Adriandzah Mansyur – Batudaa
Salat taraweh baru saja usai dilaksanakan, sebagian rumah warga sibuk menyiapkan menu khusus bagi tamu yang datang berkunjung. Menu khusus itu adalah kacang dan pisang. Di sejumlah tempat juga sudah disediakan aneka hiburan rakyat. Tradisi ini menjadi salah satu keunikan masyarakat di Kecamatan Batudaa, dan Kecamatan Tabongo, Kabupaten Gorontalo menyambut malam Qunut
Hargo.co.id GORONTALO – SEPANJANG jalan menuju pusat Kecamatan Batudaa, macet total. Motor dan bentor (becak motor) berdesak-desakan bersama mobil dan pengguna jalan lainnya. Mereka datang dari berbagai tempat yang ada di wilayah itu. Ada yang hendak berkunjung ke rumah sanak keluarga mereka di Kecamatan Batudaa, dan ada pula yang tujuannya ke pasar malam yang hanya menjual kacang dan pisang.
Kacang dan pisang bisa didapat dengan harga yang murah di pasar malam itu. Pedagang di sana menjualnya hanya seharga Rp 5.000-6.000 perliter. Begitu pula dengan pisang, yang dijual Rp 3.000 satu sikat. â€Setiap malam Qunut, warga di sini menandainya dengan makan kacang dan pisang,†kata Hamdi, salah satu pengunjung malam itu.
Setiap tahun masyarakat Batudaa dan Tabgongo tak pernah ketinggalan memeriahkan malam Qunut. Termasuk di keluarga Hamdi yang tinggal di Batudaa. Kacang dan pisang diletakan disebuah pan stove berbentuk segi empat yang berjejer rapi. Siapa saja yang datang, langsung disuguhi makanan hasil bumi tersebut.
Uniknya lagi untuk tahun ini, malam qunut di Kabupaten Gorontalo ikut dimeriahkan dengan berbagai kegiatan. Mulai dari tarik tambang, lomba lari karung, vokalia religi dan paling inti adalah lomba makan kacang-pisang, serta lomba penampilan pisang dan kacang terbaik. Dalam catatan historis, Ritual makan kacang dan pisang saat menyambut malam Qunut itu dimulai sejak tahun 1940-an.
Yang memulai ritual itu kata dia, adalah dua orang laki-laki bernama Iki dan Bali Abu. Iki dan Bali Abu yang datang dari daerah pegunungan mempunyai hasil bumi yang sudah di panen, yakni kacang dan pisang. Pada saat mau sholat taraweh, mereka turun gunung dan mencari mesjid di daerah Batudaa, sambil membawa kacang dan pisang.
Usai salat taraweh, mereka menjual kacang dan pisang. Lama kelamaan, kebiasaan ini dilakukan pada saat malam Qunut dan menjadi tradisi yang mengakar. Senin, (20/6), Bupati Prof. Nelson Pomalingo bersama jajaran pemerintah Kabupaten Gorontalo mengunjungi pelaksanaan Malam Qunut, di Kecamatan Batudaa dan Tabongo.
Uniknya lagi kali ini, Malam Qunut ikut dimeriahkan oleh berbagai kegiatan hiburan rakyat. Bupati Prof. Nelson ikut mencoba menyantap makan dan pisang yang di jual di malam qunut tersebut. “Malam qunut ini adalah tradisi yang harus menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Gorontalo. Tradisinya unik. Karena unik maka ia pun mahal,” kata Prof. Nelson.
Menurutnya, tradisi unik malam qunut ini harus terus dilestarikan. Selain unik, bisa menguntungkan masyarakat setempat. “Ini luar biasa. Tradisi unik dan dicari semua kalangan. Sementara masyarakat pun bisa untung dengan pendapatan penjualan kacang dan pisangnya. Tradisi ini membawa berkah bagi masyarakat,” jelasnya. (***)
