Bila ditilik ke belakang, sebenarnya ada sejumlah orang lokal Gorontalo yang mengenal beberapa anggota JAD saat dulu terjadi konflik di Ambon. ’’Saat konflik itu ada kelompok dari Gorontalo yang juga terjun ke sana. Mungkin saling mengenalnya dari sana,’’ paparnya.
Menurut dia, dampak kelompok teror Abu Sayyaf sudah begitu mengkhawatirkan. Tidak hanya menculik WNI, tapi juga memberikan efek pada peningkatan kekuatan kelompok teroris di Indonesia. ’’Maka seharusnya bersama-sama Abu Sayyaf ini ditangani,’’ tegasnya.
Sebelumnya, pada Kamis (23/3) lalu, Densus 88 Antiteror yang menyergap rombongan teroris Nanang Kosim di Banten, juga menemukan fakta jika Gorontalo dijadikan sebagai tempat perakitan bom. Nanang Kosim, merupakan pakar perakit bom yang sebelumnya melakukan pelatihan di Gorontalo.
Diduga ia bersama salah satu teroris lainya bersama Fajrun. Tidak saja dijadikan markas pelatihan, tapi mereka juga menjadikan Gorontalo sebagai daerah pembuatan bom.
â€Dia (Nanang Kosim) juga pernah membuat bom pada 2016 di Gorontalo bersama terduga teroris bernama Fajrun,â€ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar, di Jakarta saat itu. Setelah penyergapan teroris di Celegon yang menewaskan Nanang Kosim, Densus 88 Menangkap Zainal Anshori pada 7 April 2017. (jpg/hargo)
