Puluhan Pejabat dan Polisi di Manila Menyerahkan Diri

×

Puluhan Pejabat dan Polisi di Manila Menyerahkan Diri

Share this article
Presiden Filipina Rodrigo Duterte

’’Tapi, apa yang bisa saya lakukan? Presiden telah menyebut nama mereka dan mereka datang ke saya menyerahkan diri. Saya tidak bisa mengembalikan mereka begitu saja. Jadi, karena mereka sudah di sini, kami akan memproses mereka,’’ ungkap Dela Rosa.

Dia menyebutkan bahwa daftar nama yang dibacakan Duterte merupakan hasil gabungan informasi dari komite intelijen. Komite tersebut terdiri atas PNP, militer, dan Badan Peredaran Obat Filipina (PDEA).

Dela Rosa menegaskan bahwa daftar itu tidak dibuat berdasar rumor belaka. Juga bukan karena mereka orang-orang yang tidak mendukung Duterte pada pemilu lalu. ’’Presiden tidak sedangkal itu,’’ tegasnya.

Dela Rosa juga mengaku telah menegur para polisi yang masuk daftar Duterte. Sama dengan Duterte, Dela Rosa mengancam bakal membunuh anak buahnya jika mereka terus melindungi para pengedar obat terlarang maupun menjual kembali narkoba hasil sitaan.

’’Saya malu. Kita seharusnya menjadi pihak yang menangkap orang-orang tersebut (pengedar narkoba Red), tapi kita malah melindungi mereka. Saya akan membunuh kalian jika kalian tidak berubah,’’ ujarnya kepada para patugas kepolisian.

Para polisi yang terlibat dalam jaringan narkoba langsung dilucuti senjatanya. Setelah itu, proses penyelidikan dimulai. Jika memang ada bukti-bukti kuat, mereka bisa dituntut secara hukum dan administratif.

Dalam daftar Duterte, ada dua pensiunan jenderal, prajurit, anggota paramiliter, hakim, dan mantan legislator. Kepala Hakim Agung Maria Lourdes Sereno meminta lembaganya saja yang memberikan hukuman kepada para hakim yang ditengarai nakal

Dia mengirimkan surat kepada Duterte yang menyatakan bahwa pengadilan memiliki hak untuk mendisiplinkan mereka. Salah satu hakim yang masuk daftar Duterte sudah meninggal delapan tahun lalu dan dua lainnya telah dipecat.

Tindakan Duterte dengan menyebutkan daftar nama para pejabat yang diduga terlibat dalam peredaran narkoba itu menuai kecaman. Sebab, dengan tipisnya bukti-bukti, masih terbuka kemungkinan mereka tidak bersalah.

’’Presiden telah menghancurkan reputasi orang-orang tersebut,’’ ujar legislator dan mantan pengacara Harry Roque. Dia menambahkan, jika memang ada bukti-bukti kuat, cukup ajukan tuntutan hukum. (Reuters/CNN/The Wall Street Journal/sha/c17/any/hargo)