Makin Banyak Virus Korona Masuk ke Tubuh, Gejala Klinisnya Kian Berat

×

Makin Banyak Virus Korona Masuk ke Tubuh, Gejala Klinisnya Kian Berat

Share this article
ILUSTRASI. Semakin banyak virus korona SARS-CoV-2 yang masuk ke tubuh maka gejala klinisnya akan makin berat. (Foto; Istimewa)
ILUSTRASI. Semakin banyak virus korona SARS-CoV-2 yang masuk ke tubuh maka gejala klinisnya akan makin berat. (Foto; Istimewa)

Hargo.co.id – Tak semua pasien Covid-19 mengalami gejala yang berat. Ada yang ringan, adan cepat sembuh. Ada pula yang tanpa gejala serta ada yang cukup diisolasi mandiri di rumah. Mengapa demikian?

Sebagaimana dilansir jawapos.com, Ternyata selain dipengaruhi faktor imun atau daya tahan tubuh seseorang yang berbeda-beda, ada faktor lainnya. Salah satunya dipengaruhi oleh jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh.

Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Achmad Yurianto menjelaskan, sifat virus Korona adalah berkembang biak dengan cara membelah diri. Tentu sama dengan virus lainnya yang bisa mereplika diri.

“Membelah diri dan sering bermutasi. Maka sangat rentan jika tak patuh di rumah bisa terpapar tertular oleh orang lain,” tuturnya dalam konferensi pers, Senin (13/4).

Yurianto menjelaskan, secara gambaran virus viral load atau jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh akan terlihat dari gambaran klinisnya. Kesimpulannya, semakin banyak virus yang masuk maka gejala klinisnya akan makin berat.

“Semakin banyak virus masuk ke dalam tubuh kita, semakin berat gejala klinis yang muncul,” tutur Yurianto.

Maka tinggal di rumah adalah lokasi paling aman untuk selamat. Sehingga paparan virus pada tiap orang tak semakin banyak.

“Agar paparan virus di tubuh orang tak semakin lama semakin jelek,” tukasnya.

Gambaran penularan dengan data yang masih tinggi menunjukkan arti bahwa pembatasan sosial belum berjalan dengan baik. Ada kelompok yang rentan terinfeksi.

“Mereka masih memiliki aktivitas yang aktif. Masih berada di luar rumah yang kadang-kadang tak penting, maka banyak terpapar virus yang dibawa oleh orang lain. Kita tak tahu orang yang kita jumpai, apakah sakit atau tidak. Karena Orang Tanpa Gejala (OTG) itu enggak ada keluhan, padahal dalam tubuhnya sudah ada virus,” papar Yurianto.

Atau orang yang sudah disertai dengan gejala ringan, merasa tak sakit. Jika kondisi OTG dan gejala ringan menularkan pada kelompok kasus hipertensi dan diabetes, maka dengan cepat kondisi golongan rentan itu akan memburuk. Ini juga yang berkontribusi tinggi pafa kematian.

“Maka jangan keluar rumah, tetap di rumah saja. Jika harus keluar, gunakan masker. Dan batasi pergerakan di luar rumah. Imunitas seseorang berpengaruh pada rentan atau tidaknya gejala muncul. Dan rentannya tertular. Maka kuncinya adalah sabar, perbanyak makanan bergizi, tenang, disiplin gunakan masker, dan rajin cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir,” katanya.(jawapos/hg)

 

 

 

 

 

*) Artikel ini telah diterbitkan oleh jawapos.com dengan judul yang sama. Pada edisi Senin, 13 April 2020