Hargo.co.id, GORONTALO – Ada yang istimewa pada momentum kunjungan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto, di Pelabuhan Tilamuta, Kecamatan Tilamuta, Boalemo, Gorontalo, pada Kamis, (30/09/2021).
Yaitu, atraksi oleh sejumlah orang adat Boalemo dengan pakaian lengkapnya bak pendekar sejati di bawah terik matahari. Orang-orang itu seakan memberi pesan tegas untuk para tamu, bahwa inilah Gorontalo. Daerah yang masih kental akan nilai budaya dan adat-istiadatnya.
Saat disambangi Hargo.co.id, salah seorang Pemangku Adat (Bate) Boalemo Hairun Mahmud menuturkan, setiap orang yang dianggap pembesar negeri, lalu ia berkunjung ke Daerah Gorontalo, maka sesuai tataran adat Gorontalo, akan dilakukan penyambutan adat untuknya.
“Karena dari seminar 1970 sampai seminar 2007, bahwa aspek itu tidak hilang. Sekarang sudah ada 6 aspek adat Gorontalo, dan yang paling pertama itu aspek penyambutan tamu,” tuturnya.
Adapun prosesi adat Gorontalo yang digelar pada penyambutan Menko Airlangga Hartarto di Pelabuhan Tilamuta, adalah adat Timamango. Timamango sendiri kata Bate Hairun Mahmud, artinya penyambutan bagi setiap orang yang dinilai pembesar negeri.
“Makanya sejak pak Menteri turun dari Bandara, langsung disuguhkan adat Timamango atau Tilolo itu dari para pemangku adat Provinsi. Kalau di sana disiapkan semua, hingga kue adatnya. Nah, kita di sini tinggal melanjutkan dan menerima dengan Longgo dan Aliyawo. Aliyawo itu merupakan pertunjukan tarian pengaman kerajaan,”terangnya.
Dikatakan Bate Boalemo ini, tak bisa dipungkiri bahwa Daerah Provinsi Gorontalo, masih kental akan warisan budaya leluhur. Bahkan, dari 19 daerah di Indonesia, Daerah Gorontalo berada pada urutan ke 9 yang diakui oleh Hukum Adat.
“Adat Gorontalo sendiri memiliki filosofi, yakni adat bersendikan syara, dan syara bersendikan kitabullah, atau kitab Alquran. Sehingganya, setiap kegiatan adat yang kita gelar, tidak lari dari syariat islam. Contohnya penyambutan tamu, di dalam Islam itu kan kalau kita memuliakan tamu, maka Allah akan memuliakan kita juga,”jelasnya.
Menurutnya, untuk membentuk karakter generasi bangsa beradab, diperlukan sosialisasi dan pelatihan adat. Sosialisasi tentang warisan budaya Gorontalo ini, harus maksimal. Artinya, harus terus didukung oleh semua pihak, terutama dari para pemangku kepentingan. Baik itu dari Eksekutif maupun Legislatif Daerah.
“Saya berharap demikian, ini warisan budaya leluhur yang harus senantiasa selalu kita junjung tinggi dan rawat secara turun-temurun. Kalau hilang adat, maka hilanglah adab. Jika sudah begitu, maka hilang pula nama dan identitas kita sebagai orang Gorontalo,”cetusnya.
Pada tahun-tahun belakangan, kata Bate Boalemo ini, pihaknya selaku Ketua Pelaksana Kegiatan, aktif dalam melaksanakan sosialisasi adat, hingga turun ke setiap Kecamatan di Boalemo.
“Kalau tidak salah 2012 di zaman bapak Rum Pagau pertama dilantik jadi Bupati Boalemo bersama Wakilnya Lahmuddin Hambali. Pertama yang dilaksanakan adalah sosialisasi adat ke kecamatan-kecamatan,”ungkapnya.
“Tapi Alhamdulillah, pak Gubernur Gorontalo Rusli Habibie juga memprogramkan budaya masuk sekolah dari 2017 sampai sekarang, termasuk saya yang dikontrak pihak Dikbudpora Provinsi Gorontalo, sebagai Tenaga Budaya yang ada di wilayah Boalemo dan Pohuwato,” imbuhnya.
Ia pun berterima kasih kepada ‘Sang Khalifah’ Provinsi Gorontalo Rusli Habibie, yang mana, meski sudah memasuki akhir jabatannya sebagai gubernur, masih memperhatikan adat Gorontalo.
“Ini sangat perlu, untuk menanamkan nilai-nilai adat itu bagi para pemuda, khususnya bagi para siswa, dipahamkan mereka tentang adat dan adab itu seperti apa. Agar mereka juga tau bahwa adab itu lebih tinggi dari ilmu. Karena setinggi apapun ilmu yang dimiliki, jika tidak ada kesopanan atau tata krama, maka mereka tidak akan disegani,” pungkasnya. (***)
Penulis : Abdul Majid Rahman
