Hargo.co.id GORONTALO – Bawang merah merupakan salah satu komoditi yang sangat penting bagi kebutuhan pangan di Provinsi Gorontalo. Kenaikan harga bawang merah kerap kali menyumbang inflasi daerah.
Hingga saat ini, harga bawang merah relatif stabil dan masih berada diangka Rp 50 Ribu per Kilogram (Kg). Lantas apa yang membuat harga bawang merah masih begitu tinggi ?
Dari informasi yang diterima Gorontalo Post, sebagian besar kebutuhan bawang merah Gorontalo dipasok dari Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kabupaten Bima sendiri, merupakan salah satu sentra produksi bawang merah yang menyuplai kebutuhan Nasional. Bawang merah asal Bima ini sudah dikenal lama oleh masyarakat Gorontalo akan kualitasnya, baik dari segi ukurannya yang lebih besar, juga bentuknya yang mengkilap.
Sejumlah pedagang besar bawang merah asal Gorontalo pun sudah lama berlangganan di Kabupaten Bima. Salah satu pedagang besar Gorontalo yang berhasil ditemui awak koran ini mengaku dia membeli bawang merah dari pengumpul besar di Kabupaten Bima sebanyak 30 Ton per pekan. “Saya punya jatah 30 Ton dalam satu minggu.
Itu dikirim tiga kali,” ungkap pedagang besar yang meminta namanya tidak dikorankan. Ketika ditanyakan kenapa harga Gorontalo tinggi padahal saat ini harga bawang merah di Kabupaten Bima sendiri relatif rendah karena produksi melimpah.
Dia mengatakan, kenaikan harga bawang merah yang paling dominan disebabkan oleh kedatangan pemborong atau pengumpul besar dari wilayah Kalimantan. Menurutnya, sebelum ini hanya pemborong dari wilayah Jawa dan Sulawesi saja yang aktif membeli bawang dari Bima.
Waktu itu yang paling besar, lanjutnya, pemborong dari wilayah Makassar cs. Namun belakangan, masuk pemborong dari wilayah Kalimantan cs. Nah, bedanya dengan Sulawesi cs, kebanyakan pemborong asal Kalimantan langsung mendatangi petani bawang tanpa melalui tengkulak, pemborong lokal atau pihak ketiga lainnya.
“Mereka datang bawa uang cash (tunai). Kalau kita ‘kan transfer tapi melalui pengumpul disana,” sambung dia. Jadi, tambah pedagang yang terjun pada bisnis ini sejak 2001 ini, jika harga bawang merah Gorontalo sedang turun, artinya stok yang datang dari Kabupaten Bima melimpah karena tidak ada pesanan dari wilayah Kalimantan cs.
“Seperti bulan puasa baru-baru ini,” tambahnya. Diutarakannya pula, bahwa selain paling laku di pasar-pasar tradisional di Gorontalo jika dibandingkan dengan bawang yang didatangkan dari wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng), bawang merah asal Bima juga mendominasi lebih dari 60 persen kebutuhan bawang merah di Gorontalo. Olehnya, ketika stok pedagang eceran mulai minim, bisa jadi disitulah harganya akan naik.(axl/hargo)
