Kalau untuk teknologi, modernitas, minimalis, Singapore pilihannya. Setelah berwisata di sana, silakan merasakan atmosfer alam, budaya, kehangatan, kuliner dan wisata bahari. Yang itu tidak bisa ditemukan di tempat lain kecuali di Indonesia. “Di sinilah pentingnya kerjasama, saling mengisi, atau istilahnya komplementer,†katanya.
Bila dikolaborasikan dengan regulasi yang pro pasar pariwisata, Guntur optimistis cara ini bisa menaikkan pamor wisata bahari Kepri.
Sekarang kebijakan apa yang tidak pro pasar? Bebas Visa Kunjungan (BVK) sudah ada. Sekarang, ada Perpres 105 tahun 2015 yang memayungi. Total, ada 169 negara yang masuk BVK. Wisatawan dari 169 negara itu tidak perlu pusing-pusing mengurus Visa dan membayar USD 35 per stempel dan bisa langsung masuk.
Akses CAIT, untuk yacht (perahu pesiar) dan CABOTAGE untuk cruise (kapal pesiar) juga sudah dibuka. Bagi yachter tidak perlu lagi repot-repot sebagaimana sebelumnya diperlakukan seperti impor barang barang mewah, dengan bilangan pajak impor yang tidak kecil. Sekarang dibebaskan.
Barang di declare costume, orangnya masuk tanpa visa bagi mereka yang berasal dari 169 negara yang sudah diberi kelonggaran dengan Bebas Visa Kunjungan itu.
Begitu pun Cabotage, bagi kapal-kapal pesiar. Tidak harus kapal yang berbendera Indonesia yang boleh menurunkan dan menaikkan penumpang di pelabuhan di Indonesia. Kapal asing juga boleh. Dengan begitu, tour operator asing mulai bisa menjual paket wisata bahari di Indonesia.
“Sekarang sudah ada 16+1 entry point Kepri. MoU Gubernur Kepri dengan Duber RI untuk Singapura untuk menjadikan Kepri sebagai gerbang wisata bahari Indonesia juga sudah diteken. Sekarang tinggal running saja. Kami punya Zero Equator di Lingga.
