Hargo.co.id, GORONTALO – Insiden kebakaran lahan dan tempat usaha terjadi secara beruntutan di Kabupaten Gorontalo, tepatnya di Limboto pada Senin (04/03/2019).
Betapa tidak, dalam sehari terhitung tiga kasus terjadi hingga menggemparkan warga sekitar. Dari hasil investigasi sementara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyimpulkan faktor penyebab kebakaran murni karena kelalaian.
Informasi yang dirangkum media ini, kasus kebarakan diawali dari pondok pembakaran batu bata yang berlokasi di lingkungan II, Kelurahan Dutulanaa, Kecamatan Limboto. Api mendadak muncul pada dini hari sekitar pukul 04.30 wita dan melululantahkan bangunan dan fasilitas di tempat usaha tersebut.
Insiden itu terjadi ketika Sigar Umar (56) yang seyogyanya bertugas mengawasi proses pembakaran batu bata itu mendadak bertolak ke rumahnya. Niatnya hendak mencari kopi karena kebetulan rumahya pun tak jauh dari pondok tersebut.
Sekembalinya ia ke pondok, api sudah membesar dan tak dapat dikendalikan. Api baru mereda setelah tim Damkar tiba dilokasi dan melakukan upaya pemadaman. Meski begitu bangunan pondok sudah ludes.
Selanjutnya, insinden kebakaran kedua terjadi di lahan kosong milik warga bernama Asu di Limboto, tepatnya di samping SDN 14 Limboto. Kejadiannya sekitar pukul 11.00 wita. Untuk saja, api berhasil dipadamkan sehingga tidak merayap sampai ke bangunan rumah warga dan gedung sekolah.
Adapun insiden ketiga terjadi sekitar pukul 14.30 wita. Kebakaran kali ini melanda pengolahan daun woka di Desa Huidu, Kecamatan Limboto Barat. Sama seperti kasus di pondok pembakaran batu bata, kejadian di pengolahan daun woka juga dipicu karena kelalaian.
Adalah Hamza Rajak yang sedang melakukan pengolahan daun woka menggunakan tungku lepas pengawasan. Api merambat cepat hingga seluruh bangunan ludes.
Kepala BPBD Kabupaten Gorontalo Sumanti Maku menjelaskan, dari hasil pengumpulan informasi yang dilakukan pihaknya di lapangan, semua insiden ini terjadi karena kelalaian.

Insiden kebakaran di pondok pembakaran batu bata dan pengolahan daun woka misalnya, terindikasi tak ada pengawasan yang optimal. Apalagi ditambah dengan kondisi cuaca yang panas dan angin berhembus cukup kencang. Api akan cepat membesar.
“Tapi Alhamdulillah, tak ada korban jiwa,†katanya.
Sementara itu Kanit Damkar Farid Taha menambahkan sesuai informasi, pondok batu bata yang terbakar adalah milik Wispah Sigar. Adapun pegolahan daun woka milik Ikomang Suharmika. Menyusul kebakaran ini, keduanya mengalami kerugian materil.
“Kejadian ini patut menjadi pelajaran. Kita berharap warga lebih waspada. Jika sedang membakar rumput atau melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan pembakaran harus diawasi. Cuaca siang saat ini sangat terik, angin juga kencang. Kebakaran sangat mudah terjadi,” ujarnya. (wie/hg)
