Hargo.co.id GORONTALO – Seperti biasanya. Menjelang bulan puasa, stok elpiji 3 kilogram di Gorontalo kembali sulit untuk didapatkan. Padahal, sebagian besar, masyarakat di daerah ini, telah beralih menggunakan gas sebagai bahan bakar untuk memasak. Kelangkaan gas elpiji bersubsidi itu, terjadi di sejumlah pangkalan. Misalnya, pangkalan di sepanjang Jalan Palma dan Jalan HB Jassin, Kota Gorontalo.
Sebagaimana pantauan Gorontalo Post, Minggu (24/4), beberapa pangkalan ada yang tidak memiliki stok elpiji dan adapula yang memiliki stok, namun sangat sedikit. Para pemilik pangkalan terpaksa membatasi pembelian. Dimana satu warga hanya bisa membeli dua tabung gas elpiji 3 kg.
Namun, mengherankan, di saat pangkalan resmi minim stok dan bahkan mengalami kekosongan, sejumlah pengecer gas elpiji 3 kg justeru memiliki stok yang cukup. Hanya saja, harga jual elpiji di tingkat pengecer ini, di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni mencapai Rp 20 ribu per tabung.
Sahrudin Kai, salah seorang pemilik pangkalan elpiji 3 kg di jalan HB Jassin mengatakan, stok elpiji 3 kg sejak Februari lalu minim. Dimana, dari 100 tabung gas yang kosong, hanya 40-50 tabung saja yang diisi setiap 3 hari. “Dulu setiap 3 hari, tabung gas yang terisi sekitar 80-90 tabung, saat ini hanya bisa mencapai 40-50 buah tabung,” ungkapnya.
Soal harga, Sahrudin mengaku, ia tak bisa menaikan harga seenaknya. “Sebab harga jual elpiji ini Rp 18 ribu, itu sudah diatur oleh pemerintah. Dan karena saat ini kurang stok, saya batas penjualan. Setiap orang hanya bisa beli sebanyak 2 tabung,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang pengecer yang enggan dikorankan namanya mengaku, setiap 3 hari, ia mendapatkan elpiji 3 kg sebanyak 18 tabung dari pangkalan yang menitipkan. “Dorang pangkalan hanya titip jual sama saya. Setiap tiga hari mereka antar, 18 tabung, kalau dulu sampai 22 tabung,” ungkapnya.
Ia juga mengaku, membayar gas elpiji 3 kg ini dari pangkalan Rp 17 ribu. Dan dijual dengan harga Rp 20 ribu per tabung. “Kami jual dengan harga Rp 20 ribu karena dibebani biaya transportasi,” ungkap perempuan berlogat Manado itu.(tr-51/hargo)
