Bahaya! Developer Imbau Pemain Waspada, Candu ‘Pokemon Go’ Makan Korban

×

Bahaya! Developer Imbau Pemain Waspada, Candu ‘Pokemon Go’ Makan Korban

Share this article
Tampilan Mobile Game Pokemon Go.

Hargo.co.id SINGAPURA – Mobile game Pokemon Go belum genap sebulan dirilis. Namun, sudah banyak yang kecanduan game terbaru buatan Pokemon Company International, Niantic Inc, dan Nintendo Co Ltd tersebut. Bahkan, gara-gara ingin bermain game itu, Sonny Truyen harus kehilangan pekerjaannya.

Pokemon Go baru bisa diunduh secara resmi di beberapa negara saja. Tidak termasuk Singapura. Kesal, Truyen mengumpat di akun Facebook-nya.

Pria yang bekerja di website jual beli properti www.99.co tersebut menyebut Singapura sebagai negara yang paling tidak diinginkan untuk ditinggali karena tidak ada game Pokemon Go. Dia juga menuliskan bahwa Singapura penuh dengan orang-orang bodoh.

Penduduk Singapura pun marah. Mereka melapor ke bos Truyen. Dia pun dipecat. ’’Kami bertanggung jawab atas tingkah laku di depan publik para pegawai kami maupun konsultan yang bekerja sama dengan kami. Ini sebagai bentuk refleksi dari perusahaan. Kami benar-benar minta maaf,’’ begitulah pernyataan resmi perusahaan tersebut.

Truyen bukan satu-satunya yang menjadi ’’korban’’ game Pokemon Go. Empat remaja di Missouri, Amerika Serikat (AS), menggunakan aplikasi itu untuk merampok.

Mereka memancing korban melalui fitur geolokasi di game itu agar datang ke lokasi yang sepi dan dirampok. Untungnya, para perampok tersebut berhasil ditangkap.

Bukan hanya itu, beberapa orang dilaporkan luka-luka karena game tersebut. Dalam permainan Pokemon Go, para pemain memburu Pokemon di berbagai tempat melalui telepon pintarnya. Beberapa pemain begitu fokus dengan game itu sehingga tidak memperhatikan sekitarnya.

’’Kami menganjurkan pada semua orang yang bermain Pokemon Go agar memperhatikan sekelilingnya dan bermain dengan teman-temannya ketika pergi ke tempat baru (untuk menangkap Pokemon, Red),’’ tulis pihak Pokemon Company International dalam pernyataan tertulis mereka.(Reuters/BBC/TodayOnline/sha/c15/any/hargo)