Hargo.co.id GORONTALO – Budidaya tanaman jagung dilaporkan belum banyak mendongkrak penghasil petani. Di sejumlah kelurahan di Limboto tanaman unggulan pertanian itu bahkan hanya dijadikan pakan untuk ternak. Rata-rata dijual sebelum waktu panen, yakni dalam bentuk batang dan buah.
“Kebetulan permintaan batang jagung cukup tinggi untuk pasokan kebutuhan pakan ternak,” kata Ato, pengusaha peternak sapi kurban, di Kelurahan Dutulaa, Limboto, kemarin.
Menurut Ato, dari sisi petani pilihan menjual tanaman jagung miliknya dalam bentuk batang lebih menguntungkan ketimbang menunggu waktu panen. Pasalnya, selain semua tanamannya bisa dimanfaatkan untuk banyak kebutuhan juga menekan biaya operasional kala melakukan panen.
“Dari sisi petani jelas lebih menguntungkan, tak ada limbah yang terbuang, dan semuanya dihitung. Batangnya bisa buat pakan ternak sapi, buahnya bisa dipasok ke pasar,” tambah Ato.
Sayang, pengusaha peternak yang juga mengaku menjadi pembeli tanaman jagung petani ini tak bisa memastikan harga jual tanaman jagung. Bisa lebih mahal, tapi juga murah. Dan biasanya, kata Ato, selain mengacu pada luasan lahan, juga sangat tergantung dari kondisi tanaman jagung. Penentu harga lainnya, tergantung pasar hasil transaksi plus keberuntungan.
Kebetulan saja belakangan banyak peternak yang membutuhkan pakan untuk usaha ternak kurban. Â “Kalau lagi beruntung, bisa saja lebih mahal. Dan itu tambah menguntungkan karena petani tidak harus mengeluarkan biaya untuk panen,” tandas Ato.(dix/hargo)
