Warga Dembe 1 Tolak Direlokasi

×

Warga Dembe 1 Tolak Direlokasi

Share this article
RUMAH warga di Kelurahan Tenda Kecamatan Hulondalangi, Kota Gorontalo yang rawan terjadi longsoran batu gunung.

Hargo.co.id – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo untuk melakukan relokasi rumah-rumah warga yang tinggal di lokasi rawan longsor seperti di Kecamatan Hulonthalangi dan Kecamatan Kota Barat menuai pro dan kontra dari warga. Upaya relokasi rumah itu menyusul rentetan kejadian longsoran batu gunung yang menelan korban jiwa di dua wilayah tersebut.

Seperti yang diungkapkan Erna Adam seorang pensiunan PNS warga Dembe 1 di Kecamatan Kota Barat saat diwawancarai Gorontalo Post mengatakan, ia tidak setuju jika Pemkot akan merelokasi rumahnya untuk pindah ke tempat lain. “Memang rumah saya berada dibawah kaki gunung, yang mungkin sewaktu-waktu akan terjadi longsor baik pasir maupun batu, tetapi saya tidak akan menyetujui jika saya dipindahkan dari sini, sebab ini dirumah ini adalah warisan keluarga saya”, tegas Erna yang sudah menempati rumahnya sejak tahun 1975.

Senada dengan Erna, Sumarlin Suleman seorang ibu rumah tangga, juga menunggungkapkan, meski sudah tiga kali mengalami musibah longsor dibelakang rumahnya. Rumahnya yang ditempati sejak tahun 2007 silam itu tidak mau di relokasi ke tempat yang lain.

Alasan Sumarlin bahwa mata pencaharian suaminya sebagai abang bentor di pasar dan sudah memiliki langganan. “Jadi kalo kami akan direlokasi jauh dari tempat ini, bagaimana dengan penghasilan suaminya untuk menghidupi kedua anak saya ini,”tegas Sumarlin.

Begitu juga yang disampaikan oleh Asna Simboka, wanita yang sehari-harinya bekerja membantu suaminya sebagai nelayan di danau limboto ini, juga mengaku menolak jika dipindahkan dari rumah mereka yang berada di bukit tersebut. “Saya bukannya menolak, tetapi saya tidak mau jauh dari keluarga disini sebab tanah ini adalah warisan dan juga mata pencaharian suami berada di danau”, tegas Asna.

Saat dikonfirmasi, Adriyun Katili Lurah Dembe 1 Kecamatan Kota Barat menjelaskan, untuk kelurahan Dembe 1 yang paling rawan terjadinya longsor yaitu ada di wilayah RW 1 dengan jumlah rumah sebanyak 47, RW 2 sebanyak 73 rumah, serta RW 4 ada 90 rumah.

Menurutnya, yang paling parah berada di wilayah RW 2 yakni di kompleks wisata benteng otanaha, dimana 2 tahun terakhir sudah dua kali terjadi longsor yang mengakibatkan kerugian materi bagi warga setempat. Adriyun juga menambahkan, dari wawancara dengan warga soal rencana pemerintah kota untuk merelokasi, banyak warga yang enggan untuk direlokasi dengan alasan bahwa tanah tersebut adalah tanah warisan, dan mata pencaharian mereka berada di dekat danau,”ungkap Adriyun.

Berbeda dengan Kelurahan Dembe 1 yang tidak mau direlokasi, Warga Kelurahan Tenda Kecamatan Hulonthalangi justru setuju adanya rencana dari Pemkot untuk melakukan relokasi rumah warga.

Yusran Djibu Lurah Tenda kepada wartawan koran ini mengatakan, rumah di Kelurahan Tenda yang sangat rawan terjadinya longsor terutama longsor batu yakni berjumlah 173 rumah dari 250 rumah yang berada di kelurahan Tenda dan yang paling rawan berada di wilayah RW 3 RT 1 Sabuah.

Yusran juga berujar, pihaknya sudah menyampaikan kepada warga, terkait dengan adanya rencana ini, dan rata-rata mereka menerimanya, akan tetapi yang menjadi kendala saat ini adalah tidak adanya lahan yang akan ditempatkan bagi mereka, sebab lahan di kota Gorontalo tidak ada lagi yang memungkinkan untuk dijadikan area untuk mereka tempati.

Sebelumnya Plt. Walikota Gorontalo Charles Budi Doku menyampaikan, insiden longsor yang sudah sering berulang di Kota Gorontalo sudah harus mendapat perhatian serius. Apalagi, sekarang, sudah ada korban jiwa. Menyangkut langkah penanganani Budi menyatakan, ada dua alternatif solusi yang bisa dilakukan.

Solusi pertama, warga akan direlokasi keluar dari tempat tinggalnya sekarang. Pemerintah akan mencarikan lahan khusus sekaligus membangun rumah layak huni (Mahyani) untuk mereka. Jika itu tidak bisa, maka solusi kedua adalah membangun infrastruktur tanggul penahan longsor, sehingga jika longsor terjadi saat hujan lebat tidak akan sampai menimpa permukiman warga. (Tr -59/hg)