“Kami bersama komunitas DAS sudah susur aliran sungai, dan aman dari hulu, jadi pengunjung tak usah khawatir, jika hujan hanya air yang tampak keruh,†katanya.
Selain menikmati aliran air curug, pengunjung bisa santai duduk di bebatuan besar sungai. Warga sekitar juga telah membuka akses jalan menuju curug dengan tangga bambu dan penataan jalan karena menuju lokasi jalanan sedikit curam.
“Karena ini tanah beberapa warga, kami telah rembugan untuk adanya pembebasan tanah. Karena setelah dikaji dari Kelompok Sadar Wisata, disini bisa dikembangkan menjadi beberapa atraksi seperti rafting, outbond, flying fox dan water boom,†ujarnya.
Curug Joho juga dilengkapi dengan eksotisme berupa gua kuno. Konon di dalam gua terdapat arca-arca. Dimana jaman dahulu difungsikan sebagai tempat berlindung saat peperangan. Gua tersebut juga diyakini warga memiliki kekuatan gaib sebagai pintu menembus ke daerah Kaliwungu Kendal.
“Gua dalamnya 4 meter, ada patung arca meski sudah rusak, diatas gua ada aliran air sebagai aliran irigasi dimana disambung dengan kayu jati kuno dengan penanda batu besar diatas bukit,†katanya.
Dia juga menyebut  keberadaan kayu jati itu sebagai talang pengambung air yang sudah ada sejak lama. “Bahkan orang tua saya juga tak tahu ceritanya karena memang sudah ada sejak nenek moyang,†katanya.
Dia bersama warga tiga kelurahan yakni Gondoriyo, Wates, dan Beringin kini tengah mengkonsep sebuah destinasi wisata alam-budaya. Dimana di tiap tahunnya sudah ada atraksi gelar budaya berupa resik-resik selokan irigasi sawah.
“Kedepan akan kami buat semacam kirab budaya, ada ceritanya, dan ini sebenarnya sudah turun temurun dilakukan tiap tahun, hanya saja akan kita konsep yang lebih bagus dan menarik,†ujarnya.
Seorang pengunjung Artika Mayang (18), mengaku surprise dengan adanya Curug Karang Joho yang berada masih disekitaran perkotaan. Informasi dia dapat dari media sosial Instagram dan Facebook.
“Lokasinya gampang dituju, ini bagus untuk wisata perkotaan, tempatnya unik karena menyimpan potensi wisara yang besar dan bisa dikembangkan,†katanya.
Menpar Arief Yahya mengingatkan, sebagai destinasi yang baru dikenal, sebaiknya dijaga bersama. Jangan sampai ruaak, jika perlu diperbaiki fasilitas publiknya. “Semakin dilestarikan, semakin menaejahterakan,” ujar Arief Yahya.(Hg)
