Hargo.co.id GORONTALO – Banyak yang menyangka jika Partai Golkar Gorontalo Utara (Gorut) tak ada riak-riak menuju musyawarah daerah (Musda). Padahal jika lebih didalami, Beringin Gorut justru di ambang kisruh. Adanya istilah Kuning Tua dan Kuning Muda menjadi salah satu bukti.
Kenapa bisa? Bukankah Partai Golkar Gorut selama ini cukup solid? Ternyata tidak. Riak-riak terus hadir sejak muncul isu jika Indra Yasin ditunjuk sebagai Plt. Ketua DPD II Golkar Gorut saat terjadi dualisme di DPP. Tak pelak lagi, isu itu memunculkan dua kubu yakni Kuning Tua dan Kuning Muda.
Kader Golkar pendukung Indra Yasin dinilai sebagai kubu Kuning Tua. Sementara loyalis Ketua DPD II Golkar Gorut, Thomas Mopili disebut sebagai kubu Kuning Muda. Tidak ada yang tahu secara pasti, dari mana munculnya kedua istilah itu.
Hanya saja, istilah itu sudah tersebar luas di Gorut. Â Tensi politik antara kedua kubu kembali memanas saat Indra Yasin terakomodir pada kepengurusan DPD I Partai Golkar. Tak pelak lagi, muncul dugaan ketika Pilkada 2018 mendatang, Indra Yasin akan menjadi titipan DPD I untuk kendarai Partai Golkar.
Prediksi boleh saja muncul. Namun penentunya yakni siapa yang duduk sebagai Ketua DPD II Gorut. Â Terakhir yakni pada Munaslub di Bali baru-baru ini. Kedua kubu yakni Kuning Tua dan Kuning Muda hadir dan meramaikan suksesi tersebut.
Thomas Mopili datang sebagai peserta, sementara Indra Yasin hadir sebagai peninjau. Hanya saja, Indra Yasin selalu duduk bersama Ketua DPD I Partai Golkar Gorontalo, Rusli Habibie.
Apa benar Beringin Gorut di ambang kisruh? Lalu siapa saja pengikut Kuning Tua dan siapa loyalis Kuning Muda? Dihubungi Gorontalo Post, Wakil Sekretaris DPD I Partai Golkar, Ghalib Lahidjun membantah adanya kubu-kubuan di Gorut. Menurutnya, Kuning Tua dan Kuning Muda hanya istilah saja, namun tak ada wujud seperti kelompok-kelompok.  “Itu tidak benar. Golkar Gorut selalu solid,†ujarnya singkat.(jdm/hargo)
