Mereka menyaksikan langsung, batu besar yang menggelinding dari atas bukit itu menghantam rumah mereka. Tepat mendarat di kamar tengah, yang menjadi tempat tidur Darwin Lakoro dan anaknya sebelum dibangunkan. “Alhamdulillah pak, saya tidak bisa bayangkan kalau saya tidak kase bangun saya pe suami dengan anak tadi,”kata Rosni, kemarin.
Rumah semi permanen, yang hanya berdinding batako tanpa plester itu hancur. Sebuah batu berdiameter 2 meter bersarang di dalam rumah. Perabotan rumah sedarhana juga hancur, dinding rumah bereserakan dimana-mana. Beruntung, rumah yang sebagian hanya berdinding pitate itu tak sampai roboh, padahal sebagian tiang penyangganya patah.
Kini keluarga Darwin yang tergolong pra sejahtera itu pun kebingungan. Penghasilanya sebagai petani kebun tak sanggup untuk mendirikan lagi utuh bangunan rumah yang telah bertahun-tahun mereka tempati itu. Tak hanya itu, batu besar yang bersarang di dalam rumah juga menambah beban keluarganya, sebab hingga kemarin, ia kesulitan memindahkan batu yang beratnya diperkirakan puluhan ton itu. Yang dilakukan Darwin adalah membetel batu secara perlahan. Sejak dua hari lalu dilakukan, tak ada tanda-tanda batu itu berkurang volumenya.
“Batu gunung ini, keras sekali,”keluhnya Darwin. ‘Kehadiran’ batu di dalam rumah mereka itu juga membuat Darwin dan keluarganya mengungsi, tak ada kamar lagi untuk ditinggali, kalau pun memaksa tinggal di rumah itu, mereka masih dibayangi kekhawatiran, tak hanya longsor susulan, tapi ancaman binatang buas juga bisa terjadi kapan saja. “Saya berusa mo kase kaluar ini batu pak,”katanya optimis. Padahal, dibantu beberapa orang tetangga saja, batu itu tak bergerak sama sekali.(tr-48/hargo)
