Tapi kondisi saat ini, areal yang sempat dijadikan lokasi wisata oleh Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo itu telah mengering. Bahkan telah menjadi areal/tempat latihan motocross.
Penyusutan areal Danau Limboto yang sangat drastis itu salah satunya dipicu oleh sedimentasi.
Faktor musim yakni kemarau yang berkepanjangan juga turut berkontribusi terhadap penurunan debit air Danau Limboto. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kerusakan hutan di bagian hulu. Sehingga berdampak terhadap aliran air yang masuk ke Danau Limboto.
Sebagaimana diketahui, ada 23 anak sungai yang masuk ke areal Danau Limboto. Namun yang mengalirkan air ke Danau Limboto saat ini tinggal enam. Masing-masing Sungai Biyonga, Marisa, Alopohu, Bulota, Ritenga dan Meluupo. 17 anak sungai lainnya sudah lama mengering.
Dosen Ilmu Teknologi Kebumian, Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo Dr.Fitriyane Lihawa mengatakan, hasil penelitian pihaknya menunjukkan pelepasan sedimen paling tinggi berasal dari DAS Alopohu.
“Sekitar 18 persen tanah yang tererosi akan masuk sampai ke danau. Dan erosi terbesar berasal dari lahan pertanian jagung,†ungkap Fitriyane.
Penyusutan Danau Limboto juga dipicu sampah baik organik maupun non organi. “Seperti bekas-berkas alat tangkap ikan yang dibiarkan begitu saja di danau, ini juga menyebabkan pendangkalan,”ungkapnya.(san/wan/and/wie/tr-48/hargo)
