Klara Panderiot, Empat Tahun Digrogoti Kista Ovarium

×

Klara Panderiot, Empat Tahun Digrogoti Kista Ovarium

Share this article
Klara Panderiot, Empat Tahun Digrogoti Kista Ovarium

Tim dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo ketika melihat kondisi Klara Panderiot (38) penderita Kista Ovarium.

Hargo.co.id – Empat tahun lebih menderita penyakit kista ovarium, Klara Panderiot (38), warga Desa Kaaruyan, Kecamatan Mananggu, Boalemo, kini harus dirawat di Rumah Sakit Umum Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado, Sulawesi Utara. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Benjolan yang awalnya kecil, kini sudah melebihi ukuran kandungan sembilan bulan.

Andi Aulia Arifuddin – Boalemo

Memang tak mudah untuk meyakinkan seorang penderita salah satu penyakit berbahaya yang nyaris putus asa. Namun upaya pemerintah desa dan pertolongan sejumlah pihak terkait akhirnya bisa meyakinkan Klara Panderiot (38) dan menyetujui pengobatan penyakit kista ovarium yang sudah empat tahun dideritanya.

“Ibu Klara ini sempat mendapatkan penanganan di tahun 2017. Tapi biaya sendiri. Dan karena keterbatasan biaya, ibu Klara tidak melanjutkan perawatan saat itu,” ujar Kades Kaaruyan, Mananggu, Boalemo, Ronald Christoffel Rampi, yang dihubungi kemarin.

“Karena melihat kondisinya sudah sangat memprihatinkan, maka kami berupaya mengajak ibu Klara berobat. Awalnya dia tidak mau. Namun karena sudah kami bujuk dan jelaskan biaya pengobatannya, akhirnya ibu Klara mau,” ucap Ronald bersyukur.

Sebelumnya, berawal dari temuan tenaga Program Keluarga Harapan (PKH) di kecamatan Mananggu, kondisi Klara Panderiot sudah sangat memprihatinkan. Hal ini kemudian dilaporkan kepada Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo. Setelah didiagnosa oleh dr Zulkarnain Tambunan dari Rumah Sakit Tani dan Nelayan (RSTN) Boalemo, Klara Pandeirot mengidap penyakit kista ovarium.

Menurut Kades Kaaruyan, Ronald Christoffel Rampi, diketahui warganya tersebut sudah empat tahun lebih mengalami penyakit kandungan yang berbahaya itu. Dia menceritakan, setelah ditangani tim medis, Klara juga sudah sempat dirujuk ke RS Kandou, Manado, namun ada keterbatasan finansial sehingga tidak melanjutkan pengobatan.

Dan setahun lebih menahan sakit, Klara kembali ditemukan oleh tenaga PKH dengan kondisi yang sudah semakin memburuk. Perutnya membengkak bak wanita yang tengah hamil tua. Bahkan kondisinya lebih dari itu.

Dia sering menderita kesakitan. Ibu yang sudah berstatus janda karena ditinggal mati suaminya itu hanya dirawat oleh kedua mertuanya yakni Corry Pinontoan dan Yoles Tooleng.

Pemerintah desa pun berkali-kali membujuk Klara agar segera berobat. Didampingi Kepala Dusun Maesa, Yance Wowor, Kades Kaaruyan pun berhasil meyakinkan Klara untuk mendapat pengobatan dari Dinas Kesehatan.

Klara dirujuk ke Puskesmas Mananggu, kemudian dirujuk ke RSTN Boalemo dan karena kekurangan alat untuk pengobatan, Klara akhirnya tiba ke Rumah Sakit Prof Kandou Manado untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Penanganan untuk biaya pengobatan telah dibantu oleh Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, BPJS, dan RSTN Boalemo.

“Kami mengucapkan kepada pemerintah Provinsi Gorontalo, BPJS dan rumah sakit Tani Nelayan yang telah memberikan bantuan kepada ibu Klara untuk pengobatannya. Kami berharap juga ada partisipasi dari pihak lain untuk dapat membantu, baik secara moril maupun materil. Melihat keluarga mereka adalah orang yang kurang mampu,” tutur Ronald.

Sementara itu, Kepala Seksi Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Dikes Provinsi Gorontalo, Afriyani Katili, bahwa ketika mengetahui ada warga Gorontalo yang kesulitan dan sangat membutuhkan perawatan dan pengobatan akibat penyakit kronis.

“Pada hari Selasa pasien sudah di bawah ke RSTN. Tanggal 21 atau hari Kamis kami melihat langsung dan diputuskan sambil mengurus kelengkapannya, yang bersangkutan dirujuk ke RS Kandou, Manado,” kata Afriyani. Untuk seluruh biaya, lanjut Afriyani, sudah ditanggung oleh Pemprov Gorontalo, BPJS dan sebagian lagi dari RSTN Boalemo.

“Yang bersangkutan Bidan Dian Eselina Nasibu dan salah satu tenaga dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo. Untuk ambulance lengkap milik dari RSTN,” tandas Afriyani.(Hg)