Hargo.co.id GORONTALO – Prediksi Bank Indonesia (BI) terhadap perekonomian Gorontalo pada Triwulan I 2016 meleset. Ekonomi Gorontalo justru tumbuh 6,61 persen, bahkan lebih baik jika dibandingkan dengan Triwulan I 2015 (yoy) yang hanya 4,76 persen. Sebelumnya, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada Triwulan I berada di kisaran 5,44 persen hingga 5,94 persen.
“Meski tumbuh 6,61 persen (yoy), tercatat mengalami pelambatan jika dibandingkan dengan Triwulan IV 2015 yang tumbuh 7,67 persen,” sebut BI dalam Kajian Ekonomi Regional (KER) yang dirilis 18 Mei.
Pelambatan ekonomi tersebut rupanya masih disebabkan oleh pelambatan kinerja konsumsi pemerintah melalui realisasi belanja operasional yang masih terbatas pada awal tahun dan konsumsi swasta nirlaba yang tumbuh melambat pasca berlalunya Pilkada di tiga daerah dan hari keagamaan diantaranya Maulid Nabi dan Natal pada triwulan IV 2015. Selain itu, kondisi investasi juga mengalami pelambatan pada Triwulan I 2016 karena dipengaruhi minimnya proyek investasi swasta dan proyek pemerintah yang telah berjalan.
“Konsumsi rumah tangga mengalami peningkatan seiring masuknya musim panen dan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP),” sebut BI lagi.
Sedangkan dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi Gorontalo mengalami perlambatan seiring dengan perlambatan yang terjadi di sebagian lapangan usaha utama perekonomian.
Lapangan usaha utama yang tumbuh melambat diantaranya lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan; lapangan usaha pedagang besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor dan lapangan usaha konstruksi.
Perlambatan pada sektor penyumbang PDRB terbesar di Gorontalo yaitu sektor pertanian, perikanan dan kehutanan didorong oleh masih berlanjutnya musim kemarau sampai dengan akhir triwulan sehingga mengakibatkan adanya penurunan produktivitas panen serta kecenderungan puso dan gagal panen untuk sebagian sentra pertanian di Gorontalo.
Abdurahman Wahid, salah seorang ekonom di Gorontalo mengatakan kajian yang disodorkan pihak BI cukup beralasan. Ada dua hal yang disoroti. Menurut dia, pertama, meski terjadi pelambatan, perekonomian Gorontalo tetap tumbuh karena disebabkan oleh penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) baik premium dan solar hingga tarif dasar listrik (TDL).
“Mungkin agak tertolong dengan BBM dan TDL. Itu sangat berpengaruh. Catatan saya, awal tahun ini sempat terjadi deflasi sesuai data BPS (Badan Pusat Statistik). Meski waktu itu (Januari 2016) sejumlah bahan pangan seperti barito (bawang, rica, tomat) dan beras relatif naik, tapi ongkos produksi sudah mulai ada penghematan,” kata pria yang akrab disapa Amang ini.
Yang kedua, produktivitas kinerja pemerintah di awal tahun terutama dari segi perbelanjaan memang tidak bisa dihindari meskipun sejak menjelang akhir tahun 2015, ada beberapa kepala daerah di Gorontalo meminta pelaksanaan program kegiatan digenjot sejak awal tahun.
“Tapi nyatanya, tetap saja rata-rata baru dimulai pada akhir Februari. Itu pun belum maksimal. Coba cek lagi yang ada di BPS, kegiatan pemerintah di perhotelan masih sepi. Itu sudah tradisi,” katanya.
Meski demikian, dirinya optimis pada roda perekonomian Gorontalo kedepan ini saat memasuki musim hujan pertengahan April 2016, “Banyak yang sudah menanam, bantuan pemerintah (bibit gratis, pupuk gratis, dsb) banyak yang disalurkan. Mudah-mudahan hasilnya juga memuaskan,” pungkasnya.(axl/harg0)
