Nah, hal lain yang bikin wisatawan betah adalah kebersihannya. Desa yang terletak di jalan Penglipuran, Desa Kubu, Bangli, Kecamatan Bangli ini, dijamin bersih. Tak ada satu pun sampah yang terlihat di sana.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, AA Gede Yuniartha menjelaskan bahwa sejak dahulu kala, para orangtua Desa Penglipuran selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk menjaga kebersihan lingkungan. Termasuk, menjaga kebersihan di tempat-tempat suci seperti pura.
“Nggak boleh buang sampah sembarangan, nggak boleh merokok sembarangan. Semua tertib. Kalau ingin merokok, harus merokok di tempat yang sudah disediakan. Motor dan mobil juga nggak diperkenankan masuk ke desa ini. Motor dan mobil akan ditaruh di garasi belakang rumah dengan jalur masuk yang berbeda,” terang Yuniartha, Sabtu (23/7).
Ketua PKK Desa Penglipuran, Ni Wayan Nomi ikut buka suara. Dari paparannya, setiap bulannya, ibu-ibu di Desa Penglipuran berkumpul untuk melakukan pemilahan sampah. Sampah organik dan non-organik, semua dipisah. Sampah organik akan diolah menjadi pupuk, sementara sampah non organik akan dijual dan ditabung ke bank sampah di desanya. Satu kilogram sampah dihargai Rp 200.
Hal lain yang membuat nama Penglipuran meroket adalah keharmonisan kehidupan masyarakatnya. Hubungan manusia dengan lingkungan serta manusia dengan Tuhan, sangat terjaga dengan baik.
“Tradisi yang dilakukan oleh warga-warga Desa Penglipuran memang sesuai banget dengan arti dari kata “Penglipuranâ€.
