Karena dia berada ditengah himpitan pesaing. Lawan FYK tidak hanya dari eksternal Golkar. Tapi bisa juga muncul lawan dari internal partai.
Salah satu pesaing FYK dari partai Golkar untuk kandidat Ketua DPRD adalah Risman Taha. Menjadi salah satu caleg unggulan di dapil Kota Barat-Dungingi, membuka peluang Risman Taha untuk melangkah ke DPRD Kota Gorontalo.
Seandainya FYK dan Risman Taha sama-sama terpilih dan jatah kursi ketua DPRD milik Golkar, maka perebutan kursi Ketua DPRD di internal Golkar bisa jadi akan melibatkan dua kader muda Golkar.
Karena keduanya sama-sama berada dalam struktur kepengurusan partai Golkar Kota Gorontalo. Risman Taha menempati posisi Wakil Ketua DPD II. Sementara FYK menjadi Sekretaris DPD II.
Dan model pertarungan seperti ini pernah terjadi saat perebutan kursi ketua DPRD Provinsi pada Pileg 2014. Ketika itu, Sekretaris DPD I Golkar, Paris Jusuf, terpilih di DPRD Provinsi.
Tapi partai memberikan kepercayaan kepada Rustam Akili yang saat itu menjadi Ketua DPD II Golkar Kabupaten Gorontalo, untuk menempati kursi ketua DPRD Provinsi. Meski posisi Paris Jusuf sebagai pimpinan partai tingkat provinsi, sesungguhnya lebih berhak untuk mendapatkan posisi itu.
Pesaing lain FYK bakal bermunculan dari Parpol lain yang berpotensi mendapatkan kursi Ketua DPRD. Misalnya Partai Nasdem yang mengandalkan ketokohan mantan Wakil Walikota Budi Doku yang juga mencalonkan diri ke DPRD Kota Gorontalo.
Budi Doku satu dapil dengan FYK. Tentu bila Nasdem bisa menjadi peraih kursi terbanyak, maka Budi Doku bakal menjadi kader yang akan disodorkan untuk posisi ketua DPRD.
Selain Budi Doku, ada juga nama ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Gorontalo, Ramdan Datau yang juga merupakan figur kuat.
