):
Nyari hiburan/referensi 53%, Ngepoin teman-teman 27%, Biar nggak ketinggalan tren 13%
Dampak negatif Instagram yang dirasakan Zetizen (3 tertinggi):
Sering lupa waktu 48%, Envy sama gaya hidup orang lain 27% ,Jadi suka mengekspos diri 13%
67 persen Zetizen merasa bahwa mengakses Instagram itu bermanfaat, tapi bukan kebutuhan primer.
Vidia Sulistiya
Ilmu Komunikasi, UNG
Mengurangi Rasa Ingin Tahu
Punya rasa ingin tahu yang tinggi itu kadang baik, tapi kadang-kadang juga tidak baik. Contohnya seperti di Instagram. Rasa ingin tahu atau “Kepo” yang berlebihan terhadap sesuatu atau seseorang justru menjadi tidak baik. Agar tidak kecanduan Instagram, aku biasanya hanya membuka Instagram seperlunya saja dan mencoba untuk membuat rem terhadap diri sendiri. Aku tidak mau menghabiskan waktuku yang sebenarnya bisa aku gunakan untuk melakukan hal-hal lain yang lebih bermanfaat menjadi terbuang percuma karena terlalu lama stalking di Instagram. Aku mencoba menerima bahwa terjadang tidak tahu apa-apa itu justru membuatku bahagia. (ZT-08)

