â€Semuanya berjalan seperti biasa. Saya dan beberapa orang teman ingin bersenang-senang dan memberikan dukungan kepada Les Bleus (julukan timnas Prancis).
Kebetulan, ada teman yang membelikan tiket,†kisah Olivier Pochet salah seorang warga Prancis saat bertemu dengan Jawa Pos di kereta api dari Gare Montparnasse menuju Rambouillet.
â€Kami tidak tahu apa yang terjadi di luar stadion. Mulanya, saat ledakan pertama, kami tidak mengira itu serangan teroris.
Biasa saja, belum ada yang terlalu panik. Lalu, datang serangan kedua dengan bunyi ledakan yang lebih besar dan menakutkan,†ujar pria yang memiliki restoran pizza di Rue de la Fosse Jean, Rambouillet, itu.
Sejurus kemudian, kepanikan terjadi. Para penonton bingung apakah harus berlari keluar stadion atau tetap berada di dalam.
â€Lalu, kami mendengar mungkin akan ada serangan lanjutan dan semua orang berupaya untuk pergi dari tribun,†kata pria yang mengidolakan klub Paris-Saint Germain (PSG) itu.
â€Saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk berlari ke arah lapangan. Kami pikir di sana lebih aman ketimbang di tribun. Kami lihat semua orang mulai berlari ke lapangan. Kepanikan yang luar biasa. Itu hari yang sangat menakutkan buat saya,†kata Pochet.
Teror pada 13 November 2015 itu membuat 129 orang meninggal, 352 orang terluka, dan 99 di antaranya berada dalam kondisi kritis.
Serangan tidak hanya terjadi di stadion, melainkan juga di beberapa tempat dalam waktu yang hampir bersamaan.
Ada penembakan dan tiga kali ledakan bom. Terjadi di Rue de la Fontaine-au-Roi, Rue de Charonne, dan Rue Bataclan. Di pusat kota Paris juga terjadi serangan di Les Halles. â€Sejak saat itu, saya belum pernah lagi pergi ke sana (Saint-Denis),†kata Pochet.
Tak ingin terjadi kekacauan serupa pada Euro 2016, pengamanan ekstra ketat dilakukan pemerintah Prancis. Di Paris, selalu ada mobil polisi dan tentara yang berkeliling. Biasanya, beriringan dua mobil. Setiap mobil berisi empat orang aparat.
