Memang, ada istilah telur dan ayam, mana dulu yang dibangun? Izin penangkapan ikan masih moratorium sehingga belum feasible membangun galangan memproduksi kapal.
Untuk pariwisata , jumlah wisatawan masih sedikit, belum regular. Jumlah kamar hotel dan homestay masih di bawah 200 dan bandara belum internasional sehingga airlines belum feasible untuk beroperasi. Manufaktur dan pasokan listrik juga belum memadai, pelabuhan dan kapal-kapal internasional juga belum ada sehingga belum feasible.
Meski begitu, Darmono mengaku tak khawatir. Dari pengakuannya, saat ini banyak peminat yang ingin investasi di bidang pariwisata,
perikanan dan manufaktur. Bahkan masterplan pengembangan Morotai dalam kurun waktu 25 tahun ke depan pun sudah dibuat.
“Konsep THINK BIG, START SMALL, MOVE FAST, dilaksanakan dengan konsisten. Tahapannya, Pariwisata, Perdagangan baru Investasi manufaktur,†terangnya.
Dalam 25 tahun ke depan, Morotai akan disulap menjadi pusat logistik kelas dunia setara dengan Singapura. Masyarakat Indonesia Timur juga akan diberdayakan memproses sumber daya alam yang berlimpah nenjadi barang jadi dengan mengundang investor-investor yang mempunyai modal, teknologi dan pasar dunia.
“ Tahap pertamanya ya mempromosikan Morotai lsebagai destinasi pariwisata kelas dunia. Kedua membangun home stay dengan memanfaatkan program subsidi 1 juta rumah murah.
