Dia menjelaskan, penundaan terbang dikaji dengan benar-benar melihat pasar yang ada setiap tahun.
“Jadi, ini kan setiap tahun. Dua minggu sebelum puasa dan dua minggu puasa itu sepi. Karena itu, ada pengurangan,” ungkapnya.
Karena direncanakan sejak lama, lanjut dia, penjualan tiket untuk frekuensi penerbangan yang ditunda itu pun telah dihentikan.
Dengan demikian, dipastikan tak ada penumpang yang dirugikan dengan keputusan tersebut.
“Tidak mungkin kami mengorbankan penumpang,” papar pria asli Toba, Samosir, Sumut, itu. “Mereka (calon penumpang, Red) yang telanjur beli tiket lalu kami alihkan dan sebagainya,” imbuhnya.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub Hemi Pamurahardjo mengatakan, penundaan terbang lumrah bagi maskapai. Tapi, memang dalam satu bulan ini baru Lion Air yang mengajukan permohonan penundaan penerbangan.
“Nggak ada masalah. Emang biasa begitu,” ungkapnya. (mia/c11/agm/hargo)
