Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Gorontalo memiliki tiga pos pengamatan. Salah satunya pos geofisika yang terletak di Desa Talumelito, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo. Dari tempat ini, seluruh informasi gempa di Gorontalo bisa diketahui.
Adriandzah Mansyur – Telaga Biru
Hargo.co.id GORONTALO – DELAPAN buah komputer berjejer di atas dua meja panjang. Di layar monitor, terekam sinyal tangkapan radar seismograf (alat ukur gempa).
Tak lama kemudian, salah satu petugas BMKG datang mengecek informasi pada layar monitor komputer yang berada di ruang pengamatan itu. Ternyata, di Gorontalo baru saja terjadi gempa.
“Gempanya di bawah 4 Skala Righter (SR) sehingga tidak begitu terasa,” kata Hasan Arif, pengamat Geofisika BMKG, akhir pekan kemarin.
Situasi di Pos Geofisika ini memang cukup unik. Aktivitas terlihat agak lengang dibanding umumnya kantor. Meski begitu, tak berarti petugasnya santai.
Malah, kantor harus stand by 1 x 24 jam. Sebab, gempa bisa terjadi kapan saja. “Kita di sini ada 5 orang pengamat. Dalam 1 x 24 jam, kita gantian sift setiap 6 jam. 2 orang satu kali jaga,” ujar Hasan.
Dalam menjalankan fungsinya, Pos Geofisika ini terdapat sejumlah fasilitas. Antena radar seismograf berada di bagian belakang kantor. Setiap terjadi gempa, radar tersebut akan menangkap sinyal kekuatan, waktu, dan pusat gempa.
Seismograph ini ikut mendeteksi tentang potensi emas dan minyak bumi. Gorontalo ternyata termasuk daerah yang kaya emas. Paling banyak berada di kawasan Bolaemo dan Bone Bolango.
Kembali ke kasus gempa. Dalam piranti Seismograph ada yang disebut alat Accelerograph. Alat berfunsgsi mencatat pergerakan tanah akibat gempa. Ada juga yang namanya lighting detector. Alat ini berfungsi membaca magnet petir.
Dari rangkaian seismograph itu nantinya masuk ke alat yang disebut digitizer. Alat inilah yang nantinya akan mengubah sinyal mekanik dari seismograph menjadi sinyal digital untuk dilihat di layar monitor komputer.
Dalam layar monitor, pengamat akan melihat grafik sinyal. Warna biru untuk jenis gempa dengan gerakan tanah Utara-Selatan, warna merah Barat-Timur, dan warna hijau untuk gerak atas bawah.
Dilayar monitor juga akan terbaca kekuatan gempa dalam ukuran Skala Righter (SR). Adapun posisi sumber gempa ditampilkan dalam bentuk derajat bujur dan lintang.
Hasil dari pembacaan gempa di Stasiun Geofisika ini nantinya akan disebarkan ke pihak-pihak terkait, terutama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Menurut Hasan Arif, untuk wilayah utara Sulawesi, jika kekuatan gempa 5 SR keatas penyebaran informasi menjadi tanggungjawab BMKG Pusat. Jika 4,5 SR tanggungjawab BMKG region Manado, Sulawesi Utara (Sulut).
“Kalau di bawah dari itu, kita yang sebarkan informasinya. Baik lewat faxmile, website BMKG, hingga SMS center,” jelas Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Metereologi Klimatologi Geofisika itu.
“Ada juga pemberitahuan melalui sirene. Sirene kita satu terdapat di Bele Limbui, satunya lagi berada di gedung lama Kantor Bupati Gorontalo Utara,” sambungnya.
Menariknya, dengan keberadaan pos gempa di Talumelito, penyebaran informasi tentang gempa semakin cepat. Sebelumnya, informasi tentang gempa baru diketahui sekitar 10-15 menit setelah gempa.
Namun saat ini informasi gempa bisa diakses sekitar 6 menit setelah gempa. Informasi itupun meliputi lokasi dan pusat gempa, kekuatan serta potensi terjadinya tsunami.
Disisi lain, dengan data gempa ini pula, para pengamat akan dapat mendeteksi dampak gempa bagi masyarakat, termasuk untuk keperluan menyusun analisis risiko bencana.
Menurut Hasan Arif, kantornya itu meski sudah dikenal banyak orang dengan istilah Stasiun tapi sebenarnya masih sebatas pos. Bedanya dengan stasiun, Pos belum mengurusi administrasi sendiri.
Melainkan masih diatur di BMKG pusat. “Namun kedepan ini rencanya stasiun pusat di Jakarta akan dipindah ke Gorontalo. Sehingga kita sudah mandiri administrasi,” bebernya.(****)
