Hargo.co.id GORONTALO – Jagung menjadi salah satu komoditi ekspor utama Gorontalo saat ini masih sangat membutuhkan sentuhan langsung dari pemerintah dari sisi produksi pasca musim kekeringan 2015 lalu, terutama menjaga supaya harganya tidak jatuh dan merugikan petani.
Hal itu salah satu pembahasan yang terungkap saat silahturahmi Bank Indonesia (BI) perwakilan Gorontalo ke Graha Pena Gorontalo Post, Rabu (8/6). Kali ini, KPw BI Gorontalo yang diwakili Manajer Unit Komunikasi, Koordinasi dan Kebijakan, Unggul Priatna, bertemu langsung dengan Direktur Utama Gorontalo Post Muhamad Sirham, Wakil Direktur Femmy Udoki serta Pimpinan Redaksi Hasanuddin Djadin.
Terungkap pada pertemuan itu, ditengah surutnya produksi jagung Gorontalo saat ini, pemerintah memiliki peran yang sangat vital dalam mendukung petani jagung Gorontalo. Saat ini, pemerintah sudah menyalurkan berbagai bantuan berupa benih hingga pupuk secara gratis.
Namun, menurut Dirut Gorontalo Post Muhamad Sirham, itu tidaklah cukup. Yang paling penting bagi petani adalah agar harga jagung tidak jatuh. “Masyarakat Gorontalo hidup dari bertani dan berdagang. Jadi, petani sudah tidak perlu lagi pembinaan, penyuluhan dan seterusnya. Yang dibutuhkan petani adalah ada standar harga agar petani tidak rugi,” jelas Muhamad Sirham.
Jika petani sudah merugi, maka akan menjadi jalan masuk bagi rentenir untuk menutupi ongkos produksi. Dan imbasnya sudah tentu petani bakal akan terlilit hutang dengan bunga yang cukup besar.
“Karena sudah punya hutang, lahannya dijual dan begitu seterusnya sampai lahannya habis terjual semua,” tambah Sirham. Soal kontrol harga, dari catatan Sirham, bahwa pernah dilakukan pemerintah provinsi Gorontalo sekitar era tahun 2000-an. Saat itu, kata dia, harga jagung Rp 300 per kilogram (Kg).
Gubernur Gorontalo yang saat itu dijabat oleh Fadel Muhamad membeli jagung petani dengan harga Rp 900 per Kg. Akibatnya, banyak petani menjual jagung kepada pemerintah saat itu.
“Hemat saya, kebijakan itu pula menghancurkan para tengkulak-tengkulak dan menyingkirkan rentenir. Pak Fadel beli jagung petani, lalu beliau mencari pembeli sampai di luar negeri,” kisahnya.
Saat ini, pemerintah telah meluncurkan asuransi pertanian yang dikhususkan bagi petani yang gagal panen. Menurutnya, program itu sangat bagus sekali dan akan sangat membantu para petani Gorontalo.
Sebelumnya, KPw BI Gorontalo yang diwakili Manajer Unit Komunikasi, Koordinasi dan Kebijakan, Unggul Priatna, mengatakan, pihaknya juga sangat terbantu dengan berbagai informasi penting dari media seputar perputaran ekonomi Gorontalo dari sektor rill.
Tentunya, dari peran BI, akan mensupport berbagai kebijakan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Gorontalo, termasuk sektor pertanian. “BI mendukung dari sisi perbankan (permodalan,red),” pungkasnya.(axl/hargo)
