Hargo.co.id – GORONTALO – Hal yang berbeda dilakukan oleh Polres Gorontalo Pada Ramadhan tahun ini. Mereka mengundang para tokoh agama untuk dimintai masukan dan harapan dalam menjaga kekhusyukan masyarakat dalam menjalankan ibadah Puasa.
Kapolres Gorontalo, AKBP Ahmad Pardomuan, SIK, MH menjelaskan, pihaknya sengaja mengundang beberapa tokoh agama untuk dimintai masukan terkait beberapa hal guna meminimalisir beberapa kejadian yang dapat mengganggu masyarakat dalam beribadah.
“Inilah pentingnya kami mengundang para ulama, yaitu mendengarkan masukkan dan harapan dari para ulama itu sendiri yang akan menjadi evaluasi serta perbaikan kinerja secara internal Polres Gorontalo guna terciptanya rasa nyaman dalam menunaikan ibadah puasa,” kata AKBP Ahmad Pardomuan, SIK, MH.
Dalam pertemuan tersebut, kata AKBP Ahmad Pardomuan, para tokoh agama mengharapkan agar pihaknya dapat menertibkan balap liar yang kerap terjadi di bulan ramadhan. Mereka juga mengharapkan tidak ada musik-musik yang akan mengganggu berlangsungnya kegiatan keagamaan.
Selain itu, kata AKBP Ahmad Pardomuan, Polres Gorontalo juga diharapkan untuk dapat menertibkan hal hal lain yang bisa mengganggu pelaksanaan ibadah seperti petasan yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat terutama anak-anak pada bulan Ramadhan.
“Biasanya ada tempat anak anak itu berkumpul dan memutar musik dengan suara yang dapat mengganggu pelaksanaan ibadah. Ada juga anak-anak yang asik bermain petasan di depan Masjid, hal ini sangat mengganggu dalam pelaksanaan ibadah seperti sholat tarawih maupun kegiatan-kegiatan agama lainnya,” katanya menerangkan.
AKBP Ahmad Pardomuan mengatakan, Pihaknya telah melakukan beberapa hal dalam rangka menindaklanjuti masukan dan harapan yang menjadi hasil pertemuan dengan para tokoh agama tersebut. Diantaranya dengan memetakan lokasi yang kerap terjadi hal hal tersebut.
“Masukkan-masukkan ini kemudian kami tindaklanjuti dengan membuat rencana-rencana kegiatan. Misalnya, kami memetakan lokasi dimana orang-orang akan melakukan balap liar, tempat berkumpulnya anak anak maupun lokasi lokasi yang tidak bisa ada suara suara petasan,” dirinya menandaskan. (***)
Penulis : Moh. Syahrin S. Ayahu *
*) Penulis adalah mahasiswa magang dari UNG
